30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Kesejahteraan Guru Dalam Sistem Pendidikan Islam


Oleh: Susi Maryam Mulyasari, S.Pd.I. | Ibu Rumah Tangga

Sebagaimana yang dilansir oleh GALAMEDIA – Belum lama ini beredar sebuah surat dari Bupati Bandung, Dadang M. Naser kepada Presiden Joko Widodo. Surat itu berisi mengenai dukungan aspirasi Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer Non Kategori 35+ (GTKHNK 35+) agar secepatnya diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Ini adalah sekelumit permasalahan yang menimpa sistem pendidikan di Indonesia, kesejahteraan guru masih patut untuk dipermasalahkan, karena sangat jauh dari ambang kesejahteraan yang selayaknya didapatkan. Tingkat pengorbanan guru tak sebanding dengan tingkat kesejahteraan yang mereka dapatkan, padahal salah satu penunjang kualitas sistem pendidikan sebuah negara adalah tingkat kesejahteraan seorang guru.

Terlepas dari itu semua, kita harus sudah membuka mata, hati serta pikiran kita, bagaimana dengan nasib generasi muda negeri ini di masa depan yang sarat akan ancaman peradaban barat yang begitu ganas dampak dari globalisasi? Padahal tingkat kesejahteraan guru masih memprihatinkan. Jangan-jangan permasalahan tingkat kesejahteraan guru terutama yang honorer ini adalah salah satu masalah yang dihadapi negeri ini. Sebagai contoh sistem kurikulum pendidikan di negeri ini yang terus berubah tanpa ada peningkatan kualitas dari pelaksanaan sistem pendikan kita, salah satu tolok ukur adalah tingkat kriminlitas yang terjadi di kalangan pelajar, pergaulan bebas, sex bebas dan lain-lain kian hari kian marak, padahal sistem pendidikanlah yang harus menjadi filter itu semua. Ini semakin membuktikan bahwa sistem pendidikan kita sangat bobrok bukan hanya tingkat kesejahteraan guru melainkan semua aspek.

Mengapa ini bisa terjadi?
Hal pokok yang harus diperhatikan dan ini adalah yang paling penting adalah landasan/ dasar/ azas dari pelaksanaan pendidikan, karena dari landasan itu akan bisa kita pahami tujuan pendidikan yang akan ditempuh oleh para pelajar, dan ironisnya sistem pendidikan kita berlandasan pada sekularisme (memisahkan kehidupan dengan agama) agama dalam hal ini adalah Islam tidak menjadi landasan dari penyelenggaraan pendidikan kita, sehingga orientasi atau tujuan pendidikan kita hanya berkutat pada pencapaian nilai duniawi saja yang diukur pada mencapaian karir, sehingga orang akan meninggalkan proses dan nilai spiritual yang menjadi pegangan hidup demi mencapai nafsu duniawinya saja.

Para pelajar tidak akan mampu berpikir jernih tentang pencapaian hidupnya selama menempuh pendidikan, karena ujung dari pendidikan sekularisme adalah selembar kertas (ijazah) sedangkan skill dan kematangan berpikir mereka abaikan. Inilah yang mengakibatkan sistem pendidikan sekuler ini tidak mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan kulalitas kesejahteraan guru dan pelajarnya bagi peradaban sebuah bangsa.

Seandainya kita mau berpikir dan membuka kembali sejarah, maka akan kita temukan sebuah sistem pendidikan yang hasilnya memberikan kontribusi bagi peradaban manusia era ini, yaitu sistem pendidikan khilafah (Islam). Banyak ilmuan yang memberikan sumbangsih bagi peradaban manusia, misalkan Alkharizmi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Maryam Astrulabi, Abas Ibnu Prinas dan lain-lain, yang jasa-jasanya tidak bisa dinamikan oleh sejarah. Selain itu tingkat kesejahteraan guru pun bisa kita perhitungkan.

Imam Ad Damsyiqi menceritakan sebuah riwayat dari Al Wadliyah bin Atha yang menyatakan bahwa, di Kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin Khatthab memberikan gaji pada mereka masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas). Jika dikalkulasikan, itu artinya gaji guru sekitar Rp 30.000.000. Tentunya ini tidak memandang status guru tersebut PNS atau pun honorer. Apalagi bersertifikasi atau tidak, yang pasti profesinya guru.

Mengapa bisa seperti ini?
Jawabanya karena sistem pendidikan khilafah (Islam) berlandasan akidah Islam yang akan memancarkan problem solving bagi hidup manusia.Satu sistem dengan sistem yang lain saling sinergi dan saling menguatkan, sistem pendidikan ditopang oleh sistem ekonomi yang mampan sehingga penyelengaraan pendidikan mampu menghasilkan para pelajar yang berkualitas dan guru-gurunya sejahtera. Oleh karena itu hal yang harus dilakukan adalah merubah sistem pendidikan kita dari berlandaskan sekularisme menjadi Islam seutuhnya.

Wallahu’alam bishshowab[]

About Post Author