06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Kontroversi Tren Poliandri di Masa Pandemi

Oleh : Heni Andriani
Ibu Pemerhati Umat

“Tiada kemuliaan tanpa Islam
Takkan tegak Islam tanpa syariat
Tiada syariat tanpa daulah
Daulah khilafah rasyidah “

Petikan nasyid di atas menggambarkan bagaimana ketika hukum syariat tidak ditegakkan secara kafah. Kekacauan, kesengsaraan bahkan semakin menjauhnya umat dari syariat. Akibatnya banyak hukum syariat yang terlalaikan bahkan diotak atik seenak hati mengikuti hawa nafsu.

Hal inilah yang terjadi di masa pandemi banyak ASN (wanita) yang melakukan poliandri alias perempuan dengan memiliki lebih dari satu suami. Seolah mereka berkata bahwa “kenapa laki-laki bisa poligami sementara kami kaum perempuan tidak? “

Paham emansipasi yang merupakan turunan dari feminisme dan liberalis telah merasuk ke dalam pikiran mereka. Hal ini bisa terjadi akibat getolnya para pegiat gender dan feminis . Mereka berupaya menjauhkan ajaran Islam yang mulia. Entah berapa banyak korban berjatuhan dan menipisnya keimanan akibat racun akidah ini.

Mereka mengoyak -oyak ajaran Islam tanpa henti .Salah satunya tren poliandri di kalangan ASN wanita yang memiliki lebih dari satu suami. Bahkan menurut Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahyo Kumolo telah menerima lima laporan kasus poliandri ASN. (Www.kompas.com 30/8/2020)

Entah berapa kasus yang belum terkuak ke permukaan.Masalah poliandri sebenarnya telah diatur dalam aturan UU No 1 tahun 1975. ASN dilarang melakukan poligami yaitu seorang laki-laki mempunyai lebih dari satu istri, dan poliandri yaitu seorang perempuan memiliki suami lebih dari satu.

Disebutkan pula pada Pasal 3 UU Nomor 1 Tahun 1974 disebutkan bahwa pada asasnya seorang pria hanya boleh memiliki seorang istri dan seorang wanita hanya boleh memiliki seorang suami. 

Sedangkan untuk pria yang melakukan poligami wajib mengajukan permohonan ke pengadilan di daerah tempat tinggalnya. Namun, tidak disebutkan aturan lebih lanjut mengenai poliandri.

Ada beberapa alasan perempuan yang melakukan poliandri. Kemandirian dan emansipasi menjadi alasannya . Yakni perempuan merasa punya kewenangan dalam menentukan sikap. Bahkan Menurut Sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Drajat Tri Kartono, pada jenis poliandri non legal atau ia sebut sebagai poliandri sosiologis, ada sejumlah kemungkinan faktor penyebabnya.

“Di kajian saya, ini terkait dengan semakin berkembangnya yang disebut otonomi perempuan. Di mana perempuan itu punya kemampuan ekonomi, dia bekerja, dia punya pendapatan,” kata Drajat kepada Kompas.com, Minggu (30/8/2020) malam.

Namun, sejujurnya apapun alasannya poliandri dilarang oleh semua agama dan tentunya tidak akan membawa kemaslahatan bagi manusia.
Fakta ini pula menjadi bukti bahwa sistem demokrasi sekularisme tidak mampu menyelesaikan permasalahan manusia. Berbagai kasus terus bermunculan tiada henti ketika pun solusi hanya tambal sulam semata.

Pandangan Islam tentang masalah Poliandri

Islam telah memberikan rambu-rambu terkait masalah poliandri adalah sesuai dengan ketentuan yang telah Allah jelaskan dalam Kitab Suci Al-Qur’an pada QS An-nisa’ ayat 23-24.

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu” (QS. An Nisaa: 23-24)

Bahkan dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan makna وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاء

“Diharamkan bagimu menikahi para wanita ajnabiyah yang muhshanat yaitu yang sudah menikah”. Ibnu Katsir juga membawakan riwayat yang menjelaskan sebab turunnya ayat ini:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: أَصَبْنَا نِسَاءً مِنْ سَبْيِ أَوْطَاسَ، وَلَهُنَّ أَزْوَاجٌ، فَكَرِهْنَا أَنْ نَقَعَ عَلَيْهِنَّ وَلَهُنَّ أَزْوَاجٌ، فَسَأَلْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، فَنَزَلَتْ هذه الآية: {وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ} [قَالَ] فَاسْتَحْلَلْنَا فُرُوجَهُنَّ

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata: “Kami mendapat wanita dari suku Authas yang ditawan, para wanita itu memiliki suami lebih dari satu. Kami enggan bersetubuh dengan mereka karena mereka memiliki suami. Kamipun bertanya kepada Rasulullah SAW. lalu turunlah ayat (yang artinya) ‘Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki‘. Dengan itu kami pun mengganggap mereka halal dicampuri” (Tafsir Ibni Katsir, 2/256)

Dalil di atas menjadi kejelasan tentang bahwa poliandri diharamkan yang tidak boleh dilanggar. Selain itu pula poliandri dapat mengacaukan nasab manusia. Karena dalam Islam anak dinasabkan pada ayahnya. Perkara nasab begitu penting karena untuk mengatur dalam berbagai urusan seperti halnya perwalian, waris dsb.

Oleh karena itu, sudah seharusnya sebagai seorang muslim ketika Allah dan RasulNya melarang adalah tunduk dan taat. Hal ini sebagai bentuk keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.

Tak patut pula paham feminisme dan kesetaraan gender dijadikan sebagai pijakan hidup. Karena paham tersebut hanya akan membawa kesengsaraan bagi manusia.

Hanya dengan menjadikan Islam kafah sebagai standar hidup dan solusi kehidupan dimana kebahagiaan akan teraih.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author