23/10/2020

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Tepatkah Membuka Kembali Sektor Pariwisata di Masa Pandemi?


Oleh Dra. Hj.Ummu Salma


Dampak pandemi covid-19 terhadap bidang ekonomi semakin hari semakin terasa. Kini pemerintah Indonesia tengah gencar melakukan upaya pemulihan kondisi perekonomian di berbagai sektor yang terpukul akibat pandemi. Berbagai upaya terus dilakukan oleh negara untuk bisa bertahan hidup dalam kondisi sulit seperti saat ini. Berbagai program digulirkan termasuk insentif diberikan dalam berbagai bidang antara lain bidang pendidikan, kesehatan, sosial kemasyarakatan, tak terkecuali untuk sektor pariwisata sebagai salah satu penyumbang devisa negara terbesar.
Sebenarnya bidikan terhadap pemberdayaan ekonomi dari bidang pariwisata sudah bergulir sejak berlakunya era New Normal Life bersamaan dengan dibukanya kembali kesempatan bagi seluruh aktivitas agar berjalan seperti biasa. Dengan pesan: tetap memperhatikan protokol kesehatan, yakni menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, serta menjaga jarak. Pada kesempatan itu Presiden Jokowi meminta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio untuk menyiapkan promosi pariwisata dalam negeri yang bebas dari ancaman virus covid-19. (Detik, 5/6/20)
Di bidang pariwisata negara terus memberikan dorongan agar sektor pariwitasa ini kembali bergairah. Termasuk di dalamnya pembukaan kembali objek-objek wisata, lokal ataupun nasional. Objek wisata bersekala nasional pun satu persatu mulai di buka, antara lain, Candi Borobudur, Taman Mini Indonesia Indah, Taman Safari Bogor, termasuk objek wisata di Bali. Demikian juga, tempat-tempat hiburan, serta fasilitas publik lainnya. Negara telah menggelontorkan dana milyaran rupiah bagi para influencer untuk mempromosikan wisata di berbagai tempat. Selain itu, dibuka destinasi wisata baru atau menyempurnakan objek wisata yang sudah ada. Dengan maksud agar wisatawan lokal ataupun manca negara tertarik untuk datang. Dengan demikian pemberdayaaan ekonomi masyarakat akan bangkit dan akan menambah devisa bagi negara.
Kenyataan ini terjadi di masa pandemi covid-19, yang seyogianya menjadi perhatian khusus berbagai pihak, tidak terkecuali negara, sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap solusi pandemi ini. Faktanya, dengan dibuka kembali sektor pariwisata, masyarakat yang positif covid -19 jumlahnya semakin bertambah. Dari laman worldometers yang dikutip (Minggu, 11 Oktober 2020) tercatat sejumlah kasus covid-19 mencapai angka positif 328.952 orang, meninggal 11.765 orang, sembuh 251.481 (CNBC Indonesia).
Layaknya penawaran barang, pariwisata pun termasuk salah satu komoditas yang menjanjikan keuntungan yang sangat fantastis. Jadi berbagai upaya pemasaran pun terus dilakukan. Apakah pemasaran pariwisata dengan menggunakan metode hard selling akan lebih efektif jika dibandingkan dengan metode pemasaran soft selling? Atau keduanya akan dijalankan bersama-sama? Seperti apa yang kita pahami dalam dunia bisnis kita mengenal istilah hard selling dan soft selling. Yang dimaksud dengan hard selling adalah sebuah metode pemasaran secara langsung dan terbuka. Atau menurut versi lainnya, hard selling adalah sebuah metode pendekatan untuk melakukan penjualan (sales) yang bersifat gamblang atau langsung. Tujuannya agar konsumen dapat terdorong untuk langsung melakukan transaksi terhadap produk yang diiklankan. Sementara soft selling adalah dapat diartikan secara sederhana sebagai penjualan halus. Sementara menurut versi yang lain, metode soft selling adalah sebuah metode pendekatan penjualan yang menggunakan tutur bahasa yang cenderung halus.
Pemasaran pariwisata dengan menggunakan metode hard selling telah menimbulkan kritikan dari berbagai pihak, mengingat kondisi Indonesia dan negara-negara lainnya sedang mengalami situasi kesehatan yang kritis akibat pandemi ini. Hal tersebut diungkap peneliti komunikasi dan media Universitas Padjajaran, S. Kunto Adi Wibowo, Ph.D. Melalui analisa big data di media sosial, ia menangkap maraknya percakapan netizen yang memperbincangkan langkah pemerintah untuk menangani sektor pariwisata di tengah pandemi. Baik dalam sentimen yang negatif maupun positif. “Sejak Agustus hingga September ada banyak percakapan negatif di media sosial dimana masyarakat bingung, hal apa yang sebenarnya harus dilakukan. Apakah pergi travelling atau tetap diam di rumah,” ungkap Kunto dalam paparannya di konferensi internasional The 2nd Padjadjaran Communication Conference Series: The Role of Communication Science in Enhancing Collaborative Action yang digelar secara daring, Kamis (1/10/2020). (Ayobandung.com).
Maraknya percakapan tersebut menyusul pemberitaan di berbagai media masa yang menyatakan angka kasus positif covid- 19  di Provinsi Bali kembali melonjak di akhir September 2020, setelah pemerintah setempat membuka kembali wilayahnya untuk wisatawan domestik. Kebijakan tersebut banyak menuai sentimen negatif dari percakapan-percakapan yang dipantik berbagai influencer di media sosial.”Banyak orang berpikir bahwa program promosi tempat-tempat wisata lewat influencer untuk mengajak masyarakat pelesir dalam situasi pandemi adalah hal yang tidak tepat,” ungkapnya.
Sebenarnya, tidaklah heran solusi yang diberikan oleh negara yang menerapkan sistem Kapitalis Sekuler, yang terlihat hanyalah bagaimana sesuatu itu bisa menghasilkan materi. Tanpa peduli, apakah kebijakan itu akan menimbulkan kemadharatan yang lebih besar. Seperti apa yang terjadi saat new normal life diberlakukan. Hal yang sama terjadi pada saat sektor pariwisata dibuka kembali. Pemasaran yang massif terus dilakukan, alih-alih mengatasi masalah pandemi covid-19, malah korban positif meningkat drastis jumlahnya, baik yang positif ataupun yang meninggal. Padahal kita memahami, bahwa satu nyawa saja hilang tanpa alasan syar’i, disampaikan dalam hadist Rasulullah saw, bagaikan hancurnya dunia ini. Rasulullah saw bersabda “Sungguh dunia ini hancur lebih ringan di sisi Allah daripada seorang muslim yang terbunuh.” (HR An-Nasa’i, at-Tirmidzi, dan al Baihaqi). Demikian juga diibaratkan laksana membunuh umat manusia seluruhnya. Allah SWT berfirman: Siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Siapa saja yang memelihara kehidupan seorang manusia, seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (TQS. Al-Maidah:32).
Demikianlah Islam, memberikan gambaran kepada kita, bahwa solusi permasalahan kehidupan ini harus diselesaikan sesuai dengan syariat-Nya yaitu Syariat Islam. Adanya pandemi, pasti membawa konsekuensi logis terhadap persoalan ekonomi makro ataupun mikro. Keputusan negara harus mempertimbangkan kemaslahatan umat manusia seluruhnya, bukan kemaslahatan segelintir orang (para Kapital), apalagi dengan mengorbankan ribuan nyawa manusia. Maka sebagai umat Islam, dengan kekuatan iman yang ada, kita harus yakin solusi pandemi ini akan cepat dan tepat diatasi hanya dalam sistem Islam, yaitu Daulah khilafah Islamiyah a’la minhajjinnubuwwah. Wallahu a’lam bi ash shawwab.