23/10/2020

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Sistem Islam Mampu Menjamin Stabilitas Ekonomi di Tengah Pandemi


Oleh : Ummu Khansa
Pemerhati pendidikan dan Ibu Rumah Tangga

Pada tahun ini pandemi Covid-19 telah menyebabkan negara di dunia, termasuk Indonesia, mengalami berbagai macam krisis. Mulai dari krisis kesehatan, sosial dan politik hingga ekonomi. Betapa kita saksikan bersama akibat pandemik ini penderitaan, kesusahan dalam menjalani kehidupan dialami seluruh jiwa. Seperti meningkatnya kemiskinan, kelaparan, banyaknya pengangguran akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran, hingga berdampak pada kasus bunuh diri karena himpitan ekonomi yang semakin mencekik. Ketidakpastian mengenai kapan berakhirnya pandemi ini dikhawatirkan akan membuat perekonomian semakin jatuh.
Diawali dari keresahan kondisi ekonomi saat ini, Hadil pemuda asal Bandung (24) dan pemuda lainnya mengajak warga Desa Cibiru Hilir, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung untuk bangkit dari kesulitan. Mereka mengajak masyarakat bergerak dalam sektor usaha penyediaan air minum hasil olahan murni anak bangsa. (www.prfmnews.com, 20/9/2020)
Upaya yang dilakukan para pemuda ini tentu perlu diapresiasi karena mampu mengajak masyarakat untuk berwirausaha. Namun untuk memulihkan ekonomi masyarakat dari keterpurukan tidak bisa dilakukan hanya sebatas individu saja. Dibutuhkan juga peran negara dalam menyelesaikannya. Karena negaralah yang semestinya berperan sebagai penjamin kesejahteraan rakyatnya di kala normal terlebih dalam kondisi pandemik.
Kenyataan yang dihadapi bangsa ini adalah negara masih abai terhadap kebutuhan rakyat. Pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebelumnya penyaluran kebutuhan pokok tidak merata, program pemerintah pun dinilai tidak efektif dalam menjamin keberlangsungan ekonomi, Indonesia pun dihadapkan pada ancaman resesi ekonomi di bulan Desember mendatang.
Jika ditelisik lebih dalam, sejatinya minimnya negara dalam memenuhi kebutuhan rakyat ini disebabkan oleh sistem kapitalis sekuler yang dipakai untuk mengatur kehidupan. Sistem kapitalis sekuler adalah sistem yang mengatur urusan umat dengan mengedepankan materi di atas segala nya termsuk menjauhkannya dari norma agama (syariat Islam). Dalam sistem kapitalis ini pengusaha dan pemilik kebijakan mengatur roda kehidupan berdasarkan asas manfaat, hanya untuk keuntungan sekelompok elit politik dan para kapitalis, sehingga kebutuhan rakyat diabaikan. Tak mengherankan jika akhirnya kebutuhan dasar rakyat tidak dipenuhi. Dan apa yang terjadi semakin mempertegas bahwa sistem politik, ekonomi dan kesehatan yang berjalan di negeri ini telah gagal dalam menghadapi dan mengatasi berbagai masalah yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 ini.
Negara sudah semestinya hadir memulihkan ekonomi masyarakat. Dan sayangnya pemulihan sistem ekonomi yang terpuruk ini tidak bisa dilakukan oleh sistem kapitalis. Sistem ini sudah gagal mengatasi pandemi, apalagi mengatasi keterpurukan ekonomi. Masalah ini haruslah diselesaikan dengan sistem yang berasal dari Sang Pencipta manusia yakni sistem Islam.
Sistem Islam menjadi jalan keluar untuk mengakhiri sederet permasalahan yang membelit kehidupan manusia. Islam adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasulullah saw. untuk mengatur seluruh alam semesta. Islam bukan hanya mengatur ibadah ritual namun juga mengatur urusan ekonomi dan politik. Akan tetapi politik Islam tidak bisa diterapkan tanpa ada institusi negara yang menerapkan sistem Islam.
Dari aspek ekonomi, sistem Islam akan memaksimalkan empat sektor yaitu pertanian, perdagangan, jasa, dan industri. Dalam sistem Islam pertanian berbasis pada pengelolaan lahan pertanian, dimana tanah-tanah pertanian harus dikelola dengan baik dan dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Mekanisme ini dikenal dengan kebijakan intensifikasi. Jika kurang, negara dapat mendorong masyarakat menghidupkan tanah hak milik negara, atau memberikan insentif sebagai modal, dan sebagainya. Ini yang dikenal dengan kebijakan ekstensifikasi.
Ditopang dengan perdagangan yang sehat, tidak ada monopoli, kartel, mafia, penipuan dan riba yang memang diharamkan dalam Islam. Maka hasil pertanian akan dapat diterima langsung oleh pasar sehingga petani dan konsumen tidak dirugikan. Produktivitas tetap tinggi dan pada saat yang sama, harga terjangkau, sehingga negara dapat berswasembada pangan.
Islam juga melarang barang dan jasa yang haram ditawarkan, dibeli dan diterbitkan di tengah masyarakat. Karena itu, hanya barang dan jasa halal-lah yang dapat dikirimkan, dibayarkan dan didistribusikan. Dengan begitu, industri sebagai bentuk aktivitas produksi hanya akan memproduksi barang yang halal. Negara akan memantau dan bertindak tegas dalam pengaturannya, jika barang yang diambil dan dikeluarkan haram, maka hasil industri tersebut hukumnya haram pula.
Selain itu sistem Islam akan mengelola Sumber Daya Alam (SDA) berupa barang tambang, minyak dan gas dengan baik. SDA dikelola oleh negara dan hasilnya akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Sistem Islam menjamin seluruh kebutuhan rakyatnya baik itu kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan publik lainnya.
Dengan sistem ekonomi Islam dan penerapan Islam yang kaffah akan mampu menyejahterakan dan menghindarkan masyarakat dari keterpurukan ekonomi. Demikianlah gambaran bagaimana aturan Islam sedemikian detil mengurusi kepentingan umat dalam berbagai aspek kehidupan. Tolok ukurnya jelas, tujuan jelas hingga keberkahan di bumi dan langit akan diraih sebagaimana firman Allah :
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-Araf :96)
Wallahu a’lam bi ash shawwab.