04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Mewujudkan Cinta Hakiki Kepada Rasulullah saw.

Oleh: Neneng Sriwidianti
Pengasuh Majelis Taklim dan Member AMK

Rindu kami padamu Ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu Ya Rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya surga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Mencintai orang yang tidak pernah bertemu dengan kita rasanya sulit. Itulah fakta yang sering diungkapkan oleh banyak orang terkait bagaimana menghadirkan cinta kepada Rasulullah saw? Yang hampir 14 abad kita tidak pernah bertemu dan melihat sosok beliau.

Lirik lagu di atas, sangat cocok untuk menggambarkan rasa cinta kita kepada Rasulullah saw. Cinta yang hakiki bukan sekedar cinta di bibir saja. Sebenarnya, untuk mencintai Muhammad saw. tidak perlu membayangkan gambaran fisiknya, tapi kenalilah beliau dari keagungan dan kepribadiannya.

Kita harus bisa mengembangkan jiwa, agar tidak terpukau dengan keindahan lahiriah yang kadang menipu. Kita harus mampu menembus rasa cinta yang hanya didasarkan pada hal-hal nyata, yang dapat dilihat atau diraba.

Banyak tanda-tanda yang bisa kita jadikan jalan untuk mencintai Rasulullah, sekalipun beliau tidak hadir bersama kita. Salah satu nikmat terbesar dari Allah Swt. adalah nikmat iman dan Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw.

Banyak petunjuk Rasulullah saw. agar kita bisa menghadirkan rasa cinta kepada Allah Swt. dan Rasulullah saw. di atas kecintaan kepada segala makhluk, di atas kecintaan pada apa saja selain Allah Swt. dan Rasul-Nya.

Syihabuddin al-Qashthalani (w. 923 H) di dalam Irsyad as-Sarili Syarh Shahih al-Bukhari (×/95) menyatakan, “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya lebih dari kecintaan kepada selain keduanya baik diri sendiri, orangtua, anak, keluarga, harta, dan segala sesuatu.”

“Ada tiga hal, yang jika ketiganya ada pada siapa saja, niscaya dia merasakan kelezatan iman: Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya; dia mencintai seseorang hanya karena Allah; dan dia benci kembali pada kekufuran sebagaimana dia benci dimasukkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wujud cinta kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya adalah dengan menaati syariah-Nya secara kafah. Cinta tentu tidak cukup dengan kata-kata. Cinta juga tidak cukup hanya berupa komitmen, tetapi kosong tanpa bukti nyata.

Hasan al-Waraq berkata, “Engkau bermaksiat kepada Allah, sementara engkau mengklain cinta kepada-Nya. Sungguh orang yang mencintai itu sangat taat kepada yang dicintai.”

“Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian,” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS. Ali-Imran [3]: 31)

Marilah, momen maulud ini kita wujudkan cinta hakiki kita kepada Rasulullah saw. dengan menerapkan Islam kafah. Penerapan syariah secara kafah hanya bisa terwujud dalam institusi khilafah ala minhaj an-nubuwwah. Inilah aktivitas yang harus segera kita perjuangkan agar kecintaan yang hakiki kepada Rasulullah saw. segera terwujud, bukan klaim semata.

Alhasil, ketika syariah Allah senantiasa dijaga, hukum-hukumnya diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, maka segala perkara akan menjadi baik, ketenangan dan ketentraman hidup tercapai, kemakmuran bisa dirasakan, kemuliaan didapatkan, keberkahan Allah dilimpahkan dan keridaan-Nya dicurahkan.

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS. Al-A’raf [7]: 96)

Wallahua’lam bishshawab

About Post Author