04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Taubat bukan hanya Sesaat

Oleh: Siti Ningrum, M.Pd. (Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi Komunitas Menulis)

Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Tidak ada manusia yang sempurna. Sebaik-baiknya manusia pasti pernah melakulan sebuah kesalahan. Termasuk manusia pertama yang Allah ciptakan yaitu Nabi Adam a.s pun pernah melakukan sebuah kesalahan. Karena satu kesalahan yang dilakukannya, maka diturunkanlah ke bumi.

Meskipun demikian, bukan berarti manusia bebas melakukan kesalahan dengan mengulanginya apalagi terus menerus. Maka hal demikian tidak dibenarkan oleh syariat.

Dengan adanya pandemi yang tidak tahu kapan akan akan berakhir, sejatinya kita sebagai manusia perlu kiranya untuk merenungkan segala sesuatu yang menimpa. Baik itu secara individu atau pun sebuah bangsa dan negara.

Dengan meningkatnya kasus korona setiap hari dengan memakan banyak korban, membuat banyak pihak mulai merasa putus asa dengan segala usaha yang telah dilakukan. Apalagi setelah diberlakukan New Normal pada bulan Juli lalu, membuat kasus korona kian meningkat tajam dari hari ke hari. Bahkan DKI Jakarta kembali menerapkan PSBB seperti semula saat awal pandemi mendatangi Indonesia. Presiden Jokowi akhirnya mengintruksikan Lockdown mini (CNNIndonesia, 9/2020).

Bencana yang terjadi baik itu di daratan ataupun dilautan sudah seharusnya menjadi renungan bagi manusia. Bahwasannya semua kerusakan yang ada di bumi itu adalah ulah dari tangan manusia itu sendiri.

Seperti firman Allah dalam QS. Al-Rûm ayat ke 41, artinya:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Seperti halnya kasus virus korona yang melanda dunia. Jika ditelisik, awal datangnya adalah dari negeri Tirai Bambu, wilayah Wuhan. Banyak manusia memakan jenis hewan yang diharamkan untuk dikonsumsi yaitu kelelawar. Dari sanalah kemudian berkembang virus yang sangat mematikan ini dan menyebar hingga ke pelosok dunia termasuk Indonesia.

Saat ini Indonesia dilockdown dunia disebabkan angka kematian virus korona yang semakin hari makin tidak terkendali.

Mungkin saatnya bangsa Indonesia mulai merenungkan mengapa hal ini bisa terjadi. Sejak awal Maret 2020 lalu ketika Indonesia dikabarkan terserang virus korona, seharusnya segera melakukan penguncian atau istilahnya lockdown (karantina wilayah) namun tidak dilakukan, padahal negeri Cina sendiri melockdown Wuhan agar virus tidak terus menyebar. Sehingga sukses dalam kurun waktu tiga bulan Wuhan sudah bisa beraktifitas normal kembali. Tidak bisa dimungkiri motif ekonomi menjadi alasan lain mengapa Indonesia tidak segera memberlakukan lockdown. Namun yang terjadi sekarang adalah Indonesia dilockdown dunia dan resesi ekonomi pun terjadi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan Indonesia siap hadapi resesi ekonomi.

Pemerintah siap menghadapi kondisi resesi, tapi tentunya dukungan dan kerja sama dari masyarakat sangat dibutuhkan. Dengan saling percaya dan saling menjaga, saya percaya seluruh kebijakan akan dapat berjalan dengan lebih efektif” (okezone.com, 25/9/2020).

Tetapi tidak ada alasan untuk tidak segera memperbaiki keadaan sebuah bangsa. Bertaubat dari segala kesalahan yang telah dilakukan agar semuanya kembali menjadi baik dan mendapatkan rahmatNya. Bertaubat disini adalah bermuhasabah secara berjamaah. Introspeksi terhadap diri menjadi hal terpenting sebab bisa jadi kita sendiri pun ikut andil dalam turunnya bencana yang terjadi dimuka bumi ini. Sehingga Allah Swt. Murka dan mendatangkan azabnya bagi umat manusia.

Datangnya sebuah bencana bisa saja manusia yang mengundangnya, untuk itu sudah menjadi kewajiban kita untuk segera bertaubat kepada Sang Pencipta. Bertaubat dengan cara berdzikir dan diikuti amalan soleh lainnya seperti halnya bersedekah.

Ajakan bertaubat kepada rakyat Indonesia pun disampaikan oleh Presiden Jokowi pada saat membuka Muktamar IV PP Parmusi tahun 2020 di Istana Bogor-Jawa Barat.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengingatkan masyarakat untuk tidak lupa mengingat Allah SWT di tengah pandemi Covid-19. Salah satu caranya dengan berdzikir dan taubat (Merdeka.com 26/9/20).

Selain mengajak dzikir dan bertaubat, presiden juga mengingatkan kepada masyarakat untuk berinfak dan bersedekah.

Seperti dilansir dari kompas.com
Presiden Joko Widodo mengajak masyarakat untuk saling membantu antar sesama di tengah pandemi Covid-19 yang turut berdampak pada perekonomian. Bagi umat muslim, Jokowi mengajak untuk memperbanyak infak dan sedekah di masa pandemi ini.

“Kita juga tidak boleh melupakan istighfar, dzikir, taubat kepada Allah SWT, dan memperbanyak infak dan sedekah,” kata Jokowi yang memberi sambutan dari Istana Kepresidenan Bogor (26/09/2020).

Memang benar saat ini banyak sekali masyarakat yang sangat membutuhkan finansial dalam rangka memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi jika mengingat banyak sekali para pekerja yang dirumahkan. Ini menjadi masalah besar masyarakat Indonesia saat ini. Tentu harus ada solusi yang cepat dan tepat agar wabah ini tidak berlarut-larut. Melakukan dzikir dan sedekah hanya sebagian ikhtiar manusia secara pribadi, harus ada hal lainnya yang dilakukan agar wabah segera usai dan kehidupan bisa normal kembali.

Dalam sejarah Islam pernah ada wabah yang lebih mematikan dari virus korona, bukan hanya menyerang manusia, hewan pun semuanya terkena wabah tersebut. Wabah Thaun itu terjadi di Irak, Hijaz, dan Syam. Saat itu pada masa Khalifah Al-Muqtadi Biamrillah pada tahun 478 H.

Hal pertama yang dilakukan oleh beliau adalah bersedekah, karena bersedekah bisa menghilangkan murka Allah maka beliau menyedekahkan harta sebanyak-banyaknya baik uang, makanan atau pun pakaian untuk rakyatnya. Kedua beliau mengumpulkan para ilmuwan untuk meminta pendapatnya dan bersama-sama mencari solusi agar segera ditemukan obat untuk wabah. Ketiga adalah membentuk pasukan untuk melakukan amar maruf nahyi munkar.

Kemudian adalah Amirul mukminin yaitu Umar bin Khatab melakukan lockdown ketika wabah terjadi di Syam.

Kedua khalifah ini pun sukses dengan berakhirnya wabah dalam waktu singkat, tentu atas ijin yang Maha Kuasa.

Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim selalu memberikan kasih sayangnya kepada manusia. Sebanyak apapun manusia berbuat salah, maka Allah sediakan tempat untuk bertaubat.

Namun sejatinya bertaubat bukan hanya sesaat, melainkan bertaubat secara sempurna yaitu dengan menjalankan syariatnya dalam berbagai sendi kehidupan. Sehingga Allah akan memberikan Ampunannya dan mengambil kembali bencana itu. Sebab tidak semata-mata Allah memberikan suatu penyakit jika tidak ada obatnya.

Sesungguhnya manusia itu tetaplah makhluk yang dimana ada titik keterbatasan dan ketidakmampuan dirinya dan disanalah membuktikan bahwa adalah Sang Pencipta yaitu Sang Kholik yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Sudah saatnya manusia tunduk dan patuh pada apa-apa yang telah Allah perintahkan.

Wallohualam Bishowab.

About Post Author