25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Membuncahnya Segala Rasa

By : Ummu Aisyah

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Mujahidku yang kedua telah dua bulan tinggal di pondok. Awal penengokkan di minggu-minggu pertama telah tampak perubahan, makin dewasa dan mandiri. Ada rasa terharu yang teramat dalam, ada rasa sedih pula yang menyelimuti dada seorang ibu. Perhatian dan empatinya kepada teman begitu tampak.

Suatu hari, ketika saya berkunjung ke pondok. Seperti biasa, ijin dulu pada wali asrama. Memperpersiapkan perbekalan termasuk makanan kesukaan ananda. Sesampai di pondok, rasanya sedih melihat putraku itu. Belum terlalu lama tinggal di pondok. Namun, tubuhnya terlihat makin kurus. Air mata ini hampir tak terbendung. Hanya saja kucoba menepis segala rasa dengan berbagai cerita dan canda. Ada yang menggelitik hati saat kuberikan perbekalan makanan. Pesanku, berilah teman-temanmu yang dulu sama-sama di SD. Namun, ungkapan anandaku ini membuatku terharu. “Umi, ga bisa gitu di sini mah. Nanti, fulan sedih, nanti kakak kelas 8 gimana yang jarang ditengok orang tuanya. Jarang dikirim makanan”. Sontak saya terkejut, rasa haru, bangga, sedih pun ada, berbagai rasa berkecamuk dalam dada. Lagi-lagi air mata hampir tak terbendung. Gumamku, “bukan umi pelit, tetapi keterbatasan ekonomi ortumu nak”.

Saat itu, saya berkunjung ke pondok bersama suami dan juga mujahidku yang ke tiga. Yang usianya masih balita. Lisan polosnya, ia berujar, mengomentari fisik kakak kelas Fursan. Komentar yang sedikit pedas. Maklum anak, dia tak mengerti jika bahasanya akan menyakiti. Saya pun kaget, dan bergegas menasihati putra ketigaku itu. Anandaku Fursan bergegas berlari ke pondok. Karena sang kakak kelas yang mungkin sakit hati dengan perkataan putra kecilku, lari ke pondok. Fursan pun segera meminta maaf dan menghibur kakak kelasnya. Menjelaskan bahwa adiknya belum mengerti jika itu salah. Masya Allah
Fursan memang begitu lembut hatinya. Pekak terhadap apa yang terjadi disekitarnya. Barakallah, semoga empatimu terus terjaga. Akhlakmu menjadi mulia karena dibimbing Islam sebagai agama kita. Umi sayang Fursan 🥰🥺🤗

Setelah kejadian itu, cukup lama kami tak berkunjung. Biasanya seminggu sekali. Namun kini, karena ada sesuatu dan lain hal. Menyebabkan penengokkan tertunda dan tertunda. Satu bulan lebih tak berkunjung ke pondok. Perlengkapan dan perbekalan hanya di titip ke teman yang berkunjung. Hari ini, Ahad 20 September 2020, ayahnya ijin tidak berangkat kerja. Sengaja khusus untuk mengunjungi putraku itu.

Kedatangan kami disambut bahagia oleh Fursan. Walaupun tersembunyi sedih terpancar dari binar mata yang sedikit memudar. Ia ungkapkan rasa dan amanah yang ia pikul dipundaknya. Kini Fursan merasakan peralihan periayahan dari SD ke SMP. Gurat lelah tergambar, lengan mungilnya tampak dipenuhi otot yang menonjol keluar. Bukti bahwa berkurangnya berat badan selama dua bulan dipondok. Terucap lirih rindu suasana di SD. Outing, kebersamaan dengan guru yang hangat seperti keluarga. Nak, hati ibumu ini menangis. Kini kau sedang merasakan masa transisi. Semoga kuat yaa nak, doa umi menyertai selalu. Semoga Allah melindungimu selalu dari hal-hal yang tidak diinginkan. Semoga istiqomah taat dalam Islam dan dakwah harus melekat dalam dirimu. Kau lahir dengan semangat juang umimu. Hingga nama Fursan menjadi pilihan. Yaitu gagah berani (si penunggang kuda gagah berani ). Di jamanmu kelak, bukan kuda lagi, tetapi tank baja, alat tempur dalam mengusir penjajah di bumi pertiwi atau dalam sistem khilafah islamiyah. Allahu Akbar….

Sedih bercampur bangga, ketika Fursan bercerita telah selesai muroja’ah 6 juz. Kini sudah bertambah hafalannya setengah juz lagi. Alhamdulillah barakallah shalih….semangat terus nak! Kami bangga memilikimu. Umimu ini berharap, suatu hari kau akan membaca tulisan ini. Menjadi pengingat bagimu. Kami mengajarimu kebaikan dan kebenaran Islam. Bahkan kau disiapkan untuk menjadi pembela agama Allah sepanjang hidupmu. Hingga ketika berjumpa dengan Allah, berada dalam ridha Allah. Yang mendapatkan kenikmatan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dengan berbagai rasa yang amat nikmat. Masya Allah tabarakallah shalih kesayangan umi. Bersabarlah dan perbaiki kesabaranmu.
🤗🤗🤗

About Post Author