06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Mungkinkah Penghapusan UN, Solusi Pendidikan?

Oleh: Sri Mulyati
(Mahasiswi dan Member AMK)

Baru-baru ini dunia pendidikan kembali dihebohkan dengan program penghapusan Ujian Nasional, yang dicanangkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim. Program ini telah di bahas sejak tahun 2019 lalu.

Ujian Nasional (UN) 2021 rencananya akan dihapus. Ikatan Guru Indonesia (IGI) mendukung penghapusan UN karena UN selama ini tidak memiliki manfaat yang signifikan terhadap siswa. IGI pun pernah mengusulkan dibuatkan sistem portofolio sebagai tempat catatan siswa tersimpan sejak awal masuk sekolah sampai tamat. Hal ini dilakukan untuk pemetaan kebutuhan pemerintah terhadap dunia pendidikan dan bisa dilakukan tanpa melibatkan seluruh siswa. Cukup dengan menggunakan sampel dan data statistik yang sangat baik. (Republika.co.id, 13/12/2019)

Dilansir Kompas.com. Pada tahun 2021 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menerapkan Assesmen Nasional pengganti ujian nasional. Assesmen Nasional tidak hanya sebagai pengganti Ujian Nasional dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional, tetapi juga sebagai penanda perubahan paradigma evaluasi pendidikan.

Nadiem Makarim mengatakan, Assesmen Nasional tidak hanya mengevaluasi capaian peserta didik secara individu, tetapi juga mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses dan hasil.

Menurut Nadiem Makarim, potret layanan dan kinerja setiap sekolah dari hasil Assesmen Nasional ini kemudian menjadi cermin untuk kita bersama-sama melakukan refleksi mempercepat perbaikan mutu pendidikan Indonesia.

Akan tetapi, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo menilai, Assesmen Nasional menimbulkan kekhawatiran. Adanya tumpang tindih pekerjaan karena saat ini ada Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP).
(Kompas.com, 11/10/2020)

Definisi Assesmen Nasional
Assesmen Nasional 2021 adalah pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah dan program kesetaraan jenjang sekolah dasar dan menengah.

Assesmen Nasional terdiri dari tiga bagian yaitu: Assesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. AKM ini dirancang untuk evaluasi capaian peserta didik dari aspek kognitif yaitu literasi dan numerasi.

Kedua aspek kompetensi minimum ini adalah syarat bagi peserta didik dalam berkontribusi di tengah masyarakat. Bidang kerja dan karir yang mereka tekuni di masa depan. Penilaian Mendikbud. Assesmen Nasional 2021 dilakukan sebagai sebagai pemetaan dasar (Base Line) dari kualitas pendidikan yang nyata di lapangan, sehingga tidak ada konsekuensi bagi sekolah dan murid. (Kompas.com, 11/10/2020)

Penghapusan Ujian Nasional Solusi Masalah Pendidikan?

Evaluasi pendidikan secara Nasional melalui Ujian Nasional sejak dulu telah diberlakukan. Ibaratnya belajar selama tiga tahun ditentukan oleh tiga hari Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan. Mulai jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas atau sederajat. Ujian Nasional yang biasanya dilakukan memberikan dampak secara psikologis. Siap atau tidak ujian akan tetap dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan. Namun, ketika masih ada Ujian Nasional pun tidak menjamin lulusan memiliki kontribusi yangg baik di masyarakat setelah lulus. Hasil capaian setiap orang berbeda-beda.

Begitupun proses pembelajaran di sekolah yang didapatkan tidaklah merata. Kembali kepada pelayanan pendidikan, semakin mahal ongkos pendidikan yang diberikan, pelayanan pendidikan diberikan baik. Namun, hal demikian malah menghasilkan diskriminasi di bidang pendidikan.

Sejalan dengan penuturan pengamat pendidikan Najeela Shihab menilai kondisi sistem pendidikan Indonesia sedang mengalami kondisi gawat darurat. Yakni masalah akses, masalah kualitas, dan masalah kesenjangan. Akses pendidikan yang diperoleh anak-anak tidaklah merata yang mengakibatkan putus sekolah. Anak-anak yang bersekolah belum tentu mendapatkan kualitas pembelajaran yang seharusnya dan masalah kesenjangan yang telah penulis jelaskan di atas.

Demikianlah sistem demokrasi mengatasi masalah pendidikan yang menimbulkan ketimpangan sejak tahun 2013 hingga sekarang. Revisi pendidikan tidak mampu menjawab persoalan pendidikan di Indonesia.

Penghapusan ujian nasional menjadi angin segar untuk meningkatkan mutu pendidikan. Namun, apakah dengan Assesmen Nasional mampu menyelesaaikan masalah pendidikan saat ini. Dimulai dari tujuan pendidikan yang berorientasi kepada pencapaian materi. Kurikulum pendidikan yang berganti-ganti. Hingga siswa yang cacat moral. Serta masalah-masalah yang lain.

Sistem Pendidikan Islam

Berbeda dengan sistem Islam yakni khilafah dalam melakukan evaluasi pendidikan yang akan bermuara kepada lulusan yang memiliki pola pikir Islam (Aqliah) dan pola sikap Islam (Nafsiyah). Sehingga tercermin kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah). Evaluasi pendidikan dilakukan ketika siswa telah menyelesaikan pembelajaran secara menyeluruh sesuai dengan kurikulum pendidikan Islam yang telah ditetapkan.

Evaluasi dilakukan ketika siswa tersebut benar-benar dalam keadaan siap artinya tidak ada paksaan. Untuk memperoleh gambaran capaian selama ia belajar. Proses evaluasi tidak hanya menilai pengetahuan secara kognitif saja. Namun, penilaian dilihat dari sisi aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai refresentasi ilmu yang diperoleh selama ia belajar.

Sistem evaluasi dalam pendidikan Islam dikembangkan dari Allah dan rasulnya yang berimplikasikan pedagogis sebagai berikut:

Untuk menguji daya kemampuan siswa beriman terhadap berbagai macam problem kehidupan yang dialami. Firman Allah Swt dalam QS.al-Baqarah [2]: 155.

“Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa,dan buah-buahan. Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar”.
(QS.al-Baqarah [2]: 155)

Untuk mengetahui sejauh mana hasil pendidikan wahyu yang telah diaplikasikan oleh Rasulullah saw kepada umatnya. Firman Allah Swt tercantum dalam QS.an-Naml [27]:40.
Untuk menentukan klasifikasi tingkat hidup atau keimanan seseorang.
Untuk mengukur daya kognisi. QS.al-Baqarah [2]: 31
“Dan dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu semua yang benar!”.
Memberikan semacam tabsyir (berita gembira). Bagi yang beramal baik dan memberikan iqab bagi yang beramal buruk. QS.az-Zalzalah [99]: 7-8.

Dengan demikian, kebijakan pendidikan dalam sistem khilafah diberlakukan dengan berbagai pengkajian dan kesiapan lembaga pendidikan. Tidak terkesan dipaksakan.

Wallahu a’lam bishshawab

About Post Author