25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Sejarah Dihapus, Identitas Pupus

Oleh : N. Suci M.H, S.Pd
Member Akademi Menulis Kreatif

“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta. Masa yang lampau sangat berguna sebagai kaca benggala daripada masa yang akan datang.”

Quote terkenal dari Ir. Sorkarno, Presiden Pertama Indonesia nampaknya tak banyak dimengerti atau diketahui petinggi negeri ini. Mengerti bahwa masa lalu adalah proses terjadinya masa depan.

Baru-baru ini, publik ramai memperbincangkan draf sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Asesment Nasional tertanggal 25 Agustus 2020. Setelah lebih dulu beredar di kalangan guru dan para akademisi. Terkait adanya rencana perubahan pendidikan sejarah sebagai mata pelajaran pilihan di SMA, bahkan akan dihilangkan untuk jenjang SMK.(Cnnindonesia.com, 19/09/2020)

Turut ramainya politikus, pemangku kebijakan dan masyarakat menyoroti rencana Kemendikbud menghilangkan mata pelajaran sejarah di tingkat Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan, dijawab dengan pernyataan bahwa Kemendikbud hanya ingin melakukan penyederhanaan kurikulum. (Medcom.id, 20/09/2020)

Sejarah sebagai bagian realitas sebuah negara memiliki faktor keberlangsungan hidup dan kehidupan negara. Pembentuk identitas negara dengan peradaban tertentu. Seperti dilansir dari laman Kompas.com, bahwa sejarah adalah ilmu yang menyelidiki perkembangan peristiwa dan kejadian-kejadian di masa lampau. Sejarah adalah kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan manusia, yaitu menyangkut perubahan yang nyata di dalam kehidupan manusia.

Jika benar akan adanya penyederhanaan bahan ajar sejarah atau menghilangkan mata pelajarannya, dipastikan generasi pelajar saat ini tak akan pernah mengetahui keadaan negerinya. Bagaimana negeri ini diperjuangkan, masa saat negeri ini kehilangan kendali kekuasaan karena jajahan para penjajah oportunis nan bengis, dan kekejaman sekelompok orang di negeri ini dalam peristiwa G-30 S/PKI.

Dampaknya, karakter yang ingin dibangun dari peserta didik Sekolah Menengah Atas menjadi pribadi yang berpikir kritis-analisis dengan pengetahuan masa lampau untuk memahami masa kini dan yang akan datang hanya jadi isapan jempol belaka. Adanya pengaburan bahkan penghilangan mata pelajaran sejarah hanya akan menghilangkan identitas negara dan menjauhkan peserta didik menjadi pemikir masa depan dengan kontribusi kritis dan analisis mendalam akan kehidupan sehari- harinya untuk turut membangun bangsa dengan peradaban yang lebih baik.

Keberadaan sejarah tentu tak bisa dilepaskan dari penerapan aturan politik suatu negara. Sejarah memang tak memiliki kekuatan membentuk sebuah hukum atau aturan. Namun, sejarah bisa dikaburkan bahkan dikubur dan dijadikan sesuai kepentingan penguasa yang berbeda-beda. Kepentingan akan fragmen sejarah untuk memunculkan atau menghilangkannya sebagai jalan mengokohkan hegemoninya. Semua bisa terjadi jika keberadaan sejarah hanya dijadikan informasi belaka seperti dalam sistem sekuler kapitalis saat ini.

Berbeda halnya ketika Islam memposisikan sejarah dalam kehidupan bernegara. Sejarah yang benar tidak selamanya berpihak pada yang menang (berkuasa) ataupun yang kalah. Sejarah adalah constructed reality. Sejarah akan dilihat kebenarannya dari kuat atau lemahnya bukti-bukti peninggalan dari kehidupan manusia di masa lalu. Peran sejarah dalam Islam pada dasarnya adalah sebagai pelajaran (ibroh) bagi manusia. Oleh karena itu, Islam menetapkan metode penelusuran sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan yaitu dengan menggunakan sistem tutur yang didukung bukti dan fakta sejarah sehingga menjadi penjelasan objektif.

Misalnya, dalam pemahaman khilafah adalah sistem pemerintahan Islam dan merupakan bagian penting dari hukum Islam. Keberadaannya merupakan perwujudan kesatuan kaum muslimin di seluruh dunia. Penerapan aturan yang universal untuk manusia meraih hidup dan kehidupan yang sejahtera, aman dan menentramkan. Keyakinan ini didukung dengan adanya fakta sejarah yang terbuktikan dengan peninggalan penerapan Islam di dunia selama 13 abad yang masih bisa kita saksikan sampai saat ini. Menjadi identitas muslim yang kuat dan berpengaruh di dunia karena bukti adanya penerapan Islam kafah dan pengembanan dakwah ke seluruh dunia. Hingga tidak aneh, Islam bisa sampai ke Indonesia dan bahkan memiliki hubungan erat dengan institusi Islam kala itu yakni Khilafah Islamiyah. Identitas inilah yang menjadi semangat dan pergerakan umat Islam sampai hari ini. Tak pupus memperjuangkan keyakinannya bahwa kehidupan akan teratur dan terurusi dengan baik berdasarkan hukum aturan dari Sang Pencipta manusia, kehidupan dan alam semesta, Allah ‘aza wa jalla.

Lahirnya Al-Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih tentu tak lepas dari berkacanya mereka pada sejarah kehidupan pendahulunya yang terus berjuang menjaga wilayah kaum muslimin dari kezaliman. Selain juga karena keutamaan iman mereka akan keyakinan ideologi Islam sebagai solusi permasalahan manusia dan sebagai kewajiban dari Allah atas mereka menyebarkannya ke seluruh alam dengan jihad fi sabilillah mewujudkan bisyarah Rasulullah Muhammad saw.

Identitas seperti ini tentu tak akan pernah ada jika para pelajar SMA dan SMK tak dikenalkan sejarah negeri ini. Tentu mereka tak kan pernah mampu menghadirkan kesalahan yang terjadi di masa lalu hingga menjalani kehidupan saat ini dan berjuang mewujudkan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Kehilangan jejak masa silam tentu tak membentuk identitas pribadi yang berarti. Target menjadi agen perubah keadaan negerinya akan menjadi jauh panggang dari api jika mereka dijauhkan dari sejarah. Pupus sudah pengharapan mereka akan menjadi generasi penerus yang kritis, analitis, dan benar berbeda dengan zamannya saat ini.

Wallahu ‘alam bishshawwab

About Post Author