30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Merdeka Belajar; Memandulkan Kritik


Oleh: Zahra Aulia (Pegiat Literasi, Member AMK)

Kondisi Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Di awal bulan Oktober rakyat Indonesia dikagetkan dengan ketukkan palu disahkannya undang-undang sapu jagat ala penguasa saat ini. Disinyalir undang-undang ini adalah jawaban atas berbagai permasalahan yang sedang dihadapi masa kini. Saat ini salah satu masalahnya yakni, perlambatan ekonomi global dan potensi stagnasi perekonomian Indonesia serta belum optimalnya daya saing Indonesia.

Merespon pengesahan undang-undang sapu jagat tersebut, ribuan mahasiswa, buruh, dan pelajar turun ke jalan melakukan demonstrasi. Menuntut agar undang-undang yang tidak pro rakyat tersebut agar tidak disahkan. Berdasarkan catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahwa per Sabtu (10/10) ada 3.665 anak diamankan oleh kepolisian di seluruh Indonesia selama beberapa hari demonstrasi menentang undang-undang cipta kerja. (bbc.com, 15/10/2020).

Dalam media yang sama bahwa para pelajar yang ikut dalam demonstrasi dan berpotensi rusuh, akan dipersulit saat membuat SKCK. Sebagaimana Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono mengatakan, mekanisme pencatatan SKCK itu hanya berlaku bagi pelajar yang memang terbukti melanggar hukum. Kalau tidak terbukti melakukan tindak pidana tidak menjadi masalah. Kebijakan kepolisian yang akan mempersulit Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) kepada pelajar yang terbukti melanggar hukum dalam demonstrasi anti undang-undang Cipta Kerja, menuai sejumlah kritikan dari berbagai pihak.(bbc.com, 15/10/2020).

Kementerian Pemberdayaan perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia dan komisi perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai mekanisme itu justru mengancam masa depan para pelajar. Padahal surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) biasanya menjadi semacam prasyarat untuk digunakan ketika anggota masyarakat melamar pekerjaan. Itulah sebabnya, komisioner KPAI Jasra Putra menyebut pencatatan di SKCK itu akan membuat pelajar kesulitan bekerja di sektor formal yang mensyaratkan calon pekerjanya bersih dari catatan pekerja.(bbc.com, 15/10/2020)

Inikah hakikat dari merdeka belajar yang digaung-gaungkan selama ini?. Yakni penguasa bebas mengeksplore potensi anak-anak umat untuk memuluskan kepentingan kapitalisme. Padahal rakyat yang hidup di bawah naungan sistem demokrasi memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi. Lalu apakah ini yang dinamakan merdeka belajar yang bertujuan untuk mematikan suara kritis anak muda. Dalam sistem kapitalis memandang bahwa pemuda menyimpan potensi yang sangat luar biasa. Bahkan dipandang sebagai agen perubahan, yang memiliki potensi untuk menentang kekejaman kapitalisme dan menuntut perubahan hakiki. Namun sayangnya justru diberangus dan dimandulkan dengan kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa zalim saat ini.

Seharusnya potensi yang dimiliki oleh para pemuda diberikan apresiasi oleh para penguasa, dan didukung untuk memberikan kontribusi lebih dan maksimal terhadap negeri tercinta. Biarkan para pemuda untuk lebih banyak melakukan hal-hal yang berarti bukan malah disuruh untuk berdiam diri dan berpangku tangan melihat kondisi negeri ini.

Hal ini berbanding terbalik dengan layaknya bagaimana para penguasa muslim ketika Islam berjaya dulu hingga runtuhnya masa kekhilafahan utsmani. Seluruh warganya dididik sesuai fitrah penciptaan yakni untuk mengabdi pada Sang Khalik dan memberi manfaat bagi umat. Maka tidak heran lahirlah para imam mazhab yang keilmuannya masih berpengaruh hingga kini. Kemudian kisah sang pemuda yang masih belia Muhammad Al-Fatih namanya, yang mampu menaklukkan Konstantinopel yang mana kota tersebut terkenal kuat pertahanannya. Serta kisah Salahuddin Al-Ayyubi yang mampu membebaskan Al-Quds.

Demikianlah bukti para pemuda yang lahir dari sistem buatan Sang Khalik yang jelas berbeda dengan hukum buatan manusia. Karena Allah Yang Maha Tahu apa yang dibutuhkan bagi makhluk ciptaan-Nya. Sedangkan manusia bersifat terbatas, lemah, dan membutuhkan Allah yang Maha Segalanya, dan tentunya tidak sama dengan makhluk ciptaan-Nya.

Wallahu’alam bishawab.

About Post Author