23/10/2020

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Akankah Sejarah Itu Terulang Kembali?

Oleh : Nuni Toid
Pegiat Dakwah dan Member AMK

Apakah kita mengetahui bagaimana proses berdirinya bangsa ini? Apakah kita mengetahui siapa yang telah berjasa mengusir penjajah di tanah tercinta ini? Apakah kita juga mengetahui akan tragedi kekejaman yang menimpa bangsa ini?

Pertanyaan itu tentu saja dapat kita ketahui dari sejarah. Karena sejarah adalah sebuah peristiwa, atau catatan yang terjadi di masa lalu. Negeri ini adalah bagian dari sejarah. Maka sudah selayaknya kita mempelajari akan pentingnya sejarah. Namun, belum lama ini beredar wacana akan adanya penghapusan mata pelajaran sejarah dari kurikulum pendidikan nasional yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Tentu saja kabar itu menimbulkan polemik di kalangan anak bangsa. Terutama para guru dan akademisi. Tidak terkecuali Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun turut menanggapi polemik tersebut.

Menanggapi problem ini, Komisaris Bidang Pendidikan KPAI, Retno Listyarti mengatakan bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya. Bagaimana mau menghargai kalau pelajaran tersebut tidak diberikan.” Retno pun menilai bahwa wacana menjadikan mata pelajaran sejarah sebagai pilihan (tidak wajib) di jenjang SMA, bahkan menghapus di jenjang SMK adalah tidak tepat. Semua anak berhak mendapatkan pelajaran sejarah dengan bobot dan kualitas yang sama. (mercon.id 20/9/2020)

Wacana penghapusan pelajaran sejarah ini pun dibantah oleh Kemendikbud. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud, Totok Suprayitno menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menghapus mata pelajaran sejarah dari kurikulum pendidikan Indonesia. Hanya saja, saat ini dari Kemendikbud sedang mengkaji rencana untuk penyederhanaan kurikulum pendidikan dengan tujuan memperbaiki pendidikan nasional. Dan untuk wacana penyederhanaan itu akan memerlukan proses dan pembahasan yang sangat panjang. Saat ini masih berada di dalam tahap pertama. (jitunews.com, 20/9/2020)

Meski akhirnya direvisi, masyarakat perlu paham bahwa rencana penyederhanaan kurikulum tersebut berefek tidak wajibnya pelajaran sejarah untuk SMA/SMK. Hal itu tentu saja membuat banyak kalangan merasa khawatir akan bahayanya tersebut. Hingga mengakibatkan para siswa kehilangan memorinya tentang sebagian fakta sejarah. Bisa jadi di antaranya adalah jasa ulama bagi negeri, dan menghapus ingatan pada tragedi kekejaman PKI, dan lain-lain.

Seperti kita ketahui bersama, bagaimana perjuangan para ulama demi membela tanah air dan rela mempertahankan negeri ini. Para ulama bersatu padu, berjuang, dengan berjihad fii sabillillah untuk melawan dan mengusir bangsa penjajah dari bumi tercinta ini.

Begitupun dengan sejarah kelam yang menimpa bangsa ini. Betapa kejam dan sadisnya PKI yang telah membantai sekian banyak rakyat yang tidak berdosa. PKI juga telah membunuh para pemuda terbaik bangsa, yakni para jenderal demi merebut kekuasaan pada waktu itu.

Maka bilamana sejarah itu benar-benar dihapuskan dari mata pelajaran di sekolah. Tentu hal itu akan membuat para generasi bangsa ini menjadi buta, tidak tahu dan tidak akan peduli bagaimana dahulu para ulama membela serta mempertahankan negeri ini dari kekejaman bangsa penjajah. Para pemuda pun tidak merasakan arti cinta kepada negerinya dan tidak mampu menjadikan negeri ini menjadi kuat, jaya, dan maju.

Tentu bila ingin membangun negeri ini menjadi negeri yang sukses dan maju adalah dengan menghidupkan dan mengembalikan peran penting dari arti sebuah sejarah. Bukankah bangsa yang hebat adalah bangsa yang mampu mengenal, menghargai, dan menghormati sejarah bangsanya sendiri?

Karena sejarah itu adalah pangkal kejayaan suatu bangsa. Seperti sejarah tentang jejak Islam dan Khilafah di negeri ini. Seharusnya sejarah Islam itu diajarkan di sekolah, agar para pemuda generasi bangsa menjadi tahu, paham, dan sadar peran penting Islam di bumi Nusantara. Bukan justru ditutupi, dimusuhi keberadaannya, ataupun negara membuat narasi yang menakutkan. Sehingga membuat para pemuda menjauh dari Islam dan ajarannya.

Pangkal dari semua permasalahan yang terjadi saat ini jelas karena diterapkannya sistem kapitalisme-sekuler. Sebuah sistem yang berasaskan manfaat untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Seperti saat ini negara dengan bermodal kekuasaan, melakukan kebijakan dengan membuat wacana penghapusan mata pelajaran sejarah di kurikulum pendidikan sekolah. Mungkinkah di balik kebijakannya itu ada golongan tertentu yang diuntungkan?

Negara pun bebas mengambil keputusan. Mengapa? Sebab undang-undang tertinggi ada di tangan manusia. Aturan agama tidaklah relevan baginya. Agama cukup semisal ketika ada acara sumpah jabatan. Itu pun hanya sekadar simbol saja. Sungguh mereka semakin tersesat dengan kesesatan yang semakin nyata.

Negara semakin tidak mengindahkan aturan agamanya. Dengan bukti negara tega menutupi kebenaran dengan berani berbohong, bahwa tidak ada jejak sejarah Islam dan Khilafah di negeri ini. Negara semakin membabi buta dengan mengkriminalisasi Islam, para aktivisnya hingga kepada ajarannya.

Maka sudah saatnya sejarah Islam dan ajarannya dikenalkan kembali sedini mungkin kepada setiap anak bangsa di setiap lembaga pendidikan nasional sampai ke tingkat yang tertinggi. Hal itu untuk menguatkan keimanan di setiap jiwa kaum Muslimin dalam menghadapi kehidupan.

Sejarah Islam adalah peradaban yang paling cemerlang di sepanjang sejarah. Madinah adalah bukti peradaban Islam yang pertama. Dalam menjalankan pemerintahannya, negara Islam berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Dengan kepala negaranya adalah Rasulullah saw. Sepeninggal Rasulullah saw, negara Islam dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin. Dengan pemerintahannya dinamakan Khilafah, dan pemimpin negaranya adalah Khalifah. Terus berlanjut sampai kekhilafahan Ustmaniyah di Turki.

Kini, sebagai bangsa yang mencintai sejarahnya, bersyukur negeri yang kita cintai ini adalah salah satu negeri yang pernah menjadi bagian dari kedaulatan negara Islam. Semua itu bisa kita lihat dari banyaknya kerajaan-kerajaan Islam yang menjamur di seantero Nusantara. Nenek moyang kita pun sebagian besar adalah beragama Islam.

Sungguh peradaban Islam telah menorehkan sejarah emasnya di sepanjang negeri. Penyebaran agama Islam dilakukan dengan cara damai. Islam pun menjadi bagian sejarah bagi bangsa ini. Semua itu bisa kita lihat dan saksikan bukti nyata peradaban Islam di Nusantara. Seperti bangunan-bangunan keagamaan yang masih berdiri kokoh dan megah. Salah satunya adalah Masjid Agung di Demak, Masjid Ampel di Surabaya, Keraton Yogyakarta dan lain sebagainya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Itu membuktikan bahwa Islam dan Khilafah adalah nyata bukan utopis.

Maka apakah kita rela bila sejarah ini dihapus dan dihilangkan? Sungguh saat ini kita kaum Muslimin harus membuka mata dan membuka hati. Tengoklah akan sejarah Islam yang gemilang. Terbukti Islam telah mampu selama berabad-abad lamanya. Hampir 14 abad memimpin dunia dengan penuh kemuliaan. Akankah sejarah itu terulang kembali?

Allah Swt berfirman :
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (TQS. an-Nur: 55)

Wallahu a’lam bish ash shawab.