30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Realitas PJJ, Antara Hak Pendidikan dan Risiko Kesehatan

Oleh : Inggit Octriani SPd. Si

Pendidikan adalah kebutuhan setiap warga negara, maju tidaknya sebuah tatanan masyarakat, ditentukan oleh pendidikannya. Hal ini juga tercantum dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat 9 (1) Setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan.

Tongkat estafet perubahan suatu bangsa ke arah yang lebih baik, akan dipegang generasi selanjutnya. Tentu, generasi yang diharapkan  adalah generasi yang kuat, cerdas, dan bertakwa. 

Masalah pendidikan tidak boleh berhenti, walau dalam kondisi pandemik. Karena kondisi saat ini masih terus berlangsung, sudah 7 bulan kita dalam masa pandemik. Dan kasus semakin meningkat per bulan September 2020 menjadi 221.523. 

(nasional.kompas.com14/09/2020)

Menilik program PJJ

( Pembelajaran Jarak Jauh) yang di gulirkan pemerintah oleh menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim, mengatakan bahwa evaluasi pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama masa pandemi corona ini menunjukkan hasil yang variatif di setiap daerah. Ada yang berjalan efektif dan sebaliknya.

Nadiem menjelaskan di beberapa daerah, khususnya terpencil dan tertinggal, kendala utama siswa dalam PJJ ini adalah akses internet. Namun secara nasional mayoritas siswa di Indonesia sudah bisa menikmati layanan internet.

Nadiem mengakui jika pelaksanaan PJJ selama beberapa bulan ini tidak efektif. Ia menyatakan setuju terhadap semua kritik yang dialamatkan ke kementeriannya terkait PJJ ini. “Tapi enggak ada opsi lain saat ini,” ujar dia. (www.msn.com 11/07/2020)

Nasib Pendidikan Saat ini

Babak baru pendidikan di Indonesia terutama saat ini ketika mengalami kondisi pandemik tentu tidaklah mudah. Kemajuan teknologi akhirnya menjadi ujung tombak, pembelajaran daring. Seperti salah satunya yang dilakukan oleh pemerintah yaitu kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyediakan aplikasi dan laman Rumah Belajar sebagai sarana pendukung belajar di rumah.
Tak hanya itu, setidaknya ada 12 aplikasi pembelajaran daring gratis yang bekerja sama dengan Kemendikbud. Harapannya pembelajaran tatap muka dari guru dapat tergantikan.
Namun kenyataan dilapangan, penuh dinamika dan warna. Banyak guru dan murid gagap mengahadapi pembelajaran jarak jauh. Apalagi kondisi ekonomi yang semakin sulit, memperuncing kondisi ini.

Kuota gratis yang dibagikan pemerintah, ternyata tak cukup menolong karena beban tugas yang banyak juga kondisi daerah yang beragam, sehingga lemahnya sinyal sangat mempengaruhi proses belajar mengajar.
Menurut KPAI, sistem belajar di rumah yang diterapkan sekolah tidak efektif karena belum ada pemahaman yang baik oleh para guru.
(www.cnnindonesia.com/nasional 19/03/2020)

Lalu, bagaimana nasib pendidikan saat ini, padahal belajar adalah suatu keharusan. Mampukah negeri ini melalui semua, dengan tetap mengedepankan pendidikan dan juga menjaga kesehatan generasi saat ini?

Berikut sebagian catatan, problem yang dihadapi saat ini.

Kompetensi guru

Kecakapan guru dalam menangani murid sangat mempengaruhi proses belajar mengajar. Gagapnya guru melakukan pendekatan pada peserta didik di masa pandemik, menjadi sorotan saat ini. Kondisi mental peserta didik saat ini sangat berbeda dengan kondisi belajar di sekolah. Guru pun dituntun tetap bisa menjadi pendamping yang baik, tidak hanya didampingi oleh orang tua di rumah.
Guru pun mengalami dilema yang sama, tuntutan administrasi dan kondisi perekonomian saat ini menuntut guru bekerja cepat dan hanya melihat nilai secara kognitif saja. Sehingga waktu pun sangat tersita, sehingga pendekatan terhadap peserta didik sangat minim.

Beban kurikulum

Kurikulum yang banyak dan padat menjadikan kebingungan yang luar biasa bagi guru, murid dan orang tua murid. Selama ini kurikulum pendidikan tak memberi ruang cukup bagi pembentukan kepribadian dan life skill. Meski dalam Kompetensi Inti (KI) dimasukkan Spiritualitas. Faktanya, hanya dalam Pendidikan Agama Islam saja hal itu nampak. Itu pun lebih menonjolkan teori daripada pembentukan sikap.

Ini terjadi, karena landasan pendidikan sekuler saat ini, lebih fokus kepada pencapaian nilai dan secara langsung mengabaikan faktor pembentukan kepribadian Islam pada peserta didik.

Kekagetan guru dan murid pada masa pandemik, semestinya bisa diminimalisir. Tapi di sistem kapitalis sekarang, jelas terlihat hanya orang – orang yang berkantung tebal, yang bisa mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh secara santai, sedang masyarakat berekonomi lemah, sungguh terseok – seok menghadapi cara belajar saat ini.

Rusaknya Sistem Kapitalis

Selain dari lemahnya kompetensi guru dan faktor beban kurikulum, faktor ekonomi pun memberikan sumbangsih yang tak kalah penting.
Kondisi politik negara yang lemah, ekonomi yang rapuh sangat mempengaruhi penanganan wabah saat ini, yang akhirnya berimbas pada sektor pendidikan.

Rendahnya anggaran pendidikan yang digulirkan semakin membuat kondisi semakin sulit, karena rakyat dituntut mandiri untuk menanggung biaya pendidikan. Sudahlah sulit memikirkan biaya makan dan biaya dasar lainnya. Biaya pendidikan jarak jauh pun menambah beban pikiran masyarakat saat ini. Tak ayal nasib pendidikan di masa kapitalis saat ini di ujung tanduk, di mana banyak peserta didik yang semakin sulit mengakses dan menyerap pendidikan secara maksimal.

Pendidikan pada masa wabah dalam Khilafah

Dalam kondisi wabah, Islam menetapkan kebijakan lockdown atau karantina wilayah. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya,

“Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya.” HR Imam Muslim).

Pondasi yang diemban oleh negara khilafah adalah akidah Islam, yang akan disebarkan ke seluruh masyarakat . Ketika hal ini dilakukan guru dan orang tua akan mempunyai pandangan yang sama, pemikiran yang sama juga kesadaran yang sama berdasarkan perintah Allah dan larangan Nya.

Sehingga pembelajaran jarak jauh akan mudah dilakukan dan ringan walaupun jarak jauh, sebab adanya sinergi yang kuat antara guru dan orang tua dalam proses pembelajaran.

Guru walau jarak jauh memiliki komitmen yang tinggi atas dorongan ketakwaan, begitu juga orang tua. Bahu membahu demi ketakwaan peserta didik.
Kurikulum yang berasarkan akidah Islam juga merupakan pijakan yang kuat, di mana fokus pembelajaran jarak jauh tidak melulu soal nilai kognitif tapi juga membentuk kepribadian Islam dan membentuk murid menjadi hamba Allah yang sesungguhnya. Mengembalikan fitrah manusia yang sesungguhnya.

Terakhir, kuatnya politik dan ekonomi negara khilafah adalah pondasi yang kokoh, sehingga teknologi bisa berjalan terdepan.

Dalam sejarah, selama 14 abad, khilafah selalu terdepan dalam hal penguasaan ilmu sains dan teknologi.
Para orang tua dan guru pun tidak akan kewalahan, karena pada masa lockdown adanya penjaminan terhadap kesehatan juga jaminan terhadap kebutuhan dasar. Semua berjalan dengan sinergis karena fungsi negara yang utama adalah sebagai perisai bagi rakyatnya.

 “Sungguh Imam (Khalifah) itu laksana perisai (junnah); orang-orang berperang mengikuti dia dan berlindung kepada dirinya” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author