29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Korean Wave Melahirkan Dekadensi Miskin inspirasi

Oleh: Ani Ummu Khalisha
Aktivis Dakwah Peduli Negeri

Ada sesuatu yang menggelitik bagi kita seorang muslim manakala melihat sikap pejabat di negeri ini. Banyak pernyataan dari mereka yang justru menimbulkan kegaduhan di masyarakat bahkan cenderung mengorbankan generasi.

Tengok saja bagaimana pernyataan wapres KH. Ma’ruf Amin untuk peringatan 100tahun kedatangan orang Korea diIndonesia, yang menyampaikan budaya k-pop diharapkan dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri.
Selain lewat industri hiburan, hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea juga semakin diperkuat pada sektor ekonomi, sosial, dan budaya. Karena itu Ma’ruf berharap trend tersebut dapat meningkatkan kerjasama antar negara, khususnya dibidang ekonomi. Tirto.id (20/09/20)

Pernyataan Wapres Ma’ruf Amin soal K-Pop mendapat kritikan keras dari politikus Partai Gerindra Ahmad Dhani.

“Jadi Pak Wapres kita memang tidak paham benar soal industri musik. Harusnya sebelum kasih statement, diskusi dulu sama saya sebagai orang yang sangat paham industri musik,” kata Ahmad Dhani kepada wartawan, news.detik.com (20/9/2020).

Menanggapi pernyataan tersebut tentu kita sebagai muslim wajib mencari tahu layakkah K-pop dijadikan sebuah inspirasi dalam melahirkan kreativitas anak muda Indonesia?

K-pop merupakan bagian dari Korean Wave//Hallyu yaitu istilah kebudayaan atau pop culture yang berasal dari Republik Korea Selatan. Dalam Korean Wave ini orang-orang diperkenalkan tentang kebudayaan Korea Selatan melalui musiknya, film, drama makanan fashion dan juga trendnya. Dan dari semua itu yang paling dikenal banyak orang adalah musiknya yang biasa disebut dengan K-pop atau Korean pop sebutan untuk penggemarnya yaitu K-poper.

Tidak dipungkiri Korean wave menghasilkan banyak materi bagi para pelaku industrinya, bahkan menghasilkan devisa besar bagi Korsel. Namun rentan kerusakan lifestyle dan nyatanya mengekspor budaya kerusakan ke seluruh dunia.
Kontrak kerja ala budak dan persaingan untuk mencapai karir menjadikan depresi hingga bunuh diri. Operasi plastik menjadi hal biasa sebagai tuntutan kesempurnaan dan totalitas dalam berkarya. Terjebak skandal seks demi popularitas.
Korean style yang cenderung menyenangkan dengan tipe kehidupan borjuis memicu pola hidup hedonis materialistis, busana yang terbuka mengundang syahwat, interaksi pacaran hingga seks bebas.

Sisi kelam Korean wave ini sering luput dari perhatian bahkan malah diabaikan. Padahal hal ini sangat berbahaya karena bisa mengubah mindset para generasi, hal ini dapat menyebabkan rusaknya akidah.
Diusia remaja yang cenderung labil, pemilihan idola sering tidak menggunakan pertimbangan-pertimbangan adaptif secara sosial maupun nilai-nilai agama. Mereka akan meniru budaya asing ini dalam semua segi kehidupannya. Lifestyle, busana, aksesoris, makanan, minuman, tingkah laku, kepribadian yang mencontoh para idola semua telah menjadi kiblat dan akan membentuk dan memengaruhi generasi.

Hal ini menyebabkan terkikisnya akhlak generasi dan tentu jauh dari nilai-nilai Islam. Jangan karena alasan hubungan bilateral dan demi meningkatkan perekonomian mengorbankan jati diri sebagai seorang muslim dan mengorbankan generasi.
Generasi muda diseret pada kehidupan yang liberal (bebas). Menjadikan generasi yang lemah secara pemikiran, kepribadian yang mudah dirusak dan kehilangan idealisme. Itulah kerusakan yang ditimbulkan dari budaya hedonis dari negeri ginseng. Padahal sejatinya generasi muda seharusnya menjadi agen of change bukan justru menjadi korban budaya kufur.

Kita harus memegang Islam sebagai sandaran, Al-Qur’an dan sunah harus menjadi pedoman dan penuntun. Inspirasi dan idola terbaik kita adalah Rasulullah saw dan para sahabat.

Islam adalah agama yang sempurna, Islam membawa seperangkat aturan untuk semua sisi kehidupan manusia termasuk melindungi terjaganya generasi. Dalam sistem Islam generasi di didik dan dibina dengan akidah dan tsaqofah Islam. Disibukkan dengan ketaatan dan disiapkan menjadi pribadi yang tangguh sebagai penerus peradaban.
Negara berperan untuk menutup semua konten media yang berisi budaya yang bertentangan dengan Islam. Keluarga dalam Islam berfungsi sebagai madrasah pertama dan utama bagi putra putrinya, sehingga generasi senantiasa menjadikan pola pikir dan pola sikapnya sesuai dengan Islam.
Menjadikan generasi sebagai agen of change sehingga terwujudnya Islam rahmatan lil a’lamiin tidak ada cara lain selain menerapkan sistem Islam secara kafah.

Wallahu a’lam bishshawab

About Post Author