06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Indonesia dilockdown Dunia? (Semua Mata Tertuju Padamu)

Oleh: Siti Ningrum, M.Pd.

Indonesia sejak zaman dahulu selalu menjadi buah bibir dikalangan masyarakat dunia. Kekayaan alam yang melimpah ruah begitu menggoda para asing yang enggan untuk kembali pulang. Bangsa yang ramah dengan senyum khasnya, menjadi daya tarik tersendiri sehingga setiap bangsa akan jatuh cinta pada tanah air Indonesia.

Portugis pun begitu gigihnya merebut kerajaan-kerajaan di Nusantara. Hingga beberapa bangsa pun ikut andil dalam menjajah bangsa Indonesia. Sebelum kemerdekaan diraih pada tahun 1945, Indonesia selama 350 tahun hidup dalam penjajahan Belanda. Kemudian, 3,5 tahun Jepang pun turut andil dalam mengungkung tanah air.

Namun, para pahlawan bangsa tidak tinggal diam dalam merebut sebuah kebebasan atas nama kemerdekaan yang dengan gigihnya mereka berjuang tak kenal lelah sampai titik darah penghabisan. Dari Sabang sampai Merauke selalu ada saja para pahlawan, ada sosok wanita yang kita kenal yaitu Chut Nyak Dien, R.A Kartini juga Raden Dewi Sartika. Namanya begitu fenomenal di kalangan anak bangsa. Pangeran Antasari, Pangeran Dipenogoro, juga para pahlawan lainnya. Sehingga sampai pada dua orang Bapak Proklamator yaitu Ir.Soekarno dan Moh.Hatta. yang membacakan teks proklamasi kemerdekaan, pada tanggal 17 Agustus 1945. Akhirnya Indonesia menjadi negara yang merdeka dan dunia pun mengakuinya.

Nama Indonesia terus dalam ingatan dunia, pulau-pulau yang indah selalu menjadi tempat wisata asing. Kekayaan alam yang begitu melimpah ruah seperti emas, barang tambang, kekayaan lautnya hingga hutan-hutan yang menjadi paru-paru dunia. Masih tetap menjadi sebuah perebutan dikalangan para investor luar dan dalam negeri.

Indonesia bak sajian makanan lezat yang selalu diperebutkan oleh para penanam modal, ibarat perempuan bak artis yang selalu tampil menawan. Tidak jarang para kapitalis memanfaatkan kekayaan alam nan indah rupawan ini. Pribumi hanya bisa mengais rejeki dari serpihan-serpihan kilauannya.

Indonesia sejak dulu begitu dituju, mata-mata memandang dengan jalangnya dengan nafsu duniawi segala kerakusan dan kepongahan yang menyisakan kesengsaraan yang entah sampai kapan akan berakhir.

Sekarang pun demikian, semua mata masih tertuju padamu Indonesiaku. Namun kali ini sangat berbeda, mata-mata itu seolah terpejam sesaat seolah tidak mau melirik apalagi melihat. Indonesia berbeda kini semua mata yang tertuju bukan hendak berteduh atau menetap, namun mata-mata ketakutan yang sangat oleh sesuatu yang tak kasat mata.

Makhluk yang tidak tampak itu, bernama virus. Keberadaannya begitu ditakuti, tidak terlihat namun aksinya sangat nyata dan menyeramkan. Negara Adidaya pun dibuat tak berkutik.

Kasus di Indonesia angka korban virus korona semakin hari semakin menyeramkan dan tak terkendali. Membuat negara luar membuat kesepakatan yang mencengangkan, hampir 59 negara menutup rapat-rapat pintunya untuk Warga Negara Indonesia (WNI) atau dengan kata lain Indonesia dilockdown dunia.

Dilansir dari laman Tempo.Co, Sedikitnya 59 negara melarang warga Indonesia masuk ke negaranya. Hal ini berkaitan dengan tingginya angka kasus positif Covid-19 di Tanah Air (08/09/2020).

Setelah melewati beberapa bulan, virus terus melancarkan aksinya setiap hari korban terus berjatuhan. Bukan hanya masyarakat tetapi sudah menyasar tim medis. Begitu fantastisnya berada pada 115 korban yang notabene adalah para dokter yang menangani para pasien yang terkena virus korona. Bahkan jumlahnya tertinggi di Asia Tenggara, benar-benar Indonesia sedang dalam ancaman besar yang mematikan.

Dikutip dari laman resmi Okezone.com, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat hingga saat ini sebanyak 115 dokter meninggal dunia akibat terpapar virus Covid-19. Dari 115 dokter yang meninggal itu sebanyak tujuh dokter berstatus Guru Besar. Sementara 51 dokter merupakan dokter spesialis dan 57 lainnya adalah dokter umum.

Juru Bicara Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Erlina Burhan mengatakan bahwa saat ini penyebaran Covid-19 di Tanah Air sudah tidak terkendali, dan dokter menjadi kelompok yang memiliki risiko besar terpapar virus tersebut (13/09/2020).

Beragam hal yang menyebabkan kasus virus korona di Indonesia makin hari makin tidak terkendali. Diantaranya adalah solusi-solusi yang ditawarkan tidak menjawab persoalan yang tengah dihadapi. Kebijakan-kebijakan yang diambil pun kerap menimbulkan masalah kian bertambah, dan tidak jarang selalu membuat riuh dan gaduh di masyarakat.

Indonesia, semua mata tertuju padamu namun kini dengan pandangan yang tak berarti. Hanya rakyatmulah yang tetap mencintai dan menyayangi dengan segenap keikhlasan bagaimanapun keadaanmu sekarang.

Suara-suara berdengung dalam rangka memberikan kontribusi untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan bangsa digelorakan tanpa lelah dari mulai pakar hingga tukang parkir, meskipun selalu diabaikan. Permasalahan bangsa terus bermunculan diberbagai sektor dan sudah semestinya harus segera diurai dengan cara mengikuti TitahNya dan meneladani para Nabi, agar tanah air ini menjadi tanah yang diberkahi oleh Sang Pencipta langit dan bumi Allah Swt.

Dengan dilockdownnya Indonesia oleh dunia, seolah mengindikasikan pada kita semua agar segera mengikuti jejak Nabi dalam mengambil kebijakan menghadapi wabah pandemi yaitu dengan lockdown.
Tidak dapat dimungkiri mengambil kebijakan lockdown membutuhkan nyali besar, sebab akan ada pro dan kontra di masyarakat atau pun para korporasi. Namun sejatinya lockdown adalah cara paling efektif untuk menghentikan mata rantai virus.

Lockdown adalah menutup rapat-rapat antara yang masuk dan keluar dari suatu wilayah, artinya rakyat pun harus memahami betul tentang hakikat dari lockdown itu sendiri. Perlu ada kerja sama yang keras dari berbagai pihak agar lockdown berjalan dengan sukses menghadapi virus yang mematikan ini.

Ketika lockdown berjalan, maka rakyat diminta untuk berdiam diri di rumah. Tidak boleh kemana-mana. Kalo pun terdesak disiplin protokol kesehatan harus tetap dijaga dengan ketat. Ketika hendak keluar rumah wajib memakai masker, tetap jaga jarak, dan mencuci tangan di air yang mengalir setelah melakukan berbagai aktivitas.

Kembali berdiam di rumah, dan menahan diri untuk tidak berkumpul dahulu sampai semuanya mereda. Tidak diperkenankan keluar rumah hanya demi mengusir rasa jenuh dan suntuk, membatasi aktivitas diluar bisa mempercepat penghentian laju penyebaran virus.

Ketika kita membaca kisah para Nabi lainnya yang sengaja diabadikan dalam kitab suci Alquran, ada suatu hal yang menarik yang dapat kita ambil pelajaran terkait berdiam diri di rumah. Nabi Yunus a.s pernah berdiam diri di dalam Ikan, namun ketika berdiam diri ada yang dilakukannya yaitu bermuhasabah.

Muhasabah artinya merenungkan segala sesuatu yang menimpa diri masing-masing, kemudian mengambil kesimpulan dan melakulan sebuah tindakan. Nabi Yunus a.s ketika berdiam diri adalah bermunajat terus pada Sang Pencipta meminta ampunan dikarenakan kesalahan dalam mengambil tindakan. Tidak berselang lama Nabi Yunus a.s pun Allah keluarkan dari perut ikan, tentu dengan waktu yang tepat dan Allah beri nikmat yang luar biasa yaitu permasalahan yang tengah dihadapinya pun selesai.

Oleh karena itu sudah selayaknya kita pun mengikuti cara para Nabi dalam menyelesaikan setiap persoalan, sebab memang mereka diutus untuk dijadikan teladan bagi manusia. Berdiam diri dirumah demi menghentikan laju penyebaran virus, dengan terus bermunajat pada Allah, memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan baik oleh individu sebagai rakyat, maupun sebagai wakil rakyat, dan juga sebagai pejabat dari sebuah bangsa.

Bermuhasabah dengan memikirkan berbagai persoalan yang menimpa bangsa tentu dengan mengambil solusi yang pasti dengan cara mengikuti TitahNya,
agar bangsa yang besar dan kaya raya ini menjadi sorotan dunia dengan tatanan kehidupan baru dan melahirkan sebuah peradaban yang mampu membuat semua mata dunia tertuju padamu.

About Post Author