25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Perempuan dalam Ambigu Peran

Oleh: RAI Adiatmadja
Founder Komunitas Menulis Buku Antologi

Wajah kehidupan begitu menyeramkan. Di saat tatanan tidak sepadan dengan aturan Tuhan. Pelanggaran kodrat, tiada adab akan sakralnya syariat. Sistem yang rusak berhasil mencerabut nilai-nilai taat, hingga ketimpangan demi ketimpangan lahir, buah dari kebijakan yang teramat pandir. Keluarga bukan lagi menjadi basis kuatnya generasi, kaum laki-laki dimandulkan kedudukannya menjadi figur yang kerap tidak berarti, pun perempuan yang terseret dalam arus liberalisme kehilangan ritme sebagai pembentuk ketangguhan buah hati–para calon generasi terbaik. Fenomena istri memiliki dua suami bukan lagi sekadar hoaksnya informasi, tetapi fakta yang mengungkap data.

Melansir dari REPUBLIKA.CO.ID, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menteri PANRB), Tjahjo Kumolo, mengungkapkan adanya fenomena baru pelanggaran yang dilakukan oleh Aparatur Sipil Negara (ASN). Fenomena tersebut berupa ASN perempuan yang memiliki suami lebih dari satu atau poliandri.
Diungkapkan Tjahjo saat memberikan sambutan di acara peresmian Mal Pelayanan Publik (MPP).

“Saya juga pernah memutuskan perkara pernikahan tetapi ASN wanita yang punya suami lebih dari satu. Ini fenomena baru, ini kan sesuatu yang repot kalau ada pengaduan dari suami yang sah dan didukung oleh pengaduan pimpinan, ini tren baru, karena biasanya laporan yang masuk itu kasus poligami,” ungkapnya.

Menurutnya, kasus tersebut hanya salah satu contoh. Dia menyebut, dalam satu tahun ini ada sekitar lima laporan kasus poliandri. Setiap bulan, Kementerian PANRB bersama Badan Kepegawaian Nasional (BKN) hingga Kementerian Hukum dan HAM menggelar sidang untuk memutuskan perkara pelanggaran ASN, termasuk masalah keluarga tersebut.

Poliandri adalah gambaran dari jiwa dan aturan yang jika dianalogikan sebagai penyakit, tentu sudah kronis dan stadium akhir. Fakta ASN perempuan itu hanya cuatan kecil di permukaan, di bagian lain bisa dipastikan bahwa kerusakan sudah menjalar dan mengoyak tatanan keluarga. Nasab menjadi tidak jelas. Gaung poliandri sudah semakin tegas diusung oleh kaum feminis dan para penggagas, bahwa poliandri adalah tuntutan atas kesetaraan gender, membuktikan pemahaman yang semakin keblinger.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Pernyataan ‘laki-laki dibolehkan menikahi empat orang wanita, tetapi wanita tidak dibolehkan menikahi lebih dari satu laki-laki’.

Ini adalah salah satu bentuk kesempurnaan sifat dari Allah Ta’ala kepada mereka. Juga bentuk ihsan dan perhatian yang tinggi terhadap kemaslahatan makhluk-Nya. Allah Mahatinggi dan Mahasuci dari kebalikan sifat tersebut. Syariat Islam pun disucikan dari hal-hal yang berlawanan dengan hal itu. Andai wanita dibolehkan menikahi dua orang laki-laki atau lebih, maka dunia kan hancur. Nasab pun jadi kacau. Para suami saling bertikai satu dengan yang lain, kehebohan muncul, fitnah mendera, dan bendera peperangan akan dipancangkan.” (I’laamul Muwaqqi’in, 2/65)

Saat kriminalisasi terhadap gaung sistem Islam disuarakan di tiap media. Bahkan tak ketinggalan media massa dan media sosial ikut menyumbang peran. Hal ini ternyata problematika semakin kuat menghantam esensi keluarga, membuktikan bahwa negara tak sanggup mengelola.

Poliandri semakin mencuat karena jaminan dan penjagaan terhadap kaum perempuan minim adanya. Dari masalah ekonomi hingga eksistensi, perempuan menjadi dagangan dan eksploitasi. Sehingga lemahnya pemahaman menyeret kaum Hawa pada pelanggaran-pelanggaran syariat yang luar biasa memperjelas arus maksiat.

Sekalipun dunia memungkiri dan bahkan membunuh eksistensi sistem Islam yang integral, tetapi hakikatnya kebutuhan umat semakin mendesak. Sebab urgensi sistem Islam akan mengembalikan peran perempuan ke ranah yang semestinya. Yakni menjalani kehidupan Islam yang kafah, taat kepada suaminya, mengasuh dan mendidik anak-anak, berpartisipasi dalam kehidupan umat, tegas membela keadilan, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari perbuatan mungkar, dan turut melakukan muhasabah pada penguasa.

Pemahaman sekuler hari ini telah membentuk perempuan yang dikatakan hebat, tetapi lupa akan kodrat. Sesungguhnya nilai istimewanya seorang hamba terletak pada takwa. Tak peduli jabatan dan titel melangit, jika melupa aturan-Nya, tentu konsekuensinya adalah berdosa.

Antara laki-laki dan perempuan memang sama sebagai makhluk, tetapi tetap saja ada peranan yang berbeda sehingga bisa saling melengkapi biduk. Laki-laki memimpin–perempuan khidmat terpimpin, laki-laki menjaga di depan–perempuan mengikuti sebagai cerminan, laki-laki pemilik qawwam–perempuan menguatkan agar keseimbangan tidak karam.

Sistem Islam yang kompatibel dengan syariat Islam akan mampu membentuk pemikiran perempuan memiliki pemahaman yang shahih bahwa poligami dan poliandri tentulah tidak setara. Poligami adalah bagian dari syariat, sedangkan poliandri adalah wujud maksiat.

Dalil Al-Qur’an menunjukkan kategori perempuan yang tidak boleh/ haram dinikahi.

“Dan (diharamkan juga atas kalian menikahi) perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu.” (QS. an-Nisa: 24)

Ini menjadi bagian yang tidak bisa dimungkiri sebagai kegagalan penguasa dalam menjaga rakyatnya. Kerusakan nasab selain disebabkan adanya poliandri, perzinaan pun marak di mana-mana, sehingga generasi semakin kehilangan arah.

Islam mengatur dengan proporsional segala kebutuhan kaum perempuan. Negara menjamin dalam bidang pendidikan dan pekerjaan karena menuntut ilmu adalah kewajiban semua insan, bekerja menyampaikan ilmu pengetahuan serta menerapkan pemahaman yang dimiliki pun adalah kewajiban.

Muslimah yang berpendidikan tinggi akan menjadi sumber pengetahuan pertama bagi anak-anaknya. Sejarah institusi Islam menorehkan kontribusi perempuan dalam peradaban.
Seperti Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq, mendapat gelar ‘faqihut ul ummah (ahli hukum dalam umat) karena pengetahuan hadis dan keahliannya dalam hukum Islam, Labana dari Cordoba adalah seorang ahli matematika dan sastra di abad ke-10 yang mampu memecahkan masalah geometri dan aljabar, pekerjaannya sebagai sekretaris Khalifah Al-hakeem II, Mariam “al-Asturalabi” Al- Ijilya seorang ilmuwan, pun Lubna dari Andalus penyair dan unggul dalam tata bahasa.

Semua catatan sejarah membuktikan bahwa sistem Islam tidak menindas kaum perempuan seperti yang dikatakan penjaja feminisme yang terus menyuarakan kesetaraan.
Bukan hanya dalam bidang pendidikan dan pekerjaan, terkait di pemerintahan, kehidupan keluarga, hukum, dan hijab, pemerintah Islam memiliki kewajiban memfasilitasi semua dengan maksimal. Sehingga perempuan benar-benar dihargai dan dimuliakan sesuai kodratnya dan itu diakui serta diemban oleh negara.

Ketahanan keluarga lemah dikarenakan ketiadaan institusi yang menerapkan Islam secara kafah. Kerusakan dan pelanggaran aturan kian bervariasi, menyeret umat Islam pada kondisi yang semakin terbelakang. Kemajuan teknologi hari ini tidak menciptakan SDA yang mumpuni dan islami. Akan tetapi semakin menyeret pada putaran liberalisasi. Jika bukan kita yang menyuarakan urgensi penerapan Islam kafah, lantas siapa lagi?

Wallahu a’lam bishawab

About Post Author