29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Melindungi Ulama, Merindukan Islam Kaffah


Oleh Salma Rufaidah

Rasulullah Saw. bersabda: “Bukan termasuk umatku orang yang tak menghormati orang tua, tidak menyayangi anak-anak dan tidak memuliakan alim ulama.” (HR Ahmad, Thabrani, Hakim).
Hadis tersebut menunjukkan betapa Islam memuliakan ulama. Namun faktanya hal tersebut tidak terjadi di negeri ini berkaitan dengan beberapa kasus penusukan yang diduga dilakukan oleh orang gila , di antaranya: Pertama, Lampung. Kasus Syekh Ali Jaber saat berceramah di Masjid Falahuddin Bandar Lampung, Ahad (13/9) petang.. Kedua, Pekanbaru. Dua bulan lalu,. Korbannya adalah Imam Masjid Al Falah Darul Muttaqin, Ustaz Yazid. Ia ditusuk oleh jamaahnya menggunakan pisau saat memimpin doa usai salat Isya berjamaah, Kamis (23/7/2020) malam. Pelaku berinisial IM merupakan salah seorang warga yang sering dirukiah oleh Ustaz Yazid. Pelaku menikam korban sebanyak dua kali. Beruntung, Ustad Yazid Umar Nasution selamat dalam insiden tersebut. 
Kasus penganiyaan ulama tersebut tidak hanya itu saja, jauh sebelumnya pernah terjadi baik korban luka atau meninggal. Tindakan tersebut banyak tokoh yang mengecamnya , di antaranya Din Syamsudin. Menurutnya tindakan tersebut merupakan bentuk kriminalisasi terhadap ulama dan kejahatan berencana terhadap agama dan keberagamaan. Din juga meminta pihak kepolisian untuk mengusut pelaku dan membongkar siapa dalang di balik penusukan tersebut (Jakbar.news-Pikiran rakyat.com, 14/9/20).
Apapun alasannya, tindakan menyakiti ulama tidak dibenarkan. Mengapa hal ini sering berulang dalam sistem demokrasi? Seolah ulama tak dihormati dan dihargai, menyerang ulama seakan hal biasa dan alibinya adalah pelaku ‘orang gila’. Begitu hinakah  kedudukan ulama dalam sistem demokrasi?
Seakan menjadi sesuatu yang tidak aneh lagi jika ulama dalam sistem demokrasi dipersekusi, difitnah bahkan dilukai fisiknya. Faham kebebasan yang diagungkan demokrasi nyatanya merusak adab generasi di negeri ini. Seakan gelap, tak tahu mana yang benar dan salah, tak tahu bagaimana harusnya memperlakukan para ulama. Hal yang sangat disayangkan, apalagi jika keberkahan tak pernah diraih dan dirasakan di negeri ini. Selain karena aturan Allah yang dicampakkan, dalam sistem ini tak bisa memperlakukan ulama dengan baik.
Persoalan pandemi yang belum juga kunjung usai ditambah dengan resesi yang terjadi baik di negeri kita maupun dunia. Kejadian ini harusnya menjadi modal untuk melakukan renungan betapa banyak aturan Allah diabaikan ditambah perilaku terhadap ulama yang terus di hina dan di cederai bukan dihormati.
Islam Memuliakan Ulama 
Ibnu Asakir, pernah mengingatkan orang-orang agar berhati-hati dalam menjaga lisan dan perbuatan. Jangan sampai menghina, menjelek-jelekkan, atau menyakiti hati dan perasaan ulama. Sebab, kedudukan ulama berbeda daripada orang biasa, termasuk sekalipun penguasa. “Saudaraku, ketahuilah bahwa daging para ulama itu beracun,” kata pakar hadits sekaligus sejarawan dari Damaskus (Suriah) itu, seperti dikutip dari buku Tasawuf dan Ihsan.
Artinya siapa saja yang menghina, memperlakukan buruk termasuk mencederai apalagi membunuh pasti ia akan mendapat nasib yang buruk. Rosulullah SAW begitu menghormati ulama. Sudah sepantasnya kita mencontoh perilaku tersebut
Al-Imam Abu Bakar Al-Ajurri rahimahullah berkata mengenai kedudukan ulama, “para ulama lebih utama dibanding seluruh orang mukmin dalam setiap waktu dan kesempatan, mereka ditinggikan dengan ilmu dan dihiasi oleh hikmah, melalui mereka diketahuilah halal-haram, haq-batil, dan keburukan dari sesuatu yang bermanfaat dan kebaikan dari sesuatu yang buruk. Keutamaan mereka sangat agung dan kedudukan mereka sangatlah tinggi. Mereka adalah pewaris para Nabi dan penyejuk pandangan para wali Allah.
Di hari kiamat nanti para ulama akan memberi syafaat setelah para nabi. Merekalah orang yang akan memperingatkan orang yang lalai dan mengajarkan orang –orang yang miskin ilmu agama. Mereka membela dan memperjuangkan Islam tanpa khawatir keburukan dan kejahatan bila menghampirinya.
Kedudukan ulama telah menjadi rujukan para Khalifah di sepanjang sejarah peradaban Islam nan gemilang. Tidak hanya rujukan tentang akidah, ibadah, dan spiritual   tapi rujukan di semua bidang karena ulama pada masa Islam berjaya mampu menguasai semua bidang dalam kehidupan. Di antaranya ialah  ulama yang terkenal pada proses penaklukan Konstantinopel, siapa yang tak kenal Aaq Syamsudin yang mengajarkan ilmu-ilmu mendasar kepada Sultan Muhammad Al-Fatih. Ilmu-ilmu tersebut adalah Al-Qur’an, As-Sunnah An-Nabawiyah, fikih, ilmu-ilmu keislaman, dan beberapa bahasa (Arab, Persia, dan Turki).
Bahkan dalam hadis Rasulullah SAW sempat mengkhawatirkan tiga hal yang akan terjadi pada umatnya.  ”Aku tidak mengkhawatirkan umatku kecuali tiga hal,” sabda Rasulullah. ”Pertama, keduniaan berlimpah, sehingga manusia saling mendengki. Kedua, orang-orang jahil yang berusaha menafsirkan Alquran dan mencari-cari ta’wilnya, padahal tak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah. Ketiga, alim ulama ditelantarkan dan tidak akan dipedulikan oleh umatku.” (HR Thabrani).  
Imam Jalaluddin dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Islam memberi kedudukan yang tinggi-mulia kepada para ulama. Karena ilmunya semua kebaikan bersandar kepadanya.
رْفَعِ الله الذين ءامَنُواْ مِنكُمْ } بالطاعة في ذلك { وَ } يرفع { الذين أُوتُواْ العلم درجات } في الجنة
Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian karena ketaatan mereka) dan mengangkat orang-orang yang diberikan ilmu beberapa derajat (di surga. (Tafsir Jalalain surat Al-Mujadalah: 11).
Islam adalah agama yang memberi rahmat bagi seluruh alam, apabila ajaran Islam diterapkan secara kaffah. Agar ajaran Islam bisa dilaksanakan dengan baik, maka para ulama mempunyai peran yang sangat penting sebagai pewaris nabi yang akan menyampaikan kepada umat Islam dan mengajaknya untuk menjalankan kehidupannya sesuai dengan Alquran dan Hadis. Rasulullah bersabda:
إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sungguh para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak. (HR. Tirmidzi, no. hadis 2681).
Dari hadis ini jelas bahwa ulama harus mewarisi Nabi. Artinya apa yang menjadi tanggung jawab Nabi itu akan diwariskan kepada ulama, karena sudah tidak Nabi setelah nabi Muhammad Saw.
Adapun tanggung jawab yang harus diemban para ulama antara lain:
Pertama, sebagai teladan. Rasulullah itu sebagai teladan bagi umatnya, maka ulama juga harus bisa sebagai teladan bagi umat Islam dalam keterikatannya terhadap hukum syara/ ketakwaannya.
Hanya saja kalau Rasulullah dijamin seluruh tingkah lakunya benar, karena yang dilakukan beliau hanya mengikuti wahyu semata. Sedangkan ulama bisa jadi melakukan kesalahan. Karenanya ulama harus berusaha secara optimal dan maksimal bisa dicontoh-menjadi suri tauladan dan diperingatkan keras oleh Allah kalau hanya menyampaikan ilmu mereka saja, tanpa melakukan, sehingga tidak bisa sebagai panutan. Firman Allah:
كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٣
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (QS. Ash-Shaf; 3).
Kedua, Ulama sebagai Pendidik. Ulama yang akan membimbing kaum muslimin menguasai Tsaqafah Islam / ilmu-ilmu Islam(Ushul Fiqih, Fiqih, Ulumul Qur’an, Ulumul Hadits, bahasa Arab dsb) merupakan keniscayaan seorang Muslim. Karena Allah mewajibkan kaum Muslimin menjalani kehidupannya sesuai dengan Alquran-Hadis. Karenanya seorang Muslim wajib mengembalikan segala permasalahan hanya kepada Allah (kepada Islam).
Artinya, kaum Muslimin wajib menyelesaikan seluruh problematika kehidupannya diselesaikan dengan hukum Islam. Setiap Muslim wajib terikat dengan hukum syara’. Sebagaimana Kaidah Ushul:
الاصل فى افعال الانسان تقيد باحكام الشرعية
’Asal dari perbuatan manusia terikat dengan hukum syara’.
Artinya setiap perbuatan harus disandarkan kepada hukum Allah, bahkan ibadah tidak akan diterima sebagai suatu amal saleh pada saat tidak sesuai dengan tuntunan syara’ (Alquran-Hadis). Karenanya mengharuskan seorang Muslim menguasai ilmu-ilmu Islam (Tsaqafah Islam: Ulumul Qur’an, Ulumumul Hadits, Fikih dsb.) dan selanjutnya diimpelementasikan dalam kehidupan sehari-hari serta diperjuangkan, sebagai bukti ketaatan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Firman Allah:
إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ٢٨
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS. Al-Fathir: 28).
Ketiga. Ulama wajib terdepan dalam amar makruf nahi munkar. Imam Jalaluddin dalam tafsirnya surat Ali Imran ayat 104 menafsirkan: Allah mewajibkan kepada seluruh kaum Muslimin untuk mendakwakan ajaran Islam/amar makruf nahi munkar. Tentu lebih-lebih lagi para ulamanya. Karenanya ulamalah seharusnya memimpin mengajak kepada yang ma’ruf (ketaaatan kepada Allah) dan memimpin mencegah kemungkaran (kemaksiatan). Tidak dibenarkan sama sekali duduk berbarengan menyaksikan kemaksiatan.
Selain itu, di dalam sistem Khilafah, ada mekanisme check and balance yang dilakukan oleh kekuasaan, baik melalui Majlis Umat, Mahkamah Mazalim sampai partai politik. Di luar itu, rakyat—baik ulama maupun non-ulama’—mempunyai peranan untuk mengoreksi kebijakan-kebijakan negara. Karena para ulama adalah orang yang paling mengerti hukum syariah tentang pengurusan urusan umat, maka mereka berada di garda terdepan dalam mengoreksi kebijakan negara, yang dianggap menyalahi hukum syariah, zalim atau merugikan kepentingan publik.
Namun demikian, yang harus diingat, Khilafah bukanlah negara teokrasi [dawlah uluhiyyah], tetapi negara manusia [dawlah basyariyyah]. Para Khalifah dan pembantunya bukanlah malaikat. Mereka manusia biasa. Karena itu mereka bisa bersalah. Negara Khilafah juga tidak ma’shûm [bebas dari kesalahan]. Namun, karena mekanisme amar ma’ruf nahi munkar ditegakkan, begitu juga dakwah Islam dilaksanakan, maka kesalahan-kesalahan manusiawi itu bisa diselesaikan, diatasi dan ditutupi.
Itulah mengapa, sejarah Khilafah dipenuhi dengan berbagai sikap ulama yang selalu kritis terhadap kekuasaan, bukan karena oposan, tetapi karena keinginan kuat agar sistem Khilafah ini tetap on the track. Tidak keluar dari jalurnya. Muawiyah, sahabat Nabi saw. yang juga mujtahid, saat menjadi Khalifah, kebijakannya dikoreksi oleh Abu Muslim al-Khaulani di depan publik, karena dianggap salah dalam pembagian ghanîmah. Kritik Abu Muslim yang keras itu dibalas dengan kemarahan. Muawiyah pun menghilang. Ia masuk ke rumah, mandi, lalu keluar menemui khalayak, dan mengatakan, “Abu Muslim benar.” (HR Abu Nu’aim).
Sufyan at-Tsauri juga mengkritik Khalifah al-Mahdi karena penggunaan dana Baitul Mal yang digunakan untuk haji, yang dia tidak tahu jumlahnya. Kata Sufyan, “Apa alasanmu kelak ketika di hadapan Allah tentang itu?” Saat pembantu Khalifah hendak membela dia, Sufyan mengingatkan, “Diam kamu! Fir’aun itu benar-benar binasa karena Haman dan Haman binasa karena Fir’aun.”
Karena kritik keras yang dilakukan oleh Syaikh ‘Abdul Qadir al-Kailani kepada Khalifah al-Muqtafi bi AmrilLah, karena telah mengangkat Yahya bin Sa’id, yang terkenal dengan nama Ibn al-Muzahim, dan dikenal zalim, sebagai hakim [qâdhi], “Kalaulah ada kezaliman orang yang paling zalim ditimpakan kepada kaum Muslim, lalu apa yang kelak akan kamu katakan kepada Rabb semesta alam, yang Mahakasih?” Dia langsung bangkit dan memecat Ibn al-Muzahim.
Para ulama pada masa Khilafah juga menjadi tempat rujukan para penguasa. Jawaban mereka pun tegas dan jelas. Hathith bin az-Ziyat, pernah ditanya oleh al-Hajjaj bin Yusuf, tentang dirinya. Dengan tegas Hathith menjawab, “Kamu adalah musuh Allah di muka bumi.” Bahkan ketika ditanya tentang Khalifah ‘Abdul Malik, “Dia lebih durjana daripada kamu. Kamu adalah salah satu kesalahannya.” Jawaban-jawaban pedas Hathith itu akhirnya mengantarkan beliau menjadi syahid.[6]
Hal yang sama juga dialami oleh Imam Ahmad. Beliau syahid di tangan al-Ma’mun. Hanya perlu dicatat, kasus-kasus seperti ini hanyalah human error, yang dilakukan manusia, karena tidak maksum.
Dari segi hukum, tindakan para penguasa itu jelas salah karena menyalahi hukum syariah. Betapapun kerasnya kritik yang dilakukan terhadap dirinya. Pasalnya, kritik tersebut merupakan bentuk aktivitas politik yang wajib dilakukan oleh para ulama sebagai bagian dari amar ma’ruf nahi mungkar.
Karena itu, faktor ketakwaan masing-masing, baik penguasa maupun ulama, termasuk rakyat, ikut menentukan lurus dan tidaknya sistem pemerintahan ini.
Namun, ketika faktor ketakwaan itu tidak ada, maka para penguasa itu akan melakukan penyimpangan demi penyimpangan. Menutup mata, telinga bahkan hati dari nasihat sekalipun nasihat itu tulus diberikan. Inilah yang terjadi pada al-Hajjaj bin Yusuf. Begitu juga ulama yang tidak mempunyai ketakwaan. Alih-alih melakukan amar ma’ruf nahi mungkar kepada penguasa, justru sebaliknya, menjadi penjilat. Sebagaimana kisah pengkhianatan Wazir al-Qumi dan at-Tusi, di era Khilafah ‘Abbasiyyah.
Selain itu, ada peranan yang berbeda, baik di dalam maupun di luar kekuasaan, tetapi misi dan tujuannya sama, yaitu mengurusi urusan umat, dengan menerapkan hukum syariah secara murni dan konsekuen. Mereka yang di luar kekuasaan tidak memposisikan dirinya sebagai oposisi, tetapi pengontrol jalannya pemerintahan. Karena itu keduanya justru saling menguatkan. Dengan begitu, betapapun kerasnya kritik, tidak akan dikriminalisasi karena itu merupakan kewajiban yang harus ditegakkan. Adapun apa yang terjadi dalam sejarah, itu tak lebih dari kesalahan manusia (human error).
Dengan demikian, maka jelas bahwa para ulama seharusnya menolak segala upaya deideologisasi Islam. Justru para ulama harus berpegang teguh kepada ideologi Islam dan menolak serta membuang jauh ideologi komunisme maupun kapitalisme.
Bahkan, para ulama hendaknya mengerahkan segenap upaya untuk membentengi umat dari kedua ideologi kufur ini dan memperjuangkan agar Islam kembali menjadi ideologi tunggal bagi umat muslim.
Seorang ulama harus meneruskan perjuangan Nabi dalam memberdayakan umat di bidang pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan. Ulama tidak boleh hanya duduk di singgasana keilmuan tapi harus menjadi aktivis pemberdayaan umat, sehingga kemanfaatannya menjadi masif. Hal itu sesuai sabda Nabi bahwa manusia terbaik adalah manusia yang mampu memberikan kemanfaatan bagi orang lain.
Saat ini sinyalemen terjadinya krisis ulama semakin kuat. Semua elemen bangsa harus bergerak bersama untuk meregenerasi ulama. Kebutuhan regenerasi ulama muda yang mempunyai kemampuan, baik keilmuan, spiritual, maupun sosial, serta diberikan kesempatan secara maksimal supaya mampu merespons persoalan sosial yang muncul tepat sasaran.
Potensi besar mereka janganlah terkubur dalam lintasan sejarah. Terbukti dalam Jejak Khilafah di Nusantara telah banyak peran ulama membumikan Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Hal yang tidak bisa di pungkiri lagi dengan melindungi ulama untuk menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar, umat akan semakin merindukan penerapan Islam kaffah..Insya Allah

About Post Author