26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Kemana Arah Seruan Perubahan Itu?

Oleh : Hasni Rahantan
( Aktivis dan Member AMK)

Pengusaha merespons langkah (BEM SI) yang menggelar demo menolak Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker). Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, UU ‘Sapu Jagat’ ini dibuat untuk menciptakan lapangan kerja yang manfaatnya bisa dirasakan para mahasiswa. Sementara mahasiswa setelah lulus tentu membutuhkan pekerjaan. Oleh karena itu dirinya heran bila mereka menentang UU Ciptaker. “Mahasiswa itu kan pencari kerja nantinya. Jadi ini kan kita lakukan untuk mereka juga gitu supaya lapangan pekerjaannya ada. Kok malah didemo. Jadi kadang-kadang kita juga nggak mengerti nih tujuannya apa kok bisa ada demo-demo mahasiswa seperti ini,” kata dia saat dihubungi (Detik com).
Respon penolakan demo UU ciptaker ini juga datang dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Nadiem Makarim ) dengan mengeluarkan surat edaran tentang pelarangan mahasiswa untuk tidak ikut aksi demo Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja resmi . Bunyi suratan edaran adalah : “Menginstruksikan para dosen untuk senantiasa mendorong mahasiswa melakukan kegiatan intelektual dalam mengkritisi UU Cipta Kerja, maupun produk kebijakan lainnya,” bunyi surat yang ditandatangani Dirjen Pendidikan Anak dan Pendidikan Tinggi Kemendikbud Nizam, Jumat 9 Oktober 2020. “Dan tidak memprovokasi mahasiswa untuk mengikuti/mengadakan kegiatan demonstrasi/unjuk.

Gelombang massa yang melakukan aksi menolak UU Omnibus Law Cipta Kerja semakin besar. Pemerintah mengklaim mengetahui siapa dalang yang menggerakkan demo besar-besaran sejak beberapa minggu lalu. Hal itu disampaikan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dia mengaku tahu pihak-pihak yang membiayai aksi demo itu. “Sebetulnya pemerintah tahu siapa behind demo itu kita tahu siapa yang menggerakkan, kita tahu siapa sponsornya kita tahu siapa yang membiayainya,” ucapnya. Airlangga juga menyinggung pihak yang dituding sebagai sponsor aksi demo penolakan UU Omnibus Law Cipta Kerja. Menurutnya mereka memiliki ego sektoral yang tinggi tanpa memikirkan nasib massa yang turun ke jalan. “Tentu kita juga melihat bahwa tokoh-tokoh intelektual ini saya lihat mempunyai, ya cukup dalam tanda petik ego sektoralnya yang cukup besar. Karena para tokoh ini tidak ada di lapangan, mereka adalah di balik layar,” tutupnya. (CNBC Indonesia TV).

Perlu dipahami bersama bahwa terlepas dari berbagai motif kepentingan, niat yang mendorong mahasiswa untuk turun ke jalan maka mereka patut diapresiasi.
Namun, sedari awal kita sebagai kaum intelektual harus mampu menjawab dengan tuntas kemana arah, yang menjadi konsen kita ketika memutuskan melebur turun ke jalan, kesadaran ini harusnya menghujam di sanubari para intelektual muda sehingga tak ada namanya seruan perubahan yang berujung anarkis.

Seruan perubahan yang perna terjadi pada tahun 1998 menjadi titik awal perubahana Reformasi Indonesia setelah jatuhnya Orda Baru, namun apakah seruan perubahan itu benar-benar berhasil ? Tentu jawabanya tidak seruan perubahan itu hanya mengganti rezim orda baru beserta para anteknya namu luka yang telah mendara daging yang dirasakan masyarakat masih tetap terjadi hingga saat ini dan seterusnya korupsi, kolusi, nepotisme pengganguran, kemiskinan, biaya pendidikan yang mahal dan berbagai permasalah lainya masih menghantui negeri ini.

Sehingga para intelektual muda, para pembawa perubahan harus mampu menelaah sejarah sehingga seruan perubahan itu benar–benar menyentuh akar permasalahan agar seruan perubahan itu tak hanya menawarkan solusi pragmatis, tetapi mampu menawarkan solusi yang sistematis dan terorganize. Para intelektual harusnya tidak boleh termakan oleh muka manis rezim, para intelektual harusnya tak boleh ditunganggi kepentingan apapun ketika menyeruh perubahan jika tidak arus perubahan itu hanya akan sia-sia tanpa berujung happy ending.

Akar permasalahan yang menjadi penyebab mundurnya taji para intelektual muda saat ini tak lain lahir dari sistem kapitalisme sekuler yang melahirkan generasi muda yang apatis, pragmatis, dan alergis, sistem yang meninabobokan kaum intelektual, sistem yang menawarkan semangat semu nasionalisme sehingga kaum intelektual tak mampu berpikir cemerlang dalam menawarkan solusi tuntas atas setiap permsalahan negeri ini.

Sistem yang menjadikan kaum intelektual alergi terhadapat syariat yang justru dari syariat itulah menjadi kunci jawaban terhadap permsalahan hari ini, sistem yang jelas menjadikan kaum intelektual cacat dalam perilaku dan pemikiranya.
Sehingga jika berbicara mengenai perubahan maka perubahan itu harusnya dari sistem shohi , sistem yang mampu menjadi problem solving bukan sistem abal-abal yang gagal menjadi problem solving.

Setiap intelektual mudah harusnya mampu mengindra dan memahami dengan jelas ideologi manakah yang sedang diperjuangkan ideologi shahih atau ideologi kufur? jika sudah memahami jenis ideologi ini maka kaum intelektual akan mudah mengarahkan perahu perjuangan itu sehinga perahu selamat sampai ke dermaga tujuanya.

Dermaga yang mampu mengarahkan perahu itu dengan baik hanya akan di temukan pada sistem yang lahir dari Dinul Islam yang mampu mencetak generasi dengan akidah yang shahih generasi yang mampu pemimpin peradaban dunia, generasi gemilangan dengan mejadikan dinul Islam memimpin dunia tanpa ada sekat nasionalisme.

Mush’ab bin Umair adalah sosok pemuda Islam yang memiliki giroh menuntut ilmu syar’i yang tinggi, mengamalkan, dan mendakwakanya, Mush’ab juga sosok pemuda yang mengajarkan bahwa dunia ini tidak ada artinya dibanding dengan kehidupan akhirat, Ia tinggalkan semua kemewahan dunia ketika kemewahan dunia itu menghalanginya untuk mendapatkan ridha Allah Swt.

Itulah potret pemuda yang lahir dari sistem yang benar, sistem yang mencetak generasi rabbani dan idealis, sistem itu yakni Daulah Khilafah Rasyidah yang mencetak para penakluk dan pemimpin peradaban itu yang telah terjadi 1380 tahun silam ketika kehilafahan khulafur rasyidin memimpin bukan sistem bathil yang mencetak generasi yang meproritaskan kehidupan dunia yang hedonis.

Maka semestinya para intelektual muslim saat ini sepatutnya menjadikan pemuda–pemuda Islam dulu sebagai rool model dalam menyeruh perubahan hakiki.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author