26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Langkah UEA, Akankah Diikuti Indonesia?

Oleh: RAI Adiatmadja
(Founder Komunitas Menulis Buku Antologi)

Jangan bertanya nasib Palestina karena Allah tentu menjaga bumi para nabi tersebut. Namun, pertanyaan lebih pantas ditujukan kepada negara-negara yang mulai mengabaikannya, benarkah akan pula diikuti oleh Indonesia? Mereka seakan-akan tak peduli derita negeri Syam yang semakin hari kian terancam, melakukan normalisasi dengan Israel, melunak pada kaum penjajah.

Sejak intifada kedua yang meletus pada tanggal 28 September 2000 warga Palestina telah menghadapi serangkaian perubahan haluan militer dan kekalahan diplomatik, bahkan perpecahan internal pun terjadi. Kompilasi peristiwa yang terjadi dari intifada Al Aqsa, Yasser Arafat dipenjara, faksi Palestina yang membuat wilayah terbagi antara dua kekuatan, kerusuhan Gaza, Gedung Putih pro Israel. Serta yang terbaru adalah pada 15 September 2020, Uni Emirat Arab dan Bahrain menandatangani Abraham Accords, kesepakatan bersejarah yang menormalisasi hubungan keduanya dengan Israel di Gedung Putih.

Hal itu tidak sejalan dengan konsensus Arab bahwa hubungan lebih lanjut dengan negara Yahudi tidak boleh dinormalisasi sampai negara tersebut menandatangani kesepakatan damai yang komprehensif dengan Palestina. Palestina mengecam langkah tersebut sebagai tindakan ‘menikam dari belakang’.
Pada tanggal 22 September 2020, Palestina mundur dari persatuan Liga Arab sebagai bentuk protes atas kegagalan blok regional itu untuk mengambil sikap terhadap kesepakatan Israel, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Kedua negara tersebut menambah daftar negara di Teluk Arab yang membuka hubungan diplomatik dengan Israel, setelah Mesir dan Yordania. Bagi mereka perjanjian diplomatik tersebut justru jadi tonggak baru dalam menciptakan perdamaian yang lestari antara Israel dan Palestina melalui solusi dua negara/ two-state solution.

Akan tetapi, berbanding terbalik dengan sejumlah pemikir cuma aktivis asal Palestina, antara lain Salem Barahmeh dan Yara Hawari–analis kebijakan senior di Al Shabaka yaitu lembaga kajian independen di Palestina–menurut keduanya melihat normalisasi hubungan diplomatik dan perjanjian damai itu tidak akan mengubah status quo saat ini di Palestina, yaitu praktik penjajahan dan politik apartheid–praktik diskriminasi berdasarkan kebangsaan/ ras yang dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina.
Bagaimana posisi Indonesia saat ini di tengah beberapa negara di Teluk menunjukkan sikap yang lunak terhadap Israel?
Pengamat bidang militer dan pertahanan Connie Rahakundini Bakrie mengatakan  Indonesia harus berani membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Hal ini merupakan upaya untuk memudahkan Indonesia melakukan diplomasi dalam mewujudkan kemerdekaan Palestina.
“Sudah saatnya Indonesia bertindak konkret agar bisa lebih memahami Israel dengan membuka hubungan diplomatik sehingga ada diskusi lebih lanjut,” ujar Connie, Sabtu (26/9).
Ungkapan Connie pun bertentangan dengan jubir Kementerian Luar Negeri RI, pengurus Nadhlatul Ulama, juga pengamat Timur Tengah–Dina Sulaeman– yang mengatakan Indonesia tidak perlu mengikuti langkah beberapa negara Arab yang melunak terhadap Israel.
Bagaimana Islam memandang dan menangani konflik antara Palestina dan Israel, serta tindakan konkret seperti apa yang diambil?
Kita bisa melihat tegasnya Sultan Ottoman, Sultan Abdul Hamid II yang menolak suap ketika diminta menyerahkan Palestina. Sekalipun saat itu Kesultanan Ottoman sedang melemah, tetapi para sultan tetap utuh memberikan komitmen kepada Palestina secara penuh. Sumber diambil dari buku harian Sultan Abdul Hamid II yang menolak permintaan tokoh pendiri negara Zionis Israel, Theodore Herzl, supaya memasrahkan wilayah di Palestina untuk bangsa Yahudi. Permintaan itu ditolak sehingga melahirkan kemarahan besar. Ketegasan itu tiada henti membuat Yahudi menghalang-halangi kekuasaan Sultan Abdul Hamid II yang harus menghadapi manuver keras dari Yahudi Dunamah untuk merebut kekuasaan serta wilayah.
Menurut sejarawan muslim Dr. Muhammad Harb, Yahudi berjuang menembus dinding kokoh Kesultanan Turki agar bisa memasuki Palestina. Pada tahun 1892 Sultan Hamid II dimintai izin oleh Yahudi Rusia agar bisa masuk ke Palestina, tetapi tetap ditolak bahkan lahirlah pemberitahuan bahwa seluruh kaum Yahudi dilarang menetap di Palestina.
Pada tahun 1896 Theodor Herzl kembali menemui Sultan meskipun sudah ditolak dua kali, ia meminta izin untuk mendirikan gedung di al-Quds. Sultan menolak dengan tegas. “Sesungguhnya Kesultanan Ottoman ini adalah milik rakyatnya. Mereka tidak akan menyetujui permintaan tersebut. Sebab itu, simpanlah kekayaan kalian dalam kantong kalian sendiri!”
Yahudi kian gencar melakukan berbagai cara sehingga pada tahun 1900 Sultan Abdul Hamid II mengeluarkan keputusan pelarangan atas rombongan peziarah Yahudi. Pada tahun 1901 keluarlah keputusan pengharaman penjualan tanah kepada Yahudi di Palestina. Pada tahun 1902 Herzl datang lagi tanpa rasa malu untuk menyuap Sultan Abdul Hamid II dengan uang sebesar 150 juta poundsterling khusus untuknya, membayar semua utang Pemerintah Ottoman yang mencapai 33 juta poundsterling, membangun kapal induk untuk pemerintah seharga 120 juta frank, 5 juta poundsterling sebagai pinjaman tanpa bunga, membangun armada tentara laut, universitas di Baitulmaqdis, serta memberikan dukungan politik untuk Sultan Abdul Hamid II di eropa dan Amerika.
Akan tetapi kesemuanya itu ditolak. “Saya tidak akan memberikan toleransi walaupun sejengkal dari bumi Palestina, karena itu bukan milik saya, tetapi milik umat Islam yang telah berperang dan mengorbankan darah untuk mendapatkannya. Sekiranya kamu membayar kepada saya dengan seluruh emas yang ada di atas muka bumi ini sekalipun, saya tidak akan izinkan kamu mengambil bumi Palestina.”
Zionis tak berhenti, kemudian menjalin kerja sama dengan Inggris sebagai penjajah Palestina, kemudian dibukalah jalan masuknya pendatang Yahudi sehingga lokalisasi tidak resmi itu menghimpun mereka di antara genangan darah Palestina.
Terbukti bahwa ‘negara bangsa’ tidak sanggup menjaga Palestina bahkan untuk sekadar setia pun tak bisa memenuhi janji. Pengkhianatan semakin kentara. Hanya satu institusi yang pasti melindungi seperti yang dicontohkan oleh Sultan Abdul Hamid II dan sultan-sultan lainnya. Kini, pelindung itu tiada. Semua kembali kepada kita, mau bersuara atau menikmati geming semata? Saudara kita tertindas sepanjang waktu, menciptakan wajah Islam yang semakin kelabu.

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (TQS. Ibrahim: 42)

Wallahu a’lam bishshawwab.

About Post Author