04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Korean Wave, Panutan Kreativitas yang Kebablasan

Oleh: Sri Mulyati
Mahasiswi dan Member AMK

Korea, apa yang terlintas dibenak kita saat mendengar kata Korea. Negara yang memiliki julukan negeri Gingseng. Fakta yang mencengangkan saat mengetahui tentang negara ini. Konon Korea memiliki tingkat operasi plastik tertinggi di dunia. Usia 17 tahun menjadi angka teristimewa bagi mereka karena menantikan hadiah istimewa di hari ulang tahun berupa operasi plastik yang akan mengubah tampilan dan kehidupan mereka. Fisik yang sempurna diyakini dapat mengubah kehidupan.
Tak heran jika kita mendapati wajah mereka banyak yang rupawan nyaris sempurna. Apalagi mereka yang memutuskan untuk bergabung dalam industri musik seperti Girlsband atau Boyband K-Pop.

Hal inilah yang menjadi pemikiran dari penguasa negeri ini untuk meniru bangsa Korea.
Fakta yang mengejutkan datang dari Wakil Presiden Republik Indonesia Kh.Ma´ruf Amin beliau mengatakan bahwa, maraknya budaya K-Pop diharapkan sebagai inspirasi kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia. Ditambah banyaknya wisatawan Indonesia yang datang ke Korea menandakan adanya ketertarikan kepada negara tersebut dan diharapkan tren tersebut meningkatkan kerja sama kedua negara dalam bidang ekonomi. (Tirto.id, 20/09/2020)

Sungguh miris melihat kenyataan ini jika dilihat dari sisi beliau yang notabene kiayi dan paham Islam. Bagaimana pula K-Pop dijadikan inspirasi dalam kreativitas anak bangsa. Sementara kita sudah paham bahwa kultur, agama, maupun ideologi yang mereka emban sangatlah bertolak belakang dan tidak pantas dijadikan role model demi menggugah inspirasi.

Budaya maupun kehidupan mereka yang dinilai hedonis dan materialistis. Dinilai tidak cocok untuk dilirik. Terutama dalam kemajuan bangsa.
Kehidupan sesungguhnya, tidaklah seindah yang ditampilkan dalam Drama series Korea yang menghiasi layar kaca perfilman Indonesia. Sosok para pemain yang ditampilkan perfect dilihat dari segi fisik yakni kecantikan dan kegantengan mereka hasil oprasi plastik yang merogoh kocek. Ditambah harta yang bejibun, jabatan, pasangan hidup setia penuh romantika kisah cinta. Sampai menghipnotis para penonton. Tidak heran jika penonton dibuat terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya.

Selain dari Drama Korea, personil K-Pop yang dipuja-puja generasi milenial. Membuat mereka terjangkiti virus fanatisme akut. Terobsesi akan suara merdu, rupa yang menawan, dan tubuh atletis mampu menghipnotis para remaja yang hatinya sedang dilanda virus merah jambu.

Bagaimana tidak naluri mereka tergoyah saat menyaksikan performa K-Pop. Konser dengan antrian panjang dan tiket mahal mereka perjuangkan, demi bertemu sang idola.
Padahal hingar bingar kehidupan mereka yang menyilaukan mata itu semua palsu. Masih ingat dengan salah satu boyband Korea yaitu Personil Shinee yang akhirnya memilih mati bunuh diri. Kehidupan menyilaukan ternyata semua hanya settingan. Mereka artis Korea tidak sedikit yang menderita depresi akut dan mengalami gangguan psikologis lainnya. Sehingga bunuh diri menjadi pilihan terakhir untuk mengakhiri hidupnya. Korea Selatan menempati posisi tertinggi kasus bunuh diri. Bagaimana tidak, tuntutan kehidupan yang harus sempurna membuat mereka depresi. Padahal kita mengetahui bahwa manusia memiliki kekurangan dan kelebihan sesuai fitrahnya.

Ketika mereka melakukan sedikit kesalahan dan dianggap tidak berguna mereka akan mengambil keputusan berakibat fatal yaitu bunuh diri. Terlebih Korea menganut ideologi Komunis. Dalam ideologi ini menjadikan materi satu-satunya sumber kebahagiaan dan pencapaian kehidupan hakiki. Mereka akan melakukan berbagai macam cara untuk meraih kehidupan yang materialistik . Waupun harus menyalahi fitrah sebagai seorang manusia.

Lifestyle yang ditampilkan oleh mereka bukan satu-satunya jalan menjadi panutan dalam berkreativitas. Malah akan menjadikan dampak kerusakan di kalangan pemuda-pemudi bangsa ini. Industri musik yang dijajakan Korea semata-mata akan meraup keuntungan bagi para pelaku industrinya. Korean Wave akan menghasilkan devisa besar bagi negara tersebut, sedangkan kita mendapatkan dampak kerusakannya. Tidak hanya Indonesia melainkan dunia, kerusakan budaya yang diekspor oleh mereka.

Menanggapi industri musik, salah satu politikus Parta Gerindra Ahmad Dhani yang memiliki latar belakang sebagai musisi memberikan kritik dan saran terkait penyataan Wakil Presiden Republik Indonesia. Beliau mengatakan agar berdiskusi terlebih dahulu sebelum memberikan statement dalam membahas Industri musik kepada beliau. Selain itu, Ahmad Dhani mengatakan bahwa musisi Indonesia jauh lebih bermutu dibanding Korea Selatan. Hanya saja, selama ini belum ada Presiden yang memiliki skil soal Industri dunia. Ahmad Dhani memberikan saran dalam pengembangan musik yakni mencari menteri yang paham soal Industri dunia dan butuh pemerintahan yang suportif. (Detiknews.com, 20/09/2020)

Pandangan Islam terkait Korean Wave

Sebagaimana yang telah dijelaskan di awal, bahwa K-Pop bagian dari Korean Wave bukanlah budaya yang bersumber dari Islam. Maka, segala sesuatu yang mnyangkut hal itu tidak patut dijadikan panutan. Korean Wave bagian dari peradaban diluar Islam dan mengundang kefasadan. Generasi Islam tidak sepatutnya mengikuti segala sesuatu tentang kehidupan mereka.
Tanpa mereka sadari, mereka terjebak dalam tasyabuh bil kuffar. Hal ini sangatlah bertentangan dengan Islam. Sebagaimana yang telah Rasulullah saw sabdakan:

Barangsiapa meniru tingkah laku suatu kaum, maka dia tergolong dari mereka. (HR.Ahmad dan Abu Dawud)

Sejatinya generasi muslim, harus percaya diri terhadap ajaran Islam. Bangga untuk mengkaji Islam dengan keluasan khazanah keilmuan yang dimiliki Islam. Baik dalam hal tsaqofah, hukum-hukum Islam, sejarah ,sirah nabawiyah, dan kisah para ulama terkemukan yang dapat dijadikan sumber inspirasi.

Sebagai contoh, kisah Salman Al-Farisi yang memberikan saran kepada Rasulullah saw dalam perang Ahzab yakni membuat parit untuk menahan serangan dari kaum Yahudi dan kafir Quraisy sebagai strategi dalam melawan mereka. Rasulullah menerima dan melaksanakan saran tersebut. Kita dapat mengambil pelajaran dari kisah ini. Sosok pemuda yang penuh percaya diri dalam menghadapi musuh walaupun dalam kondisi yang mencekam dan hampir diujung kekalahan ketika melihat musuh yang begitu banyak saat itu. Inspirasi datang dari keimanan yang kokoh terhadap ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullaah saw. dan janji Allah akan memenangkan pertarungan diantara mereka.

Maka, generasi muslim sebagai tonggak peradaban harus didorong untuk menguasi ajaran Islam. Mereka hadir ditengah-tengah umat untuk mempromosikan ajaran Islam keseluruh dunia. Menjadikan gaya hidup dengan hukum-hukum Islam sebagai patokan dalam berbuat dan bertingkah laku. Dengan demikian, akan terlahir peradaban mulia yaitu dengan Islam.

Akan tetapi, ajaran Islam yang mulia ini tidak akan mampu berdiri diatas sistem yang rusak yakni sistem kapitalisme maupun komunisme yang mengsung kehidupan hedonis bercorak materialistik. Akan mengalami kesulitan dalam mewujudkan generasi muslim yang penuh ketaatan kepada Allah secara sempurna. Gaya hidup sesuai dengan ajaran Islam akan mental manakala negeri ini masih menjadikan negara kafir sebagai tolak ukur dalam menginspirasi pemudanya.

Sepanjang sejarah peradaban manusia, tidak ada kebangkitan yang sempurna dan mampu menjadikan manusia kembali kepada fitrah penciptaan yakni beribadah kepada Allah Swt, ketika negara kafir dilirik sebagai mercusuar.

Sistem pemerintahan Islamlah yakni dalam naungan khilafah yang mampu mengembalikan generasi Islam menggali inspirasi dalam berkreativitas. Pada sistem inilah, para pemuda-pemudi Islam diberikan kebebasan dalam menggali potensi diri. Tidak hanya itu, mereka diberikan dukungan dan dibiayai oleh negara.

Wallahu a´lam bishshawab.

About Post Author