04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

PERAN PEMUDA DALAM ARUS PERUBAHAN YANG FUNDAMENTAL


Oleh : Inayah
Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah

Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia. Begitu kalimat yang terlontar dari bapak Presiden Indonesia pertama, Presiden Soekarno. Terdengar gemuruh semangat memanggil orangtua yang akan dicabut akar semeru oleh nya dan 10 orang pemuda yang akan mengguncangkan dunia. Perbandingan jumlah yang cukup signifikan antara orangtua dan pemuda yakni 1000 : 10. Lantas mengapa Bung Karno menggadang- gadang dengan 10 orang pemuda saja akan mampu mengguncang dunia? Karena memang di punagak anak muda mereka memiliki peran dalam agen of change atau agen perubahan.
Pemuda merupakan garda terdepan dalam proses perjuangan , pembaruan,dan pembangunan bangsa. Potensi yang ada pada pemuda menjadi penentu kualitas bangsa di masa depan. Buruk kondisi kaum muda hari ini, suramlah nasib bangsa tersebut di kemudian hari. Hal ini mengandung makna yang begitu mendalam, betapa pemuda memegang peranan yang sangat penting untuk kelanjutan sebuah peradaban. Namun apa yang terjadi hari ini, pemuda dikerdilkan perananya dengan beragam arahan yang bersifat sistemik.

Gelombang demontrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja masih berlanjut. Namun sayangnya, wujud aspirasi ini minim apresiasi. Keberadaanya dipropagandakan sebagai aktivitas brutal yang tidak bermanfaat.
Seperti saran Said Aqil pada pihak yang masih menolak Omnibus Law untuk menempuh jalur hukum lewat MK. Menurutnya, langkah tersebut lebih terhormat dari pada demontrasi.
Begitu juga apa yang menjadi respon Kemendikbud terhadap demontrasi mahasiswa yang menerbitkan surat larangan mahasiswa melakukan demontrasi.para dosen diminta untuk memastikan mahasiswanya melakukan proses pembelajaran dari rumah.
“Menghimbau para mahasiswa-mahasiswi untuk tidak ikut serta dalam kegiatan demontrasi atau unjuk rasa untuk menyampaikan aspirasi yang dapat membahayakan keselamatan, dan kesehatan mereka di masa pandemic ini’’ bunyi surat yang ditandatangani Dirjen Pendidikan Anak dan Pendidikan Tinggi Kemendikbud Nizam, Jumat 9 oktober 2020. (pikiran rakyat.com)
Sebenarnya, mahasiswa dan para buruh sebagai penggerak utama unjuk rasa bukannya tidak mengetahui bahaya yang mengintai mereka, bahwa potensi terciptanya klaster unjuk rasa itu besar, namun kedzaliman yang begitu tampak atas pengesahan UU Cipta Kerja telah mendorong mereka untuk melakukan perubahan.
Apabila pelarangan Nadiem kepada mahasiswa untuk berdemontrasi karena alasan pandemic, lantas kenapa pemerintah ngotot akan menyelenggarakan Pilkada? Kampanye–kampanye yang dilakukan para calon seringkali tidak mengindahkan protocol kesehatan.
Wajar jika banyak pihak beranggapan pelarangan demontrasi hanyalah upaya untuk meredam gejolak yang timbul akibat disahkanya UU Cipta kerja . bukan semata untuk keselamatan. Sungguh mengerikan pemerintah anti kritik akan membawa negeri ini menuju malapetaka yang lebih besar.
Menyedihkan memang, hidup dalam system kapitalis sekuler, peran kaum intelektual berusaha dikerdilkan, Mahasiswa ideal adalah mahasiswa yang keseharianya berkutat dan focus pada pembelajaran saja dan abai pada fakta kehidupan yang terjadi. Wajar karena mahasiswa telah diproyeksikan untuk menduduki tempat- tempat yang telah disiapkan oleh para korporasi.
Label mahasiswa sukses adalah dia yang bisa bekerja di perusahaan yang bonafide dengan gaji besar, merupakan propaganda busuk untuk mengkerdilkan peran mahasiswa dalam politik . digiring untuk sekedar memikirkan diri mereka sendiri. Dan menjadi apatis tehadap masalah keumatan dan bangsa. Maka nasib masa depan bangsa tertutupi dengan ambisi- ambisi pribadi. Kondisi mahasiswa seperti ini lebih memperkokoh hegemoni para korporasi.
Pemerintah mengklaim telah mengetahui siapa dalang di balik demo besar- besaran ini. Menurut Airlangga Hartanto, ada pihak-pihak tertentu yang memiliki ego sectoral yang membiayai aksi massa. Ia menuding sponsornya adalah tokoh-tokoh intelektual yang ada dibalik layar. (Detik.com, 8/10/20). Sejalan dengan Menhan Prabowo pun nengatakan aksi massa yang menolak Omnibus Law telah ditungangi pihak asing yang tidak menyukai Indonesia menjadi negara aman dan maju, serta menebar hoaks pada rakyat tentang Omnibus Law UU Cipta Kerja. (cnnindonesia, 13/10/2020).
Lantas bagaimana dengan aksi mahasiswa, apakah juga ditunggangi? Atau gerakan tersebut hanya untuk memenuhi pihak- pihak yang berkepentingan? Terlepas dari ada tidaknya kepentingan dibalik aksi, penting untuk dipahami bahwa makna perubahan haruslah menyentuh hal yang esensi. Tidak boleh ada kepentingan yang menungganggi kecuali kepentingan umat.
Apakah dengan adanya pembatalan Omnibus Law lantas akan selesai persoalan buruh?telah kita ketahui bersama , bahwa jauh sebelum Omnibus Law dirumuskan telah lahir banyak undang- undang yang propokatif. UU Omnibus Law hanyalah sebuah layanan yang semakin prima dari para penguasa terhadap para pengusaha.
Intervensi asing dan juga kepentingan oligarki kekuasaan begitu mencengkram negeri ini rakyat tidak punya kekuatan untuk menolak hasil produk para penguasa . Omnibus Law hanyalah salah satu produk dari system demokrasi kapitalisme sekulerisme. Maka dari itu, para mahasiswa atau buruh janganlah hanya menolak undang- undangnya saja, tapi harus menolak tempat yang mewadahinya sebagai pabrik penghasil undang- undang yaitu system kapitalis demokrasi sekules yang telah nyata menyengsarakan rakyat dan telah melanggengkan para oligarki yang serakah. Dan perubahan inilah yang harus menjadi tujuan mendasar.
Akan tetapi, jalan yang harus ditempuh menuju perubahan yang mendasar tidak lah bisa dengan mengunakan jalan demokrasi , akan tetapi menggunakan jalan atau metode diluar aturan main system ini. Metode seperi apakah itu?
Metode perubahan yang fundamental adalah berlandaskan pada Alquran dan Sunnah. Karena Islam adalah agama yang rahmatan lil a’lamin, agama yang mampu menebar rahmat kepada seluruh alam . Islam mampu menyelesaikan seluruh persoalan manusia dan kehidupan , termasuk permasalahan bernegara.
Mahasiswa sebagai generasi pelaku utama perubahan, jelas peran mereka dalam pandangan islam begitu mulia . karena mahasiswa adalah ahlu ilmu yaitu orang yang sedang mempelajari ilmu dan memiliki ilmu dengan ilmunya akan mampu memberi manfaat pada umat. Allah SWT berfirman: “Niscaya Allah akan mengangkat (derajat)orang yang beriman dan yang berilmu beberapa derajat.” (QS Al-Mujadilah :11). Selain ahlu ilmu , mahasiswa adalah seorang pemuda. Sejarah islam telah menorehkan sosok pemuda sebagai agen perubahan. Mereka tampil di garda terdepan dalam memperjuangkan kebenaran. Lihatlah sosok Muhammad Alfatih. Pemuda berusia 21 tahun yang sanggup menaklukan benteng konstatinopel tahun 1453.
Sahabat Ibnu Abbas pernah menyatakan , “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan pemuda. Dan seorang alim tidak diberi ilmu pengetahuan oleh Allah SWT melainkan di waktu masa mudanya.”
Di dalam system Islam rakyat yang mengkritik kebijakan penguasa adalah bentuk amar ma’ruf nahi mungkar kepada penguasa. Hal ini seperti yang disampaikan Rasulullah SAW dalam sabdanya’’ sebaik- baik jihad adalah perkataan yang benar kepada pemimpin yang dzalim”.( HR, Ahmad, Ibn Majah, Abu Dawud, al-Nasai, al- Hakim dan lainnya). “ Penghulu para suhada adalah Hamzah bin Abd al-Muthalib dan orang yang mendatangi penguasa yang dzalim lalu memerintahkanya ( kepada Allah) dan mencegahnya dari keburukan, kemudian ia penguasa dzalim itu membunuhnya”. ( HR . Al- Hakim dalam al-Mustadrak , al- Thabarani dalam al- Mu’jam al- Awsath)
Mahasiswa adalah kaum intelektual muda . dengan ilmu dan energi yang dimiliki akan mampu membawa bangsa ini menuju perubahan yang hakiki, yaitu diterapkanya Islam sebagai system yang menaungi negeri ini dan menyelamtakan seta membawa keberkahan dunia akhirat. Namun , langkah pemuda akan terhenti dan tidak berarti jika haluan dalam pergerakanya tidak mencontoh Nabi.
Maka dari itu wahai pemuda, mari bangkit bersama, melawan tiran yang terus berbuat dzalim pada umat. Jangan biarkan waktu, pikiran, dan energimu terkuras hanya untuk perubahan yang parsial tapi harus membawa perubahan yang fundamental yaitu terwududnya kembali system Islam yaitu Daulah Khilafah Islamiyyah.

Waallahu a’alam bi-ashawab.

About Post Author