23/10/2020

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Tangguhlah, Karena Dunia Membutuhkan Generasi Tangguh

By : Ummu Aisyah

Entah harus memulai dari mana cerita kita
Banyak hal yang ingin ku sampaikan
Kesunyian pernah hadir
Merayap di selang kebersamaan

Hampir tiga tahun mengenalmu
Tak akan lupa ketika kau mengadu
Terbata-bata ucap lisanmu
Kau genggam erat tangan ibu

Nyaris bergetar, tampak rasa takutmu
Pandanganmu memelas
Meminta maaf dan perlindungan
Binar mata takutmu harap dengan semu nan ragu

Shalih, ibu tahu apa yang kau rasa
Ibu mengerti gejolak jiwa dikala meronta
Ku tahu tersimpan di lubuk hatimu
Sesal dan ingin kembalikan waktu

Hal itu cukup bagiku
Ku genggam erat lukamu
Ku genggam erat amarahmu
Biarlah ku mengadu kepada Rabb Maha sempurna

Sejak itu, ku tahu kau terus berlalu
Dari bisikan-bisikan semu
Sejak itu, tak ada ulah nan salah
Hanya saja kau butuh cambuk agar tidak lengah dan gundah

Hemm, mengapa yang muncul puisi? Agar lebih leluasa bercerita. Karena terkadang puisi itu hanya dimengerti sang penulis. Baiklah, ayah bunda, sebetulnya saya hendak bercerita tentang salah satu santriKU. Yaitu ananda Rayya. Anak shalih, baik hati, lembut hatinya. Walaupun terkadang terlewat lembut. Sehingga mudah sekali berlinang air mata. Ibunda Rayya adalah sahabat seperjuanganku, dalam dakwah dan dalam dunia literasi. Ibu muda yang cantik, cerdas pun mahir merangkai kata. Baik puisi, opini, bahkan esay, Masya Allah BarakaLlaah teteh shalihah🥰🥰🥰.

Ayah bunda, kini hafalan Rayya sudah hampir 4 juz. Bukan hal yang mudah bagi ananda mengejar hingga sampai di Al-Baqarah. Tahun kemarin sempat futur. Hafalan juz 28 tidak bisa di tasmi. Qadarullah, apa yang terjadi tahun kemarin, menjadi cambuk buat ibundanya. Sehingga benar-benar di tahun ini mempersiapkan sebaik-baiknya. Sehingga kegagalan tahun lalu tidak terulang. Satu bulan yang lalu, ananda sudah bisa mengembalikan hafalan juz 28nya. Alhamdulillah dengan kesungguhannya, akhirnya selesai juga juz 28 disetorkan. Dan bulan ini berada di juz 1, barakallaah shalih, semoga istiqomah✊✊✊.

Bulan kemarin, santriKU dilibatkan dalam acara menyambut tahun baru Hijriyah. Masya Allah respon ortu dan santri cukup antusias. Acara yang digelar online yaitu lomba busana tokoh nasional. Ananda Rayya pun ikut serta setelah dibujuk rayu sang bunda. Akhirnya, mau juga ikut lomba. Waktu itu, ananda ikut lomba busana WR. Supratman pencipta lagu Indonesia Raya. Masya Allah, jujur nak! Ibu kepala sekolah sebetulnya memilihmu untuk jadi juara. Karena, miriiiip bangettt kerennn deh pokoknya. Hanya saja qodarullah tim panitia berbeda pendapat dengan ibu kepala sekolah. Akhirnya, ananda Rayya tidak masuk kategori. SubhanaLlaah sediiih sekali. Ananda pun hingga berlinang air mata. Maafkan nak! Terkadang adil itu menyakitkan, karena terkadang kita dikuasai gharizah baqo.

Hingga siang menjelang, ananda pun masih sediiih. Tak tega melihatnya🥺…bahkan kesedihannya hingga jam pulang sekolah.
Sore harinya, saya punya inisiatif untuk kirim pesan WhatsApp ke ibundanya. Kurang lebih beginilah ungkapanku untuk ananda Rayya.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Rayya shalih, ganteeeng…apa kabar sore ini?
Oh iya…sebelum lanjut baca pesan ibu…
Baiknya senyum dulu yaaa….🥰
Naaah, gitu kan cakeeeepp😘
Ok lanjut baca pesannya….

Gimana hatinya sudah lega?

Syukur deh kalau sudah…berarti anak kesayangan ibu makin dewasa…
Semangat yaaa….teruuus semangattt
Shalih….ibu mau cerita sedikit kisah ibu di usia ibu 16 tahun…
Waktu itu cita-cita ibu ingin jadi guru ngaji…
Nah, untuk memastikan kalau bacaan Al-Quran ibu sudah bagus…
Ibu ikut lomba membaca Al Quran (MTQ).

SeKabupaten Sumedang…

Alhamdulillah ibu masuk ke babak akhir…
Sudah bangga rasanya….
Pede ibu saat itu makin tumbuh, ibu akan menjadi guru ngaji kelak, jika sudah dewasa atau sudah berumah tangga..
Qadarullah….ibu kalah dari pertandingan…pas babak final..hanya harapan 3…
Padahal ibu sempat di puji para Asatid dari pesantren Al – falah yang ada di Cicalengka…yang saat itu menjadi juri.
Menurut beliau-beliau…
Suara ibu bagus…bacaan ibu bagus…
Nah, seneng kaaan rasanya…dipuji ustad pesantren terkenal gitu loooh….serasa terbang ibu 😅😅😅

Ketika pengumuman tiba….ternyata nama ibu tidak muncul…
Sediiih nangiiis kecewaaaa maraaah…
“Masa sudah dipuji-puji begitu kok gak lolos minimal juara 3 gitu” gumamku…

Shalih….di sini ibu di uji kesabaran dan keikhlasan…

Saat itu ibu mencoba untuk merenung….dan ibu yakin ini adalah tempaan bagi ibu…agar ibu bisa menjadi lebih shalihah lagiii…
Ibu sering menangis nak….
Namun…dengan terus ibu diuji….menjadikan ibu makin tangguh…
Yang dilihat Rayya hari ini…
Bukan ibu yang waktu 24 tahun lalu…

Hingga ibu ada di titik ini, bukanlah hal yang mudah. Semangat shalih…
Kebahagiaanmu sedang menantimu di masa yang akan datang….

Ibu pun saat itu terus belajar. Hingga diusia ibu 20 tahun. Ibu ikut lomba lagi di tempat yang sama. Alhamdulillah gelar juara 1 ibu raih. Saat itu lomba menggunakan irama nagham bayati hingga nihawan. Yang tentunya antum belum mengenalnya saat ini.

Inilah pesanku untuk ananda…

Kemudian inilah jawaban bunda Rayya, ditambah jawaban dari ananda Rayya menggunakan voice note. Yang intinya ungkapan terima kasih.

Haturnuhun pisan ibuu… kanu perhatosana… ailopyuuupulll😍🥰🥺😘😘

bunda Rayya🤍

Ayah bunda, dibawah ini kesan-kesan dari ananda Rayya

Namaku Rayya, Rayya senang sekolah di khoiru ummah. Karena guru-gurunya baik. Pelajarannya seru, walaupun kadang susah. Tapi kalau susah dan belum mengerti, suka dijelasin lagi sama guru, sampai Rayya mengerti. Teman-temanku juga baik-baik. Rayya jadi makin semangat menghafal Al-Quran. Rayya berdoa semoga sekolahKU bisa segera dibangun. Agar para penghafal Al-Quran di sekolahKU bisa menghafal dan belajar dengan nyaman. Aamiin Yaa Rabbal’aalamiin

Wallaahu a’lam bishshawab