23/10/2020

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Sejarah, Identitas dan Peradaban

Oleh : Anisa Alfadilah
Aktivis Muslimah

Melansir dari Tirto. Id, beredar draf Kemendikbud tertanggal 20 Agustus 2020 yang berjudul “Sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Asesmen Nasional”. Pada salah satu bagian draf tersebut menjelaskan bahwa mata pelajaran sejarah tidak lagi menjadi mata pelajaran wajib bagi siswa SMA/Sederajat kelas 10. Melainkan digabung di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Sementara itu, bagi kelas 11 dan 12 hanya masuk dalam kelompok peminatan. Rumornya wacana ini akan diterapkan pada Maret 2021 mendatang, (Tirto.ID.17/9/2020)

Pemberitaan ini menuai tanggapan dan protes dari berbagai pihak terutama para aktivis pendidikan dan akademisi. Diantaranya, Pengurus Pusat Masyarakat Sejarawan Indonesia (PP-MSI), Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Pada intinya mereka menolak penghapusan mata pelajaran sejarah karena mereka menilai sejarah penting untuk membentuk identitas dan karakter siswa.

Hal ini pun ramai jadi perbincangan di sosial media. Mendikbud, Nadiem Makarim angkat bicara dan mengklarifikasi isu tersebut di akun instagramnya @nadiemmakarim pada 20 September 2020. Ia mengatakan “Tidak ada sama sekali kebijakan regulasi atau perencanaan penghapusan mata pelajaran sejarah di kurikulum nasional”.

Meskipun telah diklarifikasi tetap saja rumor ini masih hangat diperbincangkan masyarakat. Karena, rencana penyederhanaan kurikulum dinilai terburu-buru dan sangat tidak efektif, terlebih saat pandemi. Jika memang dirasa perlu rekonstruksi maka perbaikan muatan dan metode pembelajaran itu lebih penting dari pada menghapusnya dari mata pelajaran wajib.

Perlu kita sadari, sejarah memiliki arti penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Apabila bangsa Indonesia tidak tahu tentang sejarah sendiri maka kita tidak bisa berdaulat atas negeri sendiri.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Gil Scott-Heron “If you don’t know where you come from, you won’t know where you going. You have to study your history!”.

Anak didik itu diajarkan sejarah belum tentu mengerti apalagi dihapuskan dan belajar sendiri. Karenanya hal ini berbahaya bisa menimbulkan krisis identitas dalam membentuk karakter anak bangsa. Mereka tidak akan tahu bagaimana sejarah bangsa tentang jasa para ulama hingga tragedi kekejaman PKI di negeri ini. Sangat disayangkan jika dikemudian hari mereka salah mengartikan sejarah bangsa dan lebih mengerti sejarah negara lain.

Dalam Islam pendidikan sejarah menempati posisi penting. Sebagaimana Al-Qur’an lebih dari sepertiga isinya terdapat kisah-kisah. Di mana surat-surat tersebut tergolong surah Makiyyah. Pada tahapan awal Rasulullah saw berdakwah dalam rangka penguatan akidah. Para sahabat diceritakan tentang kisah-kisah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya sejarah bagi generasi.

Dengan belajar sejarah sebagaimana Al-Qur’an mengajarkannya, akan terbentuk generasi yang cemerlang dan mewujudkan peradaban yang gemilang.

Para generasi tidak akan melakukan kesalahan yang sama sebagaimana yang telah dilakukan nenek moyangnya. Begitu juga mereka akan gigih dan berani beramar ma’ruf nahi mungkar dengan mewarisi semangat juang para pedahulunya.

Dengan demikian, kemajuan dan kemunduran generasi tentunya dipengaruhi oleh sejarah. Terlebih generasi Islam, jika mereka tidak mengerti sejarah peradaban Islam di masa lampau seperti kisah keberhasilan Muhammad Al Fatih yang mewujudkan bisyarah Rasulullah dalam membebaskan Konstantinopel, kisah Salahuddin Al Ayyubi yang membebaskan Baitul Maqdis, kisah sang panglima perang Khalid bin Walid, atau kisah-kisah generasi muslim lainnya. Bahkan kisah Fir’aun, Namrud, Abrahah dan Qarun. Maka fokus mereka akan teralihkan dengan derasnya arus informasi yang ada. Mereka lebih paham sejarah Barat ataupun Korean wave dibandingkan sejarah Islam itu sendiri. Hal ini mengakibatkan krisis identitas dan karakter generasi Islam yang berujung pada kemunduran peradaban Islam. Karena pemikiran, perasaan dan perbuatan mereka jauh dari syari’at Islam.

Kaum muslimin hendaknya menjadikan sejarah sebagai pembelajaran dan pengajaran. Sebagaimana Allah Swt telah berfirman dalam QS. Hud ayat 120 yang artinya

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”.

Wallahu a’lam bishshawab.