25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Eggi Sudjana : Polisi Jangan Asal Tangkap, Papua Merdeka Jelas Makar dibiarkan..??

Bareskrim Polri menangkap Suri Nur Rahardja alias Gus Nur di Malang, Jawa Timur, karena dianggap menghina NU. Dalam ujarannya, Gus Nur juga menyinggung nama pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda, sementara Abu Janda yang sering melecehkan Ulama dan umat Islam di Medsos tidak pernah diproses apalagi langsung ditangkap oleh Polisi padahal Abu Janda sudah banyak dilaporin ke pihak kepolisian namun tidak pernah serius ditangani oleh Polri.

Sebelumnya, Bareskrim menyebut ujaran Gus Nur itu mengandung SARA. Ujaran Gus Nur tersebut disebarkan dalam akun YouTube MUNJIAT Channel pada 16 Oktober 2020. Gus Nur menyebut sejumlah nama. Dia menyebut nama pegiat media sosial Permadi Arya atau Abu Janda, Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas, hingga Ketum PBNU Said Aqil Siroj.

Namun Bareskrim masih menyelidiki motif Gus Nur diduga menyebarkan ujaran kebencian tersebut. Motif masih dalam pendalaman pihak kepolisian, Gus Nur ditangkap di rumahnya di Pakis, Malang, Jawa Timur. Dia ditangkap pada Sabtu (24/10/2020) pukul 00.00 WIB.

Gus Nur ditangkap atas laporan dari NU. Gus Nur dianggap telah menyebarkan informasi untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan yang bermuatan SARA dan penghinaan. Saat ini Gus Nur sudah ditetapkan sebagai tersangka. Namun Prof Eggi Sudjana Mastal Advokat Senior menyayangkan tindakan polri yang langsung main tangkap saja tanpa melakukan klarifikasi atau pemeriksaan awal atas laporan tersebut.

Penangkapan terhadap Gus Nur sama saja dengan pembungkaman terhadap demokrasi. Lagi pula, banyak hal janggal mewarnai proses penangkapan itu. Sama seperti halnya dengan 9 orang Aktivis KAMI yang ditangkap secara tiba-tiba ditengah malam tanpa melalui sebuah proses penyidikan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku

“Tentunya penangkapan Gus Nur sangat berbahaya bagi perkembangan demokrasi ke depan terlebih dalam isu-isu pelanggaran IT yang selama ini selalu menjadi senjata andalan POLRI untuk membungkam kepada siapapun yang mengkritisi Pemerintah dan kroni-kroninya, padahal dalam setiap pemerintahan itu perlu kritikan – kritikan dari rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi di NKRI” kata ESM, Minggu (25/20/2020).

“Penangkapan kepada GUS NUR terjadi tiba-tiba dini hari tanpa prosedur pemanggilan terlebih dahulu. Ini jelas telah melanggar ketentuan Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana yang mengamanatkan sebelum penangkapan mestinya dilakukan upaya paksa pemanggilan,” ungkap ESM

Di sisi lain Polri membiarkan kegiatan makar di Papua, seperti Video yang direalese PARAPARATV HUT Negara Papua Barat Ke 9 Tanggal 19 Oktober 2020 di Sentani – Papua Barat yang melalui Presiden Papua Barat FORKORUS YABOISEMBUT yang telah menyurati Presiden Jokowi untuk merundingkan terkait Proposal Negara Papua Barat.

Jelas Kalo seperti ini apakah Polri langsung bisa menangkap padahal itu jelas-jelas MAKAR dan kalo Polri tidak berani namanya apa..??, jangan Polri hanya bisa menangkapi dan menghalangi buruh dan mahasiswa yang baru mau berangkat demo yang menuntut BATALKAN UU OMNIBUSLAW sudah diblokir ditengah jalan bahkan ditangkapi padahal belum sampai di tempat melakukan Aksi Unjukrasa, terang BES

Kembali ke Masalah HUT PAPUA BARAT Merdeka Itu jelas MAKAR, pembahasannya dari KUHP jo Pasal 107 UU No.27 Tahun 1999. seharusnya Polisi segera tangkap itu Forkorus Yaboisembut yang mengaku sebagai Presiden Negara Federal Papua Barat..!!!, tapi kenapa sejak Tanggal 19 Oktober 2020 kemarin tidak ada penangkapan/penggerebekkannya???
Bandingkan dengan penangkapan dan penahanan Eggi Sudjana Tahun 2019, M. Jumhur Hidayat, Syahganda Nainggolan, Anton Permana, Gus Nur , Aktifis KAMI Sumut. Ini sungguh ketidakadilan aparat hukum yang nyata, bagaimana diskriminasi hukum ini terjadi yang jelas-jelas bertentangan dengan UUD 45 Pasal 27 ayat 1. mengapa pihak polisi kok diam saja..??? jelas bang Eggi dengan nada kesal

About Post Author