29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Perspektif Islam Terhadap PSBB dan PSBM

Oleh: Agnia Malika
(Penulis Remaja & Homeschooler)

Sepertinya pandemi yang melanda Indonesia sulit untuk segera sirna. Bahkan Indonesia saat ini di lockdown oleh 59 negara. Semua ini akibat kelalaian dari penguasa negeri yang tidak mau menutup masuknya virus berbahaya ini. Berbagai kebijakan yang dikeluarkan nyatanya tidak mampu menuntaskan pandemi yang sudah masuk bulan ke tujuh.

Daerah yang paling masif adalah DKI Jakarta untuk itu gubernur Anies Baswedan menerapkan PSBB total lagi .
Melansir dari detik news. Com Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperketat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bisa berimplikasi luas. Termasuk kemungkinan bertambahnya kelompok masyarakat yang terdampak sehingga membutuhkan bantuan sosial (bansos).
Menteri Sosial Juliari P. Batubara menyatakan muncul kebutuhan penanganan terhadap masyarakat yang terdampak dalam bentuk bantuan sosial, tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
“Bila keputusaanya adalah menambah bansos sejalan dengan pengetatan PSBB, maka itu bukan keputusn yang mudah. Dibutuhkan kajian mendalam dan koordinasi yang tinggi,” kata Juliari dalam keterangan tertulis, Minggu (13/9/2020).

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa memastikan pihaknya mengantisipasi dengan memberlakukan skenario khusus untuk menghadapi lonjakan kasus baru. Hal ini agar melokalisir wabah sehingga tidak semakin menyebar dan menular.
“Alhamdulillah posisi Jawa Timur, kita sudah punya pengalaman melakukan pembatasan sosial berskala mikro sehinga hal-hal yang memungkinkan kita harus melakukan isolasi secara terbatas kita sudah lakukan itu,” ujar dia seperti dikutip dari Antara, liputan 6.com(13/9/2020).

Inti dari semua komentar adalah ketidaksetujuan terhadap PSBB Jakarta bahkan disikapi negatif oleh pengusaha karena sangat berdampak pada pasar modal dan pasar uang. Bahkan dianggap akan menurunkan kembali pergerakan sektor ekonomi.
Menurut Budi Hartono, keputusan untuk memberlakukan PSBB kembali itu tidak tepat. Orang terkaya di Indonesia ini–Konglomerasi Djarum Group dan BCA–menolak langkah Gubernur DKI Anies Baswedan dengan mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo.

PSBB versus PSBM

Kebijakan yang dikeluarkan saat ini menjadi gambaran bahwa sistem kapitalis yang senantiasa mementingkan kepentingan sebagian golongan secara khusus. Akibatnya penyebaran Covid-19 semakin masif dan kian meluas. Kebijakan pemerintah yang saling kontradiktif karena memiliki kepentingan yang berbeda-beda terkait penanganan pandemi menjadikan kondisi semakin terpuruk. Dalam hal ini rakyatlah yang menjadi korban dari para kapitalis.

Bagaimana pandangan Islam terkait PSBB dan PSBM dalam mengentaskan arus pandemi?

Islam adalah aturan hidup yang sempurna dan menunjukkan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Bahkan, Islam telah lebih dulu dari masyarakat modern membangun ide karantina untuk mengatasi wabah berbahaya.

Pada masa Kekhalifahan Umar bin al-Khaththab juga pernah terjadi wabah penyakit menular. Seperti yang diriwayatkan: Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam.

Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR. Al-Bukhari).

Metode karantina sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah untuk menghentikan arus pandemi semakin melebar, agar tidak berdampak besar kepada kehidupan manusia yang bisa meredupkan kegiatan ekonomi dan sosial.

Di dalam sistem Islam, pemerintah bergerak cepat, menutup dengan cermat pusat wabah dan melarang masyarakat yang sehat untuk mendekati daerah sentral pandemi. Selain terus menyuarakan betapa pentingnya menjaga kesehatan, mencukupkan stok persediaan bahan pangan, sehingga orang-orang yang berada di tempat isolasi tidak terlantar saat karantina karena kelaparan. Selain upaya fisik, ada usaha yang menguatkan keimanan agar seluruh umat meminta pertolongan, dengan cara meminta ampunan, dan bersungguh-sungguh dalam berdoa hanya kepada Allah. Dengan begitu, semuanya senantiasa akan melahirkan jiwa-jiwa yang sabar dalam menghadapi musibah pandemi. Sehingga wujud ujian diterima sebagai penguat ketakwaan diri.

Kini, masa pandemi semakin panjang, tersebab lambannya penanganan dan banyaknya pertentangan antara pemilik kebijakan. Kehidupan semakin tidak terurusi, ekonomi di ambang resesi, korban jiwa betambah setiap hari.

Apakah kita benar-benar menutup mata untuk tegaknya sistem Islam? Padahal sangat jelas terbukti Islam mampu menuntaskan setiap masalah manusia dengan saksama.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author