22/10/2020

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Gerakan Cegah Nikah Muda, Solusi Parsial di Tengah Marak Pergaulan Bebas


Oleh Salma Rufaidah, S. Sos

Dikutip dalam pikiran rakyat.com (8/10/2020) bahwa BKKBN Jabar melakukan Gerakan Sapujagat untuk mencegah nikah muda di Kabupaten Bandung. Gerakan ini dalam upaya melakukan pengarusutamaan pembangunan kependudukan . Kali ini ditetapkannya Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Cilengkrang sebagai Sekolah Siaga Kependudukan (SSK). 
 
Sekolah akan mengintegrasikan pendidikan kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga ke dalam beberapa mata pelajaran atau muatan lokal khusus kependudukan. Sehingga dalam setiap lulusan diharapkan lebih siaga menghadapi dinamika kependudukan.

Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat Kusmana mengaku bersyukur bisa mengembangkan SSK di salah satu sekolah terluar tersebut.
“Kami berharap dengan penetapan SMPN 1 Cilengkrang sebagai SSK mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap masalah-masalah kependudukan yang ada di sekitarnya. Kesadaran ini diharapkan mendorong peran aktif siswa yang nota bene sebagai remaja dalam upaya pendewasaan usia perkawinan. Kami berharap kesiagaan remaja terhadap masalah-masalah kependudukan ini mampu memutus rantai angka pernikahan muda yang masih tinggi di Jawa Barat,” ucap Kusmana pada tim Humas BKKBN. 
 
Kusmana lantas menguraikan alasan pentingnya penundaan usia kawin bagi remaja. Lebih dari dari sekadar kesiapan ekonomi, pernikahan berkaitan erat dengan kematangan organ-organ reproduksi. Kematangan ini berkaitan erat dengan kesehatan calon ibu dan bayi ketika kelak melahirkan. (pikiran rakyat.com,8/10/2010)
Bagaimana menurut Islam Pernikahan Usia Muda atau Dini?
Hukum pernikahan adalah sunah. Dalam sebuah hadis panjang disebutkan, ketika sekelompok orang mendatangi salah satu rumah istri Rasulullah Saw., kemudian mereka menanyakan tentang ibadah Nabi Saw., maka mereka merasa harus melebihi ibadah Nabi Saw..
Maka salah seorang di antara mereka menyatakan bahwa tidak akan menikahi wanita (agar diberi pahala seperti ibadah Nabi Saw).
Ketika sampai berita itu pada Rasulullah Saw., Rasul menjawab,
“Namun aku berpuasa kemudian berbuka, aku salat kemudian aku istirahat (tidur), dan aku menikahi perempuan. Maka siapa yang membenci sunahku, ia bukan termasuk golonganku.” (HR Bukhari no 5063).
Dalam hadis di awal disebutkan bahwa dengan pernikahan, maka akan lebih menjaga pandangan dan menjaga kemaluan
Ini menunjukkan di luar pernikahan, wajib menjaga pandangan dan kemaluan. Interaksi yang mengumbar naluri seksual  (sillah jinsiyah) hanya boleh terjadi antara dua insan berlainan jenis yang telah diikat dengan akad pernikahan. Interaksi dalam masyarakat harus terjaga keamanan hubungannya, terjaga ikatan kerja sama antarmanusia (sillah insaniyah).
Dalam Alquran, Allah SWT berfirman,
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.” (QS An Nur: 30-31)
Dengan pensyariatan anjuran pernikahan bagi para pemuda dalam hadis di atas, menunjukkan masyarakat Islam adalah masyarakat yang bersih.
Aturan Preventif dan penjaga Kesucian dalam Islam
Islam memiliki aturan preventif dalam pergaulan yang mencegah berbagai penyimpangan dan kerusakan; seperti pacaran, pergaulan bebas, hamil di luar nikah, aborsi, pemerkosaan, serta pencabulan.
Pada saat ini larangan pernikahan dini dengan pembatasan usia 19 tahun jelas bertentangan dengan syariat Islam, bahkan kebijakan ini sarat dengan kepentingan politik global yang bertujuan mengurangi populasi penduduk muslim.
Dengan pembatasan usia pernikahan minimal 19 tahun, jelas akan mengurangi waktu yang memungkinkan hamil. Hal ini diketahui seiring gencarnya kampanye kesehatan reproduksi remaja dengan klaim berbagai macam bahaya kehamilan di usia dini. Kalau pernikahan dini dilarang karena alat reproduksi remaja putri belum siap untuk hamil, apakah pergaulan bebas tidak menghasilkan kehamilan remaja? Berapa banyak remaja putri tewas karena gagal aborsi, berapa banyak janin yang digugurkan, bayi yang dibuang, seringkali dalam keadaan sudah menjadi mayat, gara-gara pergaulan bebas yang dibiarkan?
Sejatinya, pernikahan di usia muda jelas sangat penting untuk diperhatikan. Nikah dini mungkin tidak selalu menjadi solusi karena situasi dan kondisi tiap orang pasti berbeda-beda. Di tengah tingginya amoralitas pergaulan bebas saat ini, justru pernikahan tersebut menjadi salah satu penjaga kesucian dan kehormatan generasi. Alhasil, menikah muda selayaknya didukung, jangan dipasung. Menikah muda hendaknya tidak melulu dituding merusak masa depan generasi bangsa. Buka mata, maka akan terlihat jelas, perusak kaum muda adalah pacaran dan banyaknya sarana yang mengantarkan pergaulan bebas seperti film-film murahan, lagu-lagu picisan. Belum lagi berbagai tayangan yang mengumbar aurat dan membangkitkan syahwat dibebaskan tanpa ada larangan, ditambah sarana prasarana yang mendukung seperti taman-taman, cafe, bioskop dan sebagainya. Semua pergaulan bebas ini tumbuh subur akibat paham liberalisme di negeri ini.
Sungguh tidak masuk akal apabila usia 18 tahun masih dianggap anak-anak (usia dini), padahal mereka sudah matang secara reproduksi. Secara mental pun usia 18 tahun sudah cukup stabil apabila mereka mendapat pendidikan dan lingkungan yang baik.
Selain tujuan ini, ada tujuan lain yang sarat dengan kepentingan ekonomi kapitalis, yaitu upaya menyediakan pekerja bagi sektor industri dengan mendorong para pemuda untuk bersekolah dan masuk dunia kerja.
Pernikahan MudaTidak Dilarang dalam Islam
Dalam Islam, pernikahan muda/ dini tidak dilarang, bahkan bisa menjadi solusi menjauhkan anak-anak muda dari keburukan zina dan menjaga kehormatan mereka.
Upaya melarang pernikahan dini bisa dianggap salah satu bentuk kedurhakaan, karena apa yang telah dihalalkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak boleh diharamkan manusia.
Sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS.Al Maidah : 87).
Bila kedua pihak yang akan menikah memiliki kesiapan ilmu, kesiapan materi (kemampuan memberi nafkah), serta kesiapan fisik, maka pernikahan tersebut diperbolehkan selama tidak ada paksaan
Bila persiapan sebelum menikah telah dilakukan, maka usia saat menikah bukan menjadi persoalan. Dan kenyataannya, banyak pasangan nikah muda yang sukses dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Hal itu terjadi karena kedua belah pihak telah saling mempersiapkan diri untuk menikah dan menjalani kehidupan pernikahan menurut syariat Islam, sehingga terwujud rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah.
Serta terhindar dari pelanggaran syariat Islam seperti tindakan KDRT ketika terjadi persoalan antara suami-istri, serta terhindar dari perceraian.
Mereka yang berencana nikah muda seyogyanya diberi bimbingan dan binaan. Termasuk bagaimana menjalani pranikah sesuai syariah, prosesi pernikahan sesuai syariah, dan kehidupan pasca menikah yang juga sesuai syariah. Karena sesungguhnya, menikah adalah ibadah terlama yang dijalani manusia. Maka, betapa ruginya jika tidak terhias oleh ketaatan senantiasa. Pemerintah pun seharusnya membina kedewasaan calon mempelai. Tak kalah penting, juga memahamkan tanggung jawab tentang pernikahan dan kehidupan berumahtangga.
Pembinaan kedewasaan akan berpengaruh pada kematangan berpikir dan keberanian bertanggung jawab. Karena penilaian dewasa bukan sekedar usia, namun ada pada kedua indikator tersebut. Bagi muslim, awalnya mereka harus dipahamkan bahwa usia baligh menjadi patokan dimulainya pembebanan pelaksanaan hukum syariat Islam. Pada masa inilah mulai berlaku standar pahala dan dosa pada seorang hamba. Karenanya, manusia muslim yang dewasa adalah mereka yang harus siap menjadi hamba Allah SWT seutuhnya, terikat secara kaffah pada aturan-Nya.
Kemudian, memahamkan fungsi dan tanggung jawab masing-masing peran dalam rumah tangga. Pernikahan adalah perjanjian agung di hadapan Allah Swt. yang harus dijalani sebagai bentuk ibadah. Suami berperan sebagai penanggungjawab keluarga, dialah pencari nafkah bagi keluarga. Sedangkan istri adalah manajer di rumah, Ia berkewajiban melayani suami dan menjalani fungsi keibuan.
 Sejatinya, pernikahan di usia muda jelas sangat penting untuk diperhatikan. Nikah dini mungkin tidak selalu menjadi solusi karena situasi dan kondisi tiap orang pasti berbeda-beda. Di tengah tingginya amoralitas pergaulan bebas saat ini, justru pernikahan tersebut menjadi salah satu penjaga kesucian dan kehormatan generasi. Alhasil, menikah muda selayaknya didukung, jangan dipasung. Menikah muda hendaknya tidak melulu dituding merusak masa depan generasi bangsaPada akhirnya, kehidupan pernikahan -baik di usia muda ataupun tua- akan lebih mudah dijalani jika ditunjang sistem kehidupan yang mendukung optimalnya setiap peran dalam keluarga. Itulah sistem Islam yang berlandaskan Kitabullah dan Sunnah Rasul. Allahu a’lam []