06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Mengkaji Permasalahan Sosial dalam perspektif pemahaman Theori ESM OST- JUBEDIL (by: ibet)

Permasalahan Sosial merupakan masalah yang akan berdampak besar pada banyak bidang yang tidak akan pernah selesai selama masih berjalannya kehidupan di dunia. Karena hidup bersosial merupakan satu ciri makhluk hidup yg merealisasikan segala sikap dan perbuatannya melalui jaringan kehidupan bersosial. Dengan demikian sejatinya makhluk hidup adalah yang mampu memberi manfaat kehidupan untuk dirinya sendiri dan orang lain. Disinilah kita dibutuhkan kekuatan sebagai power be self untuk dapat memberi manfaat tersebut. Manusia sebagai makhluk hidup yg paling di muliakan ALLOH SUBHANAHU WATA’ALA diantara makhluk lainnya dengan kelebihan akal/pikiran, serta keinginan. Dengan akal/pikiran serta keinginan yang merupakan modal untuk menggapai cita2, harapan serta tujuan hidupnya. Dalam 2 karakter pemikiran manusia sebagai arah/tujuan hidup yang diambil sebagai keputusan yaitu antara positif dan negatif. Kedua sipat yg berlawanan tersebut merupakan 2 dimensi yang secara alami akan berdampingan selama manusia itu sendiri tidak memisahkannya. Karena 2 sipat/karakter pemikiran yg berlawanan (positif dan negatif) akan dapat terpisah tergantung dari niat tujuan arah manusia itu sendiri. Dengan demikian sangat relatif jika menilai positif dan negatif dalam hasil pemikiran sebagai nilai akhir, karena cara berpikir manusia akan ada sebab dorongan dari seberapa besar niat serta tujuannya, dan jalan mana arah yang akan diambil sebagai prosesnya untuk mencapai tujuannya disesuaikan sisi baik dan buruk, plus minus yg ada pada diri manusia itu sendiri secara alamiah. Terkadang manusia kan mengganggap dirinya hebat disaat dia sudah mampu memberi. Dan seketika itu pula manusia kan menganggap dirinya lemah/banyak kekurangan pada saat kegagalan dia alami. Dan itu merupakan hal yg wajar dirasakan manusia dalam berperasaan. Meskipun keduanya dapat dirasakan secara sadar atau tidak ternyata manusia itu memiliki tingkat egosentris lebih tinggi dibanding makhluk lainnya. Karena ke AKU an pada diri manusia berdasar tingkat nafsunya. Jiwa ambisius, tendensius dan perfecksionis itu fleksible, karena dapat dikendalikan dengan seberapa besar tingkat dasar keimanannya dalam mengaplikasikan segala niat tujuan hidupnya dalam memberi dan menerima hasil berikhtiar dengan penuh kesadaran dan keyakinan yang besar untuk dapat berusaha menjadi lebih baik dan benar terlepas dari seberapa hasil yg didapat. Jika kita siap menang berarti harus siap menerima kekalahan, namun sangat jarang itu dapat diterima manusia karena akal pikiran akan terus menguasainya dalam tingkatan nafsunya, kecuali tendensi kekuatan niat ibadah selalu dikedepankan dalam segala urusannya.
ALLOH SUBHANAHU WATA’ALA berfirman dalam QS. 102 (At-Takasur) ayat 1 s/d 8, yang artinya : *(1). Bermegah megahan telah melalaikanmu. *(2). Sampai kamu masuk ke dalam kubur. *(3). Sekali kali tidak ! kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu. *(4). Kemudian sekali kali tidak ! Kelak kamu akan mengetahui. *(5). Sekali kali tidak ! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti. *(6). Niscaya kamu benar benar akan melihat neraka Jahim. *(7). Kemudian kamu benar benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri. *(8). Kemudian kamu benar benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).*

Dengan demikian, Berpikir secara obejktif tidak akan pernah ada jika manusia masih memiliki tendensi nafsu serakah di awal niatnya, sehingga sistem kan dapat dia jalankan sesuai keinginannya tanpa ada toleransi pada banyak hal yang ada di sekitarnya. Dan permasalahan itulah yang banyak menyebabkan akan sangat jauh utk manusia itu sendiri dapat berlaku Jujur Benar dan Adil.
Dalam hal berpikir alangkah lebih baiknya kita bersandar pada Alqur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup umat yang Maha Kaya dan Maha Sempurna dengan segala ilmu, yang berhubungan dengan segala perintahNya, laranganNya, ajakanNya untuk segala tatanan aturan kehidupan bersosial masyarakat, politik, ekonomi dan tuntunan fikih untuk beribadah umat Islam.
Kembali pada permasalahan sosial yang tidak akan pernah selesai selama hidup di dunia dan yang akan di pertanggungjawabkan di akherat kelak, yang sudah menjadi kewajiban semua umat untuk sesama manusia, tidak akan menjadi beban berat jika semua umat manusia sadar bertanggung jawab. Dengan demikian, menurut sy berdasar pada pemahaman Theori ESM OST- JUBEDIL, ada 3 fase tingkatan proses dan solusi untuk kehidupan bersosial sebagai tanggungjawab bersama untuk permasalahan luas menyangkut segala hal dalam tujuan bersama, juga tanggungjawab secara individu pada dirinya sendiri di dunia dan akherat, demi mencapai perubahan kondisi buruk menjadi lebih baik yg lebih terikat pada faktor pemahaman cara berpikir manusia yang timbul karena adanya faktor penyebab dari eksistensi sekelompok manusia dan faktor umum yang terkait masalah sosial (pribadi dan banyak orang) yang akan berdampak pada lingkungan atau masyarakat luas yang berhubungan dengan banyak kasus permasalahan sosial yang sangat rawan di tengah masyarakat dan pemerintahannya. Bahkan dapat mengancam masa depan bangsa dan negara. Seperti adanya kasus korupsi, kolusi dan nepotisme dalam jabatan dan pencapaian karier dalam satu pemerintahan atau perusahaan, Adanya kasus pelecehan seksual, Adanya kasus penista agama, Kasus diskriminasi golongan umat beragama, tempat peribadahan, Alquran dan ulama, Kasus besar perubahan undang2 negara, kasus penganiayaan dan diskriminasi para buruh dan ulama, adanya kasus Narkoba, Anak telantar, Jompo telantar, penyandang Disabilitas telantar dan banyak lagi yang lainnya, Adalah sebagai berikut:
1). FASE SADAR IMAN DAN TAQWA
Yaitu peran penting yang harus ada pada setiap individu dalam menjalankan segala langkah serta tujuan hidup yang wajib kita miliki sepenuhnya. Karena sebab akibat munculnya permasalahan merupakan berawal dari seberapa besar tingkat kesadaran, keimanan dan ketaqwaan manusia itu sendiri menjalani proses mencapai tujuannya. Sehingga tingkat stressing dapat lebih berkurang dan dapat lebih meningkatkan ketenangan, sabar, tawakal dalam jalani proses hidup dengan tetap berdo’a dan ikhtiar.
2). FASE BERPIKIR.
Yaitu keterikatan manusia dalam berprilaku ada kecenderungan dalam cara/pola pemikirannya yang dijadikan acuan segala realisasi tujuannya. Karena baik dan buruk seseorang, maju dan mundurnya sebuah organisasi, perusahaan atau pemerintahan itu tergantung dari pola berpikir manusianya itu sendiri. Karena manusia sebagai sumber adanya sistem, sebagai pembuat sistem, yang menjalankan sistem, serta yang kemudian hasilnya utk manusia itu sendiri. Jadi bagaimna sistem tidak akan hancur jika pembuat sistemnya sendiri pemikirannya hancur/acak- acakan/ngaco, atau OON (menurut istilah bang ESM).
Oleh sebab itu, tetap Fase berpikir cerdas, kreatif dan inovatif sangat dibutuhkan manusia dalam menjalani proses mencapai tujuan setelah fase sadar Im-Taq itu ada. Karena berpikir merupakan aplikasi dari Im-Taq yg dimiliki.
Belajar untuk memahami, Memahami untuk meyakini, Meyakini untuk memperjuangkan
Itu sebagai tahapan berpikir secara Objektif, Sistematis dan Toleran. Insya ALLOH dapat menjadikan manusia Jujur Benar dan Adil.
3). FASE BERTANGGUNG JAWAB.
Fase ini merupakan fase proses individu sebagai panggilan jiwa/ nurani kepedulian secara pribadi atau bersama. Dan fase proses bersolusi yang berhubungan dengan nurani ini saya bilang satu hak pribadi yang wajib dilakukan demi kebaikan dan kemajuan bersama. Karena panggilan jiwa/nurani itu kan datang dengan sendirinya yang diberikan ALLOH SUBHANAHU WATA’ALA sebagai hidayah pada manusia, yang tidak semua orang memilikinya. Karena sikap tanggungjawab kan berhubungan erat dengan keikhlasan. Sedangkan ikhlas itu sulit utk di definisikan secara kalimat, namun hanya bisa dirasakan dan berusaha dijalani. Seperti definisi rasa asin, tidak dapat di sampaikan dalam bentuk definisi atau arti secara kalimat, namun dapat difahami rasa asin itu setelah mengambil garam dan mencicipinya, maka itulah artinya asin atau definisi asin.
Saudaraku yang di Rahmati ALLOH SUBHANAHU WATA’ALA, semoga kita semua termasuk manusia yang berkeinginan lebih maju dan berkembang dalam perspektif secara Islami dengan dasar Iman dan Taqwa, dan selamat lahir bathin dunia akherat. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.

Kota Tasikmalaya

Ahad/20 September 2020

About Post Author