23/10/2020

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Pandemi Belum Surut, Ketahanan Keluarga Terancam


Oleh : Rika Ummu Arfa
Ibu Rumah Tangga, Alumni Komunitas Istri Strong


“Pernikahan dititahkan Allah Swt. untuk membangun kebahagiaan bukan mewujudkan penderitaan. Ketika rumah tangga diuji masalah, ujian itu yang dihilangkan, bukan rumah tangganya yang dirobohkan.” (Kholda Najiyah)
Pernikahan adalah impian setiap orang, dalam rangka menyempurnakan sebagian dari agamanya. Ada yang mudah bertemu dengan jodohnya, ada juga yang harus melalui penantian panjang untuk bertemu jodohnya. Ada yang menikah usia belia, tak sedikit yang bertemu jodoh di usia dewasa 30, 40 atau di atas 50 tahun. Namun setelah proses penantian panjang, tidak sedikit yang kandas hanya dalam hitungan bulan, tahun atau yang sudah merajut rumah tangga puluhan tahun, memutuskan untuk berpisah. Miris, itulah fenomena yang terjadi di tengah masyarakat, kasusnya melonjak saat pandemi.
Dilansir dalam BandungKita.id, VIRAL, Senin (24/8/2020), bahwa beberapa hari terakhir, netizen dihebohkan oleh sebuah video viral di jagat maya yang menunjukkan puluhan pasangan suami-istri sedang mengantri di Pengadilan Agama Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Video itu diunggah oleh akun Instagram @bandung.update.
Selain itu, angka perceraian dari dua bulan terakhir mengalami peningkatan, Juli dan Agustus. Pada bulan Juli angka perceraian mencapai angka 800900an perkara. Masuk pada bulan Agustus, angka perkara sudah masuk ke angka 1102 perkara.
Tak hanya di Kabupaten Bandung, di Cianjur hingga Juni 2020 kasus gugatan cerai yang terdaftar mencapai 2.029 kasus. (Media Mata Indonesia, 29/6/2020)
Fakta ini tentu saja makin membuat kita sadar bahwa dampak pandemi covid-19 begitu signifikan. Tak hanya menyentuh ranah kesehatan, ekonomi dan pendidikan. Namun juga hingga berbagai sendi kehidupan keluarga.
Dalam masa pandemi yang berkepanjangan, terjadinya kesulitan ekonomi karena sulitnya pekerjaan, bahkan banyak suami yang di-PHK, telah memicu ketidakharmonisan pasangan suami istri. Bahkan diduga kuat menjadi pemicu perceraian meningkat.
Sejatinya ada beberapa faktor penyebab keguncangan keluarga, yaitu:
Pertama, lemahnya keimanan. Faktor keimanan berperan penting dalam institusi terakhir pertahanan keluarga. Tanpa keimanan, guncangan sekecil apapun mampu untuk merusak sebuah bangunan keluarga yang telah didesign seindah mungkin.
Dalam pernikahan yang dilandasi keimanan, harus dimulai dengan mewujudkan RSP (ridha, syukur dan positif thinking) dalam hati terdalam kita.
Kedua, ketiadaaan visi, misi, dan tujuan berkeluarga. Tanpa ketiganya, pernikahan yang sejatinya adalah ibadah menjadi hanya sekadar penyaluran hasrat seksual.
Ketiga, minimnya ilmu berumah tangga. “Biarkan mengalir sebagaimana air mengalir”, mungkin menjadi moto dalam berumah tangga bagi sebagian masyarakat. Mereka melihat, toh tanpa ilmu sekalipun orangtua dahulu dapat membina rumah tangga dan membesarkan anaknya. Padahal, beramal tanpa ilmu bagaikan berjalan dalam kegelapan. Kehidupan berumah tangga tanpa bekal keilmuan akan sangat rapuh.
Hal-hal semisal KDRT, pelalaian hak dan kewajiban suami istri, membesarkan anak tanpa dididik, adanya ketidakpahaman karakter dasar suami (pria) dan istri (wanita), secara kodrati yang memang berbeda bagai langit dan bumi, peran suami dan istri, dan lain-lain akan menjadi makanan sehari-hari. Akhirnya, ketika ada pemicu berupa wabah Covid-19 bom waktu tersebut meledak. Terlontarlah kata cerai.
Dalam pandangan Islam perceraian adalah sesuatu yang halal, tetapi dibenci oleh Allah Swt. Bahkan disebut pekerjaan setan Dasim yang membisiki suami istri agar bercerai.

Sabda Nabi saw. :
“Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah ialah talak.“ (Riwayat Abu Dawud)

Meski demikian, perceraian ada karena ia merupakan solusi yang diberikan Asy-Syari’ (Allah Swt.) jika dalam kehidupan suami istri terjadi kondisi yang mengancam ketenteraman dan keharmonisan rumah tangga. Ia adalah metode yang bisa digunakan kedua belah pihak untuk berpisah satu sama lain. Suami istri yang berpisah tetap akan mampu menjalani kehidupan yang terhormat. Dan masing-masing dapat mencari kebahagiaan dengan istri atau suami yang baru.

Keempat, abainya peran negara. Tak dapat dipungkiri, sesungguhnya penyebab krusial selain faktor individu dari keretakan keluarga adalah hilangnya peran negara dalam mengurusi urusan rakyatnya. Negara yang sekuler tak peduli pada urusan pembinaan keimanan rakyatnya. Padahal keimanan adalah pondasi. Pun tak ambil pusing melakukan pembinaan terhadap pasangan suami-istri.

Sistem Kapitalisme juga menyebabkan negara tak mau menjamin pemenuhan kebutuhan pokok berupa sandang, pangan, dan papan. Begitupun kebutuhan dasar kolektif semisal pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Lalu menyerahkan tanggung jawab tersebut di punggung masing-masing kepala keluarga.
Rata-rata perceraian yang terjadi selama pandemi dipicu persoalan ekonomi. Beragam persoalan yang mengancam ketahanan keluarga, mendorong berbagai pihak, termasuk penguasa untuk menyelesaikan permasalahan ini. Namun solusi yang diberikan hanyalah solusi parsial yang tidak menyentuh akar permasalahan. Banyak pihak termasuk penguasa hanya melihat gejala yang muncul di permukaan kemudian memberi solusi terhadap gejala tersebut, tapi lalai dengan akar permasalahan yang sesungguhnya. Banyak pihak tidak menyadari bahwa tingginya angka perceraian adalah fenomena gunung es, yang nampak di permukaan hanya kecil padahal sesungguhnya memiliki akar permasalahan besar yang tidak banyak disadari.

Kemiskinan yang ada saat ini adalah kemiskinan struktural yaitu kemiskinan yang diciptakan oleh sistem, nilai dan perilaku bejat manusia. Dengan kata lain kemiskinan struktural terjadi karena negara salah dalam mengelola sumber daya yang mengakibatkan ketidakmampuan masyarakat mencukupi kebutuhan hidup mereka. Negara yang menerapkan sistem ekonomi kapitalis telah membidani lahirnya para elit politik dan konglomerat yang menghalalkan segala cara, bergelimang kemewahan di atas penderitaan mayoritas besar umat manusia. Jadi, persoalan ekonomi yang memicu tingginya angka perceraian muncul akibat kesalahan sistem yang diterapkan.

Berbeda dengan Islam, poitik ekonomi Islam bertujuan menjamin pendistribusian kekayaan bagi semua individu warga negara satu per satu, sehingga terjamin pemenuhan kebutuhan primer tiap individu secara menyeluruh. Islam menetapkan mekanisme yang menjamin perempuan dan anak mendapatkan nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dalam kondisi apapun. Mekanisme tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Mewajibkan setiap suami atau wali untuk memberi nafkah.
    Allah Swt. berfirman dalam QS. al-Baqarah: 233, artinya:
    “Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya, ….”
  2. Bila kepala keluarga tidak mampu misal karena sakit, cacat, sudah tua atau kepala keluarga meninggal dunia, kewajiban nafkah berpindah pada ahli warisnya sesuai hukum perwalian.
  3. Ketika kepala keluarga dan kerabat tidak ada, atau ada tetapi tidak ada yang mampu menafkahi maka negara akan langsung menafkahi keluarga miskin ini melalui Lembaga Kas Negara (Baitulmal), sehingga sang ibu maupun anak tetap tidak dipaksa untuk bekerja.
  4. Apabila di kas negara tidak ada harta sama sekali, maka kewajiban menafkahi orang miskin beralih kepada kaum muslimin secara keseluruhan. Secara teknis, bisa dilakukan dua cara, pertama melalui zakat infaq dan sedekah. Kedua negara mewajibkan dharibah (semacam pajak) kepada orang-orang kaya.
    Negara juga akan menyiapkan pendidikan, agar suami-istri paham bahwa pergaulan suami-istri adalah pergaulan persahabatan. Satu sama lain berhak mendapatkan ketenteraman dan ketenangan, masing-masing menjalankan kewajibannya. Sehingga, dapat dieliminir munculnya kasus KDRT, penelantaran keluarga, dan sebagainya.
    Demikianlah Islam mengatur dalam permasalahan pernikahan, sehingga hak dan kewajiban suami istri bisa terpenuhi dengan baik. Yang pada akhirnya bisa mewujudkan keluarga yang harmonis, penuh dengan ketentraman, dan kasih sayang. Berbeda dengan sistem Kapitalisme yang justru meruntuhkan keutuhan rumah tangga. Hanya sistem Islam kaffah dan aturannyalah satu-satunya solusi mengatasi permasalahan umat tak terkecuali masalah rumah tangga. Wallahu alam bish-shawab.