23/10/2020

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Kritis, Ciri Cerdasmu

By : Ummu Aisyah

Cerdas adalah anugerah yang indah
Dengan cerdas bisa membuat hidup mudah
Dengan cerdas hidup terarah
Dengan cerdas akan terhindar dari gundah

Rizki tak melulu harta
Rizki beragam cara Allah berikan pada hamba
Ilmu adalah rizki berharga
Terlebih paham, rizki yang mulia

Seseorang yang cerdas mudah memahami kehidupan
Seorang yang cerdas pandai memilih jalan hidup
Seorang yang cerdas pandai menempatkan diri
Seorang yang cerdas pasti pandai mengaji diri

Ayah bunda, kira-kira demikian ungkapan saya jika bercerita terkait Ihsan. Anak shalih, cerdas, kritis terkadang narsis hehe 🥰🤭😉, yang memiliki sorot mata tajam. Salah satu ciri anak cerdas memang memiliki sorot mata tajam. Ayah bunda dari Ihsan adalah sahabat seperjuangan, dalam kancah dunia dakwah bi-llisan. Barakallah semoga istiqomah, barakallaah memiliki putra yang cerdas.

Waktu begitu cepat berlalu, ananda Ihsan kini telah kelas 6. Hafalannya sudah 4 juz lebih, tabarakallah shalih, tetap semangat menghafal Al-Quran dan ridha menjadi keluarga Al-Quran. Jika bercerita keseharian Ihsan, tentu banyak hal yang ingin diungkapkan oleh saya. Ihsan anak yang periang, cekatan, murah senyum. Prestasinya kerenn, baik pelajaran umum maupun pelajaran agama. Berbahagialah ayah bunda, memiliki putra seperti Ihsan. Semoga tetap menjadi qurrota a’yun bagi ayah bunda dan kita semua.

Ayah bunda, ketika kita bercerita tentang kecerdasan. Ada salah satu sahabat Rasulullah saw. yang terkenal kecerdasannya. Baik dalam berpendapat, memutuskan atau memahami tentang sebuah keilmuan. Mengapa saya ingin mengulas sedikit kisah sahabat Rasulullah saw. ini?
Semoga ananda Ihsan, bisa terus menggali potensi diri, bercermin dari sahabat Rasulullah saw. sungguh kecerdasan itu rizki yang sangat berharga. Tidak boleh diabaikan. Namun manfaatkan sebaik mungkin…berikut kisah sahabat yang cerdas :

’Ali bin Abi Thalib adalah seorang sahabat yang sangat jenius. Ia dibesarkan oleh Nabi Muhammad saw. dan berkesempatan menemani Nabi selama 30 tahun. Ibnu Ishaq menceritakan dari Mujahid bin Jabir bahwa ketika suku Quraisy didera krisis pangan, Abu Thalib memiliki banyak tanggungan anak. Nabi saw. pun berinisiatif membantu mereka dengan mengajak pamannya yang kaya di antara Bani Hasyim, yaitu ’Abbas. Kata Nabi, ”Paman, Abu Thalib memiliki banyak keluarga yang harus ditanggungnya. Padahal, seperti engkau lihat sendiri, kita semua sedang mengalami kesulitan hidup. Bagaimana kalau kita menemui Abu Thalib dan membantunya meringankan bebannya. Aku akan mengasuh salah satu anaknya, dan engkau juga akan mengasuh satu anaknya”.

’Abbas menerima ajakan Nabi tersebut. Mereka berdua pun pergi ke rumah Abu Thalib. Setelah bertemu Abu Thalib, mereka berdua berkata, ”Kami berdua ingin membantumu meringankan beban keluargamu dengan mengasuh anak-anakmu sampai keadaan yang sulit ini pulih kembali.” Abu Thalib menjawab, ”Tinggalkan ’Aqil bersamaku di sini. Masing-masing kalian boleh memilih selain dia”.

Setelah itu, Nabi membawa ’Ali sedangkan ’Abbas membawa Ja’far untuk dirawat dan dididik. Sejak itu, ’Ali hidup bersama Nabi Muhammad hingga Allah mengangkat beliau menjadi Nabi dan Rasul. ’Ali pun mengikuti beliau, beriman kepada beliau dan membenarkan risalah beliau. Sedangkan Ja’far tinggal bersana ’Abbas sampai ia masuk Islam dan bisa hidup mandiri.

Ali adalah salah satu intelektual terbesar di antara para sahabat Nabi. Sebagaimana Aristoteles, beliau juga dikenal sebagai bapak ilmu pengetahuan Islam. Di dalam kitab Izalat Al-Khifa’, Shah Waliyullah memuji intelektualitas ’Ali yang tinggi sebagai akibat didikan yang diberikan Nabi. Kenyataan ini dikuatkan oleh pernyataan Nabi sendiri, ”Aku adalah gudang ilmu pengetahuan dan ’Ali adalah gerbangnya”. Ia juga dianggap sebagai ahli tafsir. Selama 6 bulan pertama kekhalifahan Abu Bakar, ia mengatur bab-bab Al-Qur’an menurut urutan waktu turunnya wahyu.

’Ali juga dikenal sebagai seorang mujtahid dan pakar hukum pada zamannya. Ia mampu menyelesaikan hal-hal yang pelik dan yang paling musykil sekalipun. Bahkan ’Umar dan sayyidah ’Aisyah menyampaikan berbagai kesulitan yang mereka hadapi kepada beliau. Dikisahkan, pada suatu waktu 2 perempuan bertengkar memperebutkan seorang bayi laki-laki. Masing-masing menyatakan bahwa bayi itu adalah anaknya. Kedua perempuan itu lalu dibawa menghadap ’Ali. Sesudah mendengarkan penjelasan masing-masing dari kedua perempuan tersebut, ia memerintahkan agar bayi itu dipotong-potong. Mendengar hal itu, seorang di antara perempuan tadi langsung menangis dan dalam linangan air mata memohon kepada khalifah untuk menyelamatkan si bayi dan dialah ibu si bayi yang sesungguhnya. ’Ali langsung memberikan bayi itu pada ibunya, dan menghukum perempuan yang satunya lagi. ’Umar pernah mengomentari ’Ali sebagai berikut, ”Semoga Allah melindungi; kita boleh saja menghadapi isu yang kontroversial, tetapi ’Ali selalu bisa menyelesaikannya.”

Demikian kisah singkat sahabat Ali yang cerdas bahkan jenius. Semoga kisah sahabat ini bermanfaat untuk ananda Ihsan. Mampu mengambil pelajaran dan semoga makin pandai bersyukur dari rizki cerdas yang Allah titipkan kepada antum. Barakallah shalih🥰🤗😘