04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Ganja jadi Komoditas Obat , Generasi makin rusak Berat

Heni Andriani Ibu Pemerhati Umat

Entah apa dengan pemangku kekuasaan di negeri ini selalu menuai kontroversi. Seolah tak ingin negeri ini damai, selamat dari berbagai masalah. Masa pandemi menjadi lahan empuk untuk menumpuk oligarki kekuasaannya. Radikalisme yang terus digoreng, Kalung corona, bahkan sesuatu yang dilarang oleh umat Islam bahkan secara kesehatan pun diabaikan yaitu ganja yang akan dijadikan komoditas obat. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) No 104/2020. Kemenpan telah mencabut sementara terkait kontroversi masuknya ganja (Cannabis sativa)sebagai salah satu komoditas binaan pertanian.

Jika ditelisik perihal ini bukan hal yang baru karena ganja sudah ada dalam daftar binaan Kepmentan No 51/2006. Pengaturan ganja sebagai kelompok komoditas tanaman obat, hanya bagi tanaman ganja yang ditanam untuk kepentingan pelayanan medis dan atau ilmu pengetahuan, dan secara legal oleh Undang-undang (UU) Narkotika. Bahkan Menteri Pertanian memutuskan untuk mencabut sementara Kepmentan No 104/2020 dan segera melakukan koordinasi dengan lembaga terkait. Kemetan akan secara aktif  melakukan edukasi bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) terkait pengalihan ke pertanian tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan, di daerah-daerah yang selama ini menjadi wilayah penanaman ganja secara ilegal. Meski ganja secara umum adalah barang terlarang, tetapi ya itu tadi, bisa menjadi legal asal untuk tujuan tertentu. Buktinya, Badan Pusat Statistik (BPS) punya catatan ekspor-impor produk turunan tanaman yang punya nama julukan cimeng tersebut.

Sementara itu menurut Direktur Sayuran dan Tanaman Obat kementan Tommy Nugraha, pengaturan ganja sebagai kelompok komoditas obat, hanya dilakukan bagi tanaman ganja yang ditanam untuk kepentingan pelayanan medis dan atau ilmu pengobatan, dan secara legal oleh UU Narkotika. Akan tetapi menurutnya sampai saat ini belum dijumpai satu pun petani ganja yang menjadi petani legal, dan binaan kementerian. Maka Kepmentan Nomor 104 Tahun 2020, tentang pemberian izin usaha budidaya tanaman yang telah diterbitkan, akan dicabut dahulu dan direvisi dan berkordinasi dengan stakeholder terkait .(KOMPAS.com, 30/8/2020). Sungguh ironis negeri yang mayoritas muslim ini harus bergantung dalam hal kesehatan kepada tanaman yang sudah dilarang dan membahayakan. Hanya karena ada profit yang bisa diraih. Padahal seharusnya pemerintah ketika mengeluarkan kebijakan ini dilihat efek negatifnya bagi masyarakat. Toh ketika sekarang pun belum dilegalkan sudah banyak korban yang berjatuhan. Tak terbayang apabila tanaman ganja ini sudah dilegalkan. Di dunia ada sekitar 11 negara yang melegalkan ganja ini dan apabila dilihat dari segi keuntungan memang sangat menggiurkan. Padahal jika kita telisik kemudharatan bagi tubuh sangat luar biasa. Bahaya narkoba terhadap fisik Gangguan pada system syaraf (neurologis) Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) Gangguan pada kulit (dermatologis) Gangguan pada paru-paru (pulmoner) Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan insomnia. Hal ini membuktikan bahwa sistem kapitalis hanya memandang dari segi keuntungan semata. Tak peduli hal tersebut akan merusak generasi. Sistem kapitalis memandang kehidupan dari banyaknya materi maka hal yang wajar jika sistem menihilkan nilai-nilai akhlak dan moral. Pandangan Islam tentang Ganja Islam sebagai landasan hidup seorang muslim tentu yang akan dipikirkan sebelum melakukan sesuatu boleh atau tidaknya hukum syarat terhadap benda atau aktivitas tersebut. Hal ini pula menjadi pijakan bagi negara yang menerapkan hukum Islam. Sekalipun ganja banyak memberi keuntungan bagi pemasukan tidak akan diambil. Negara Islam berpatokan terhadap hukum syara yaitu dalil Alquran  Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ Artinya: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS Al Baqarah: 195) وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS An Nisa: 29) Dua ayat tersebut menunjukkan haramnya merusak atau membinasakan diri sendiri. Narkoba sudah pasti memberikan dampak negatif terhadap tubuh dan akal seseorang. Sehingga dari ayat inilah dapat dijelaskan bahwa narkoba haram. Dengan demikian sistem Islam tidak akan menjadikan tanaman yang diharamkan untuk dijadikan komoditi. Hal ini terjadi karena penguasanya memiliki ketakwaan kepada Allah Swt. Selain itu penguasa dalam sistem Islam takut terhadap siksa di akhirat jika tidak amanah serta tidak menjalankan seluruh hukum syara. Tentu hal tersebut menjadi dambaan bagi setiap muslim mendapati pemimpin yang bertakwa, amanah dan sayang rakyat. Mustahil mendapatkan penguasa seperti ini di sistem demokrasi.Semua bisa terwujud dalam sistem Islam yaitu khilafah.  

About Post Author