30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Kebakaran Kejagung, Penegak Hukum yang Lalai Hukum

Oleh : Farida Nur Rahma, M.Pd

Api melahap gedung utama kejaksaan agung Jakarta Selatan seperti sulap melahap “kasus”, hilang tak berbekas. Kerugian materil mencapai Rp. 1,12 Triliun menurut Kompas.com (31/8/2020).

Semua pihak berharap penyebab kebakaran diusut secara transparan apakah ada unsur kesengajaan atau tidak. Karena berdasarkan catatan Kompas.com ada tiga kasus besar yang sedang ditangani Kejaksaan Agung. Yaitu kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero), dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan kasus dugaan pemerasan yang dilakukan oleh oknum Kejaksaan Negeri Indragiri Hulu, Riau.

ICW ( Indonesian Corruption Watch) pun melontarkan kecurigaan terhadap kebakaran Kejagung. ICW meminta KPK turun tangan menyelediki kasus ini untuk membuktikan apakah kelalaian murni atau ulah oknum tertentu menghilangkan rekam jejak kejahatan. ICW curiga terhadap kejagung mulai dari dikeluarkannya pedoman pemeriksaan jaksa,pemberian bantuan hukum kepada jaksa Pinangki sampai terbakarnya gedung Kejagung. Langkah ini menurut ICW menimbulkan sikap skeptisisme public (news.detik.com,23/8/2020)

Pakar Teknik Sipil Konsentrasi Manajemen Proyek Konstruksi Universitas Pelita Harapan (UPH) Manlian Ronald A .Simanjuntak mengatakan kebakaran yang terjadi di Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) menunjukan kegagalan sistem keselamatan yang sangat fatal (cnnindonesia.com,23/8/2020).

Kegagalan sistem keselamatan gedung Kejagung ini dipengaruhi dua fakor yaitu: kelalaian administrasi dan kelalaian teknis. Selain itu didukung oleh kegagalan sistem proteksi aktif dan sistem proteksi pasif. Hal ini dilihat dari tidak berfungsi maksimalnya hidran gedung dan hidran halaman. Ini mengakibatkan tim pemadam kebakaran sulit memadamkan api karena sumber air tidak maksimal. Begitu pula dengan arsitektur gedung yang tidak mampu mengarahkan dan mematikan api. Terbukti dengan jilatan api yang cepat menyebar dari atas kebawah secara horizontal. Maka, harus dicek adminitrasi seritifikat layak fungsi. Sehingga terdeteksi keberfungsian sistem keselamatan gedung yang berumur 40 tahun tersebut.

Hal senada diungkapkan Pakar fire safety dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Fatma Lestari. Bahkan ia memperingatkan bahwa kasus kebakaran Kejagung harus jadi “wake up call “untuk segera melakukan audit keselamatan kebakaran terhadap gedung-gedung milik pemerintah. Karena selama ia mengaudit sistem keselamatan kebakaran, 70% gedung pemerintah tak penuhi standar keselamatan kebakaran (bbc.com,25/8/2020).

Direktur Bina Penataan Bangunan Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti, menampik penilaian pakar fire safety, walaupun tidak dapat menyangkal bahwa anggaran untuk sistem keselamatan gedung sering tak dialokasikan. Sehingga alat proteksi aktif kadang tidak tersedia.

Pandangan Islam tentang Keselamatan

Dalam tataran syariat keselamatan jiwa adalah hal utama. Fasilitas yang mendukung kinerja pemerintah dalam mewujudkan kemaslahatan umat adalah prioritas. Maka sarana dan prasarana yang menjamin kedua hal tersebut tentu akan menjadi anggaran yang wajib dialokasikan. Kelalaian dalam penjaminan keselamatan jiwa dan kemaslahatan umat adalah kejahatan.
Hal menarik yang wajib disorot adalah pengaturan sistem keselamatan gedung telah tertuang dalam Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002, Perda DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2008 dan Nomor 7 Tahun 2010. Namun, ternyata pemerintah sendiri lalai taat terhadap aturan yang dibuatnya sendiri. Bahkan menurut pakar fire safety justru gedung-gedung swasta lebih tertib dan taat pengadaan sistem keselamatan kebakaran gedung. Sebagai rakyat tentu kita menyesalkan terhadap fakta ini. Apalagi Allah Swt berfirman

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al Baqarah: 44).

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author