06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Mampukah Kesetaraan Upah Menyejahterakan Perempuan?

Oleh: Widhy Lutfiah Marha
Pendidik Generasi

Untuk pertama kalinya Indonesia bersama dengan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), turut berpartisipasi dalam merayakan Hari Kesetaraan Upah Internasional yang jatuh pada 18 September lalu. Perayaan tersebut juga sebagai bentuk komitmen dari PBB untuk memperjuangkan hak asasi manusia dan menentang segala bentuk diskriminasi, termasuk diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan.( kumparan.com,19/09/2020)

Dan dari beberapa data, menunjukkan bahwa perempuan Indonesia memperoleh pendapatan 23 persen lebih rendah dibandingkan laki-laki. Data yang sama juga menyatakan bahwa perempuan yang sudah memiliki anak, angka selisih gajinya jauh lebih besar dengan laki-laki. Tentu saja perbedaan upah tersebut berdampak buruk bagi ekonomi perempuan. Terutama pada masa-masa sulit di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

Hal ini tidak hanya terjadi di kalangan menengah ke bawah atau perempuan yang memiliki pendidikan rendah. Data tersebut menunjukkan bahwa banyak juga perempuan yang memiliki gelar D3/D4 atau sarjana, akan tetapi upahnya masih lebih kecil dibandingkan laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan yang lebih tinggi tidak mengurangi angka kesenjangan upah berdasarkan gender.

Melihat problem yang dihadapi perempuan saat ini sangat kompleks, khususnya perempuan bekerja. Mereka tidak hanya dihadapkan pada gaji yang rendah, tetapi juga eksploitasi saat bekerja. Bagi sistem kapitalis, industri adalah pilar utamanya. Sistem kapitalis akan senantiasa berupaya bagaimana agar industri ini bisa terus berlangsung dan berproduksi. Salah satu faktor produksi yang penting adalah tenaga kerja.

Dan tentunya bertumpu pada asas manfaat, kapitalisme memandang bahwa tenaga kerja perempuan lebih menguntungkan. Perempuan umumnya tidak memiliki bargaining position yang memadai sehingga mudah diperdaya dengan gaji yang lebih rendah, pengabaian hak pekerja, dan pembatasan kebebasan dalam berserikat.
Selain itu perempuan adalah pasar yang menggiurkan. Berdasarkan hasil riset tahunan The Asian Parent ‘Indonesian Digital Mums Survey 2018, 99% ibu di Indonesia merupakan penentu belanja keperluan rumah tangga.

Demikianlah perempuan digiring untuk menjadi pemutar roda industri kapitalis sekaligus target pasar melalui jargon women empowering. Hakikatnya, jargon tersebut tak lain adalah salah satu alat untuk melanggengkan hegemoni kapitalisme dunia. Maka menyelamatkan perempuan dengan aksi seremonial semata tidak akan menjadikan perempuan sejahtera. Diperlukan aksi nyata untuk merubah ruh pemberdayaan perempuan.

Islam Sejahterakan Perempuan

Mirisnya, melihat kondisi perempuan kini menunjukkan bahwa betapa tidak mampunya sistem kapitalis ini menyejahterakan perempuan. Dengan kejadian ini seharusnya Indonesia dan dunia melirik ke sistem yang menghargai dan memuliakan perempuan dan sistem itu yakni sistem Islam. Sebuah sistem yang aturannya berasal dari Sang Pencipta yang tentunya lebih tahu segala hal tentang manusia termasuk perempuan. Seperti halnya, sistem Islam telah memberikan aturan yang khusus kepada kaum perempuan untuk mengemban tanggung jawab kepemimpinan dalam rumahtangga suaminya sekaligus menjadi pemimpin bagi anak-anaknya. Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibn ‘Umar:

“Setiap kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…, seorang perempuan adalah pemimpin atas rumahtangga suaminya dan anak-anaknya yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…” (HR Bukhari-Muslim)

Dari hadis tersebut bisa disimpulkan bahwa peran pokok perempuan adalah sebagai ibu dan manajer rumah (ummun wa rabbah al-bayt). Sebagai ibu, kaum perempuan memegang peran penting dan strategis dalam mencetak generasi penerus umat yang memiliki kualitas mumpuni.

Ia berperan dalam mendidik dan membina anak-anak mereka dengan akidah yang kuat yang akan melahirkan generasi yang tunduk pada syari’at dan siap untuk memperjuangkannya. Ia berperan membentuk anak-anak dengan jiwa kepemimpinan yang siap untuk memimpin umat menuju perubahan hakiki dan kebangkitan sejati. Ialah yang digelari ummu ajyal, ibu generasi, karena di tangannyalah kelestarian generasi ditentukan.

Sebagai manajer rumah, perempuan berperan mewujudkan suasana rumah yang memberikan ketenangan, kedamaian dan kenyamanan bagi penghuninya. Dengan demikian, rumah menjadi surga kecil bagi suami dan anak-anaknya. Mereka merasa rumah adalah tempat pulang terbaik setelah selesai beraktivitas sehingga tidak perlu mencari tempat pelarian lain dari kelelahan dan kegundahan.

Jika dikaitkan dengan kondisi umat saat ini yang jauh dari gambaran ideal masyarakat Islam, maka peran perempuan menjadi lebih penting lagi terutama dalam proses mengubah masyarakat yang rusak sekarang ini menjadi masyarakat ideal yaitu masyarakat Islam melalui aktivitas dakwah.

Inilah arah pemberdayaan dan penjagaan perempuan dalam pandangan Islam. Untuk memastikan pemberdayaan perempuan ini bisa berlangsung dengan sebaik-baiknya, Islam membebaskan perempuan dari kewajiban mencari nafkah dan membebankan nafkahnya kepada suami atau para wali. Bila kondisi keluarga tidak mampu atau tidak ada, negara memiliki kewajiban mengambil alih nafkah perempuan. Maka perempuan tidak perlu berlomba dengan kaum adam guna mendapatkan pendapatan dalam rangka memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Arah pemberdayaan perempuan seperti ini, tidak mungkin dilangsungkan dalam sistem kapitalis yang mengukur segalanya dari materi. Arah pemberdayaan ini hanya bisa direalisasikan ketika sistem Islam yang diterapkan, satu-satunya sistem yang berasal dari Sang Pencipta, Yang Maha Tahu akan hamba-hambaNya dan apa yang terbaik bagi mereka. Jadi, tidak akan ada lagi diskriminasi perempuan baik dari sisi hak-hak perempuan maupun perannya.

Wallahu a’lam biashshawab.

About Post Author