25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Perempuan Di Bawah Payung Islam

Oleh : Andri Septiningrum, S.Si
           Ibu Pendidik Generasi

Ilmu itu ada tiga lapis, pertama Al ilmu billah (ilmu berkaitan dengan Allah/mengenal Allah), kedua Al ilmu bi awamirillah (ilmu berkaitan dengan perintah Allah) dan ketiga Al ilmu bi kholqillah (ilmu berkaitan dengan ciptaan Allah). Jika  mempelajari ilmu langsung ke tingkatan yang ketiga bisa jadi membuat jauh dari Allah karena belum mengenal Allah, dan mungkin akan beranggapan bahwa aturan Islam mengekang mereka. Hal itu banyak kita temui sekarang. Sebaliknya, bayangkan jika kita mempelajari urutan ilmu secara benar, maka kita akan semakin memahami bahwa semua syariat Allah itu kebaikannya kembali kepada manusia dan sama sekali tidak ada pengekangan di dalamnya.

Sebagai contoh salah satu sifat Allah Maha Baik yang disebutkan dalam QS. Al Baqarah ayat 158 bahwa Allah itu Asy Syakir, Maha Mensyukuri.
“Dan barang siapa mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 158)

Allah mensyukuri hamba-Nya yang berbuat kebaikan dengan kerelaan hati. Ketika Allah mensyukuri kebaikan yang dilakukan hamba-Nya, maka Allah akan membalasnya dengan berkali-kali lipat kebaikan.

Ketika kita berbuat baik kepada seorang yang sangat baik dan dermawan, maka wajar orang tadi akan membalas kebaikan kita lebih banyak lagi daripada kebaikan yang pernah kita lakukan kepadanya. Itu balasan makhluk, bagaimana dengan balasan Al Khaliq? MasyaaAllah kebaikan luar biasa yang akan kita dapatkan sebagai balasannya. Ketika kita mengenal sifat Allah Asy Syakir sudah cukup membuat kita tidak menyepelekan kebaikan sekecil apapun. Tidak ada alasan lagi untuk tidak melakukan kebaikan. Rasa syukur kita dengan melakukan kebaikan akan dibalas dengan rasa syukur Allah kepada kita, dan hubungan ini akan memunculkan rasa cinta diantara kita dan Allah.

Begitu baiknya Allah kepada kita, maka tidak akan mungkin aturannya akan mengekang manusia, khususnya perempuan. Islam bahkan memuliakan perempuan, bukan mengekangnya. Dahulu saat Islam belum datang, perempuan dianggap tidak punya kemampuan apapun, bahkan mereka yang melahirkan anak perempuan, dianggap aib. Namun setelah Islam datang dan menjelaskan peran perempuan, barulah tersadar bahwa peran perempuan sungguh luar biasa dan Islam benar-benar menjaganya.

Fitrah perempuan yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang sesuai dengan tugasnya sebagai ibu dan pengatur urusan rumah tangga (ummu warobbatul bait), bukan mencari nafkah. Rasulullah Saw. bersabda: “Seorang wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepengurusannya.” (HR Muslim)

Tugas mencari nafkah diberikan kepada wali atau suaminya sebagai kepala keluarga. Apabila tidak ada, maka menjadi tanggung jawab negara untuk memenuhi kebutuhannya. Allah menggambarkan sosok dan sifat kepala keluarga ideal dalam beberapa ayat al-Qur-an, di antaranya dalam firman-Nya:

{الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ}

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS an-Nisaa’: 34).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى»

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluargaku”.

Fitrah perempuan ini akan sulit jika mereka harus bekerja di luar, bersaing dengan kerasnya dunia luar. Akan tetapi sangat tepat untuk mendidik anak di rumah dengan penuh kesabaran dan kepekaan. Kedetilan yang dimiliki perempuan  akan mudah mengatur urusan rumah tangga. Sangat berbeda dengan sosok laki-laki yang memang fitrahnya sebagai pemimpin yang dengan ketegasannya dan keilmuan harus menafkahi keluarga dan anaknya, lebih dari itu seorang laki-laki (suami) harus menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka dan itu amanah yang sangat berat.

Fitrahnya perempuan yang cocok sebagai ummu warobbatul bait membuat seorang perempuan harus mendapatkan hak pendidikan yang terbaik sehingga mampu mencetak generasi yang tangguh.

Lalu apakah perempuan tidak boleh bekerja? Tentu boleh, dahulu ada beberapa pekerjaan yang dilakukan oleh shohabiyah, diantaranya menyusui dan mendapatkan imbalan darinya, menggembala ternak, bercocok tanam, industri rumah tangga, merawat pasien, dan pembantu rumah tangga. Perempuan juga dianjurkan mengamalkan ilmu dan bermanfaat buat umat (berdakwah). Akan tetapi tugas ini tidak kemudian membuat tugas utamanya sebagai ummu warobbatul bait terabaikan.

Maka sebenarnya dalam Islam insyaaAllah tidak akan terjadi masalah seperti yang dialami ketika Islam tidak diterapkan.
Sistem yang ada saat ini (kapitalis) menuntut perempuan untuk bekerja, bahkan diantara mereka ada yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Tidak ada penjagaan dan jaminan pemenuhan kebutuhan hidupnya dari wali (keluarga) atau dari negara, membuat mereka harus survive dalam hidupnya sendiri. Tidak jarang dari mereka harus rela meninggalkan keluarga (suami dan anak) mereka untuk menjadi TKW. Jelas hal ini juga akan menimbulkan masalah baru karena hilangnya peran mereka di keluarga.

Para pegiat gender bahkan meyakini, upah setara bagi perempuan yang bekerja adalah bagian dari upaya untuk menyejahterakan perempuan dan mewujudkan kesetaraan perempuan. Namun, sesungguhnya itu hanyalah narasi menyesatkan. Kesejahteraan perempuan niscaya tidak akan terwujud dengan adanya upah setara.

Karena sejatinya, upah setara adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan partisipasi penuh perempuan dalam dunia kerja. Partisipasi penuh perempuan ini tentu saja akan mengganggu bahkan merusak peran kodrati perempuan sebagai istri, pendidik generasi dan pengatur rumah tangga sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Islam.

Alih-alih sejahtera, perempuan malah menanggung beban ganda dan keluarga pun terancam porak poranda. Bahkan perempuan juga menghadapi ancamaan bahaya di tempat kerja. Upah setara hanya janji palsu, karena perempuan sejatinya justru dieksploitasi demi kepentingan pengusaha. Perempuan diperlakukan dan dipandang sebagai komoditas dan “mesin pencetak” uang. Oleh karena itu, tidak heran kini kasus trafficking serta pelecehan perempuan kian marak. Budaya materialis dan konsumtif juga sengaja diciptakan. Keberhasilan seorang perempuan dilihat dari kecantikannya dan seberapa besar dia mampu menghasilkan materi. Walhasil mereka akan berlomba-lomba mempercantik diri dan mengejar materi.

Maka jelaslah, fitrah itu hanya akan terjaga apabila Islam diterapkan. Karena Islam telah membagi peran antara laki-laki dan perempuan.  Peran itu tidak sama dan peran itulah yang akan saling melengkapi diantara mereka. Perbedaan diantara keduanya sejatinya adalah bentuk keadilan Allah yang maha tahu apa yang terbaik bagi yang diciptakan-Nya. Justru apabila laki-laki dan perempuan disamakan itu adalah bentuk kedzoliman (ketidakadilan). Laki-laki berbeda fisik, psikologis dan irodah (kehendak) dengan wanita. Mereka berperan sesuai fungsinya masing-masing dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kekurangan antara keduanya adalah kesempurnaannya. Waallahua’lam bi showwab.

About Post Author