06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Bukti Cinta Nabi saw: Tegakkan Keadilan, Hilangkan Kezaliman

Oleh : Neny Nuraeny
Ibu Rumah tangga dan Pendidik Generasi

Peringatan kelahiran Sang Baginda Rasulullah Muhammad saw membawa kebahagian bagi setiap muslim yang sangat mencintainya. Sudah semestinya peringatan maulid nabi tidak hanya sebatas seremoni belaka. Tentu harus dibuktikan dengan perjuangan menegakkan keadilan dan menentang kezaliman. Karena sesungguhnya beliau membawa risalah Islam untuk umat manusia demi menegakkan keadilan dan menghilangkan kezaliman.

Kezaliman yang begitu merajalela sebelum kedatangan Islam di kala itu terutama dirasakan oleh para wanita, orang-orang miskin dan para budak. Keadilan pun sulit didapat karena para raja, kaisar, bangsawan dan orang-orang kaya menguasai hukum yang berlaku pada saat itu.

Adapun hari ini, di saat Rasulullah telah tiada. Keadilan kembali menjadi barang langka. Kezaliman kian menggurita. Hal itu disebabkan aturan Allah sebagai Zat yang Maha Pencipta, Maha Mengetahui hakikat keadilan dan kezaliman tidak diterapkan dalam setiap aspek kehidupan. Aturan agama diambil dengan prinsip sekularisme. Yaitu dipakai hanya untuk perkara ibadah mahdhah dan bersifat pribadi. Sementara aturan terkait kehidupan dibuang jauh dan digantikan oleh aturan kapitalis liberal buatan manusia.

Islam Agama Keadilan

Maka makna keadilan hakiki bukanlah menurut pemahaman kapitalisme-liberalisme, dimana memberi kebebasan tanpa aturan. Adil tentu harus menuruti pandangan Allah Swt., karena Allah-lah yang Maha Pembuat hukum atau aturan.

Misalnya, ketika Islam memberlakukan hukum qishâsh dalam kasus pembunuhan. Hal itu demi memberikan rasa keadilan kepada keluarga korban. Di samping juga untuk memberi efek jera bagi pribadi lain (zawajir). Bahkan lebih lanjut akan menghasilkan satu kebaikan bagi pelaku sendiri. Bahwa dia akan terbebas dari siksa atas dosa membunuhnya tersebut di yaumil akhir kelak (jawabir), disebabkan ia telah ridha diberlakukan hukum Allah atas dirinya ketika ia bermaksiat menghilangkan nyawa orang lain.

Ragam Kezaliman

Sesungguhnya kezaliman termasuk dosa besar dan musuh agama. Yaitu ketika tidak memberlakukan hukum-hukum Allah Swt. Seraya berkiblat pada hukum-hukum buatan manusia, sebagaimana dalam sistem demokrasi, sesuai ajaran Montesquieu. Kezaliman akibat mencampakkan hukum Allah telah menimbulkan ragam kezaliman lain kepada sesama manusia. Pengambilalihan sumberdaya alam, misalnya —seperti tambang migas, jalan raya, yang seharusnya menjadi milik umum— menjadi milik swasta/asing merupakan beberapa contoh kezaliman yang menimpa umat. Ini adalah akibat hukum-hukum Islam tentang kepemilikan tidak diterapkan.

Bukan hanya persoalan aset kepemilikan negara, umum atau pribadi saja ketika tidak didudukkan sebagaimana mestinya. Kezaliman pun telah merusak kehormatan, hilangnya harta dan tumpahnya darah kaum Muslim dan tidak muslim. Juga tidak adanya sanksi bagi penista rakyat miskin, tidak adanya pembelaan kebenaran. Bahkan yang lebih mengerikan di saat yang benar menjadi salah dan yang salah dipandang benar.

Banyak contoh pada saat saudara sesama muslim di berbagai negeri di dunia mendapatkan kezaliman yang luar biasa. Itu semua adalah akibat hukum-hukum buatan manusia diterapkan, seraya hukum Allah ditinggalkan.

Tegakkan Keadilan!

Kecintaan kita tehadap Allah dan Rasul-Nya tentu wajib dibuktikan. Dengan menegakkan keadilan dan melawan kezaliman. Kita mesti mengingat bahwa keadilan hanya bisa tegak dengan terlaksananya hukum-hukum Allah Swt. di muka bumi. Mustahil tercipta keadilan dengan meninggalkan syariat Islam.

Terbukti, sistem hukum buatan manusia hanya menciptakan kezaliman demi kezaliman yang tak berujung.

Oleh karena itu kecintaan kepada Nabi saw. semestinya terwujud dengan cara memperjuangkan penegakkan syariat Islam. Dengan demikian, keadilan akan tercipta dan kezaliman akan tiada.

Rasulullah saw. bersabda:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا، فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا؟ قَالَ: تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ.

Artinya: “Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi!” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, jelas kami paham bagaimana menolong orang yang dizalimi. Lalu bagaimana kami harus menolong orang zalim?” Beliau bersabda, “Tahanlah tangannya (agar berhenti berbuat zalim).” (HR. al-Bukhari)

About Post Author