04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Kesenjangan Upah, Bukti Periayahan yang Payah

Oleh: Yani Rusliani | Pendidik Generasi

Dewasa ini perempuan telah banyak berpartisipasi dalam dunia pekerjaan seperti halnya laki-laki dan hal ini juga merupakan kebanggaan tersendiri bagi keluarga. Sebuah keluarga akan merasa bangga jika anak perempuannya memiliki karir di luar rumah. Terlebih jika pekerjaan tersebut memiliki penghasilan yang sangat tinggi. Masyarakat juga menilai bahwa perempuan yang bekerja merupakan kemajuan suatu bangsa yang patut dibanggakan.

Namun tenaga kerja perempuan masih dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki dengan perkiraan kesenjangan upan sebesar 16 persen.

Seperti yang dilansir bisnis.com (21/09/2020), berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Internasional Labour Organization (ILO) dan UN Women, perempuan memperoleh 77 sen dari setiap dolar yang diperoleh laki-laki untuk pekerjaan yang sama. Kesenjangan upah ini memberikan dampak negatif bagi perempuan dan keluarganya apalagi selama pandemi Covid-19.

Untuk pertama kalinya Indonesia dan PBB merayakan hari kesenjangan upah Internasional yang jatuh pada tanggal 18 September 2020. Perayaan ini adalah bentuk komitmen dari PBB untuk memperjuangkan Hak Asasi Manusia dan menentang segala diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan.

Inilah basa-basi khas sistem sekuler mengatasi kaum perempuan. Setelah adanya komitmen yang dibuat PBB, kondisi perempuan tak jauh beda dari sebelumnya. Perempuan tetap berada dalam kubangan eksploitasi ekonomi. Sudah banyak racun dan angan-angan kosong yang terus dihembuskan pegiat gender untuk menyelesaikan masalah perempuan. Namun tak satupun yang benar-benar menjamin perlindungan serta kesejahteraan bagi perempuan. Perempuan tetap dieksploitasi dalam pekerjaan, lalu diiming-imingi kesejahteraan walaupun kesejahteraan itu hanya angan-angan semata. Perempuan menjadi objek seksualitas dengan memamerkan tubuh dan kemolekannya yang dijadikan alat untuk memikat konsumen.

Inilah kapitalisme, memandang perempuan sebagai sarana yang dapat dieksploitasi demi kepentingan bisnis.

Berbeda dengan sistem ekonomi Islam. Islam melarang aktivitas ekonomi yang mendzolimi orang lain atau dengan memberikan upah yang tidak layak. Selain itu, menjauhkan semua jenis aktivitas yang mengeksploitasi kemolekan tubuh perempuan demi keuntungan materi.

Pemenuhan kebutuhan pokok setiap perempuan ditempuh dengan berbagai cara. Pertama, mewajibkan laki-laki menafkahi perempuan. Kedua, jika individu tetap tidak mampu bekerja menanggung diri, istri dan anak perempuannya, maka beban tersebut dialihkan kepada ahli waris. Ketiga, jika ahli waris tidak ada atau ada tetapi tidak mampu memberi nafkah, maka beban itu beralih kepada negara melalui lembaga baitul mal.

Dalam khilafah, khalifah memaksimalkan kebutuhan pokok berupa pendidikan, kesehatan dan keamanan yang diberikan secara langsung dan gratis. Pembiayaannya berasal dari harta milik negara dan hasil pengelolaan harta milik umum seperti migas, tambang, laut, hutan dan sebagainya. Maka tidak akan ada lagi kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan karena khilafah menjamin kesejahteraan mereka melalui pengaturan kebijakan yang tepat.

Wallahu’alam bishawab.

About Post Author