04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Kapitalis: Biang Ketidakadilan pada Rakyat


Oleh : Nurul Aini Najibah
Aktivis Dakwah

Akhir-akhir ini, kita menyaksikan penggusuran lahan baik yang sudah terjadi maupun yang masih berupa ancaman dalam berbagai bentuknya terjadi di mana-mana dengan dalih apa saja. Seperti misalnya demi pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum. Yang terbaru terjadi di Pasar Sehat Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang dieksekusi untuk pembangunan Jalan Tol Cileunyi Sumedang Dawuan (Cisumdawu).
Pantauan detikcom, Rabu (30/9/2020), usai pembacaan penetapan eksekusi lahan oleh petugas Pengadilan Negeri Bale Bandung dua alat berat langsung merobohkan satu persatu kios di pasar tersebut. Seperti diketahui, ada 169 kios yang dieksekusi. Saat dilakukan eksekusi kios itu sudah ditinggalkan oleh para pedagang. Kuasa Hukum PT Biladi Karya Abadi (PT BKA) Wardjojo mengatakan, eksekusi lahan ini merupakan bentuk kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pemerintah.
Eksekusi lahan yang rakyat saksikan sebenarnya bukanlah fenomena baru. Pemerintah sudah sering menggalakkan pembangunan proyek-proyek raksasa yang berakibat pada maraknya penggusuran yang dilakukan. Tak tanggung-tanggung, banyak orang bisa dikorbankan dalam pembangunan tersebut. Terkadang tanpa ganti rugi yang memadai atau bahkan tanpa ganti rugi sama sekali. Dengan bermodalkan ancaman aparat, kekerasan fisik, kriminalisasi, atau tuduhan bagi rakyat yang menolak program pemerintah dan pengusaha. Dalih yang dikeluarkan pemerintah hampir selalu sama, demi kepentingan negara, untuk kemajuan rakyat, meningkatkan pembangunan, dll yang dengan dalih-dalih itu pemerintah seakan menutup mata serta telinga pada keinginan rakyat yang tidak ridha atas kebijakan pemerintah yang lebih banyak zalimnya ketimbang maslahatnya.
Kasus-kasus di lapangan pun menunjukkan betapa banyak rakyat kecil yang harus rela menerima perlakuan tidak adil. Sebaliknya, orang-orang kaya mendapatkan penghormatan. Semua ini dikarenakan satu paham yang dianut negara dalam memimpin pemerintahannya berpihak pada pemilik modal saja tanpa memperhatikan keinginan rakyat. Itulah demokrasi Kapitalisme. Tak mengherankan bila banyak kalangan mengatakan tebang pilih dalam keadilan di negeri ini. Seolah-olah keadilan tersebut milik mereka yang punya modal. Sudah menjadi rahasia umum, uang bisa menentukan hasil akhir dari sebuah perkara. Siapa yang mampu membayar, merekalah yang akan diuntungkan. Inilah salah satu kecacatan hukum kapitalis-demokrasi. Mirisnya, hukum jenis ini pula yang tetap dipertahankan di negeri ini.
Dalam pandangan Islam, segala sesuatu yang ada di langit dan bumi (termasuk lahan/tanah) hakikatnya adalah milik Allah Swt semata. Kemudian, Allah Swt sebagai pemilik hakiki, memberikan kuasa (istikhlaf) kepada manusia untuk mengelola milik Allah ini sesuai dengan hukum-hukum-Nya.
Firman Allah Swt:
”Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.” (TQS. al-Hadid [57]: 7).
Filosofi kepemilikan tanah dalam Islam ada 2 (dua) poin, yaitu: Pertama, pemilik hakiki dari tanah adalah Allah Swt. Kedua, Allah Swt sebagai pemilik hakiki telah memberikan kuasa kepada manusia untuk mengelola tanah menurut hukum-hukum Allah.
Maka, eksekusi lahan oleh pemerintah diperbolehkan jika memang direlakan oleh pemiliknya dan benar untuk kemaslahatan umat. Namun, meskipun begitu pemerintah harus memberikan ganti rugi yang wajar. Yang tak kalah penting, pemerintah juga harus memikirkan bagaimana nasib rakyat pasca eksekusi lahannya. Pemerintah juga harus mengelola harta milik umum dan milik negara secara optimal dan penuh amanat. Sehingga dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi rakyat. Pemerintah harus bertanggung jawab penuh atas kondisi rakyat termasuk hal-hal yang menyangkut hak-hak rakyat. Setiap kebijakan pemimpin yang menyangkut hak-hak rakyat dikaitkan dengan kemaslahatan rakyat banyak dan ditujukan untuk mendatangkan kebaikan.
Seperti halnya kebijakan yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab saat beliau memberikan keadilan saat penggusuran tanah.
Suatu hari, beliau sedang beristirahat, lalu kedatangan seorang Yahudi. Dia tergopoh-gopoh datang menghadap Umar untuk mengadukan sebuah persoalan. Dia bercerita bahwa Amr bin ‘Ash, Gubernur Mesir telah menggusur paksa rumahnya untuk diganti dengan Masjid. Masjid itu dibangun di samping istana Amr yang megah. Orang Yahudi itu tak mau rumahnya digusur meski Amr memberikan penawaran hingga lima belas kali lipat agar dia mau pergi. Namun, dia menolak mentah-mentah keinginan Amr. Akhirnya, Amr pun menggusur paksa rumah Yahudi itu.
Kepada Umar, dia pun berkisah bahwa rumah itu didirikannya dari hartanya sendiri. Begitu banyak kenangan hidupnya berada di rumah tersebut. Wajah Umar merah padam menahan marah. Dia pun meminta kakek Yahudi untuk mengambil tulang belikat unta dari tempat sampah. Umar kemudian menggores tulang tersebut dengan huruf alif yang lurus dari atas ke bawah. Di tengah goresan lurus, dia membuat satu goresan melintang menggunakan ujung pedang. Tulang itu pun diserahkan kembali kepada kakek untuk diberikan kepada Amr.
Dia kebingungan ketika diminta untuk membawa tulang itu untuk Amr. Dia tak paham apa yang hendak ditunjukkan Umar lewat sepotong tulang. Sesampainya di Mesir, kakek itu pun menghadap Amr bin Ash dengan tulang bergores pedang Khalifah. Melihat tulang itu, wajah Amr pucat. Tanpa menunggu lama, dia mengumpulkan rakyatnya untuk membongkar kembali Masjid yang sedang dibangun dan membangun kembali rumah milik kakek Yahudi itu
Lantas, orang Yahudi itu merasa heran. Dia meminta Amr untuk menjelaskan makna di balik tulang dari Umar. Amr bin Ash berkata tulang ini merupakan peringatan keras dari Khalifah. Lewat tulang, Umar seolah hendak mengingatkan, apa pun pangkat dan kekuasaan seseorang suatu saat akan bernasib sama seperti tulang ini.
“Karena itu bertindak adillah kamu seperti huruf alif yang lurus. Adil di atas dan adil di bawah. Sebab kalau kamu tidak bertindak adil dan lurus seperti goresan tulang ini, maka Khalifah tidak segan-segan untuk memenggal kepala saya”, jelas Gubernur Amr bin ‘Ash.
Orang Yahudi itu tunduk. Dia terkesan dengan keadilan dalam Islam. Dia pun mengikhlaskan tanahnya untuk pembangunan Masjid setelah mengucap syahadat untuk masuk agama Islam.
Kisah penggusuran gubuk orang Yahudi menjadi salah satu prinsip keadilan yang diaplikasikan di dalam Islam. Pemimpin umat dilarang untuk mengambil tanah milik orang lain dengan kezaliman.
Oleh karena itu, telah nyata bahwa hanya hukum Islamlah yang mampu memberikan keadilan secara menyeluruh pada umatnya. Maka, sudah seharusnya negeri dan rakyat ini segera meninggalkan sistem kapitalis yang melahirkan hukum yang semu, bobrok dan terbatas menuju pada sistem Islam. Hanya sistem ini lah satu-satunya yang mampu menjamin kehidupan rakyat secara aman, adil dan bebas dari krisis. Jaminan itu diberikan serta akan dinikmati oleh seluruh umat.
Wallahu a’lam bi ash-shawab.

About Post Author