26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Kemerdekaan yang Tak Merdeka

Oleh: RAI Adiatmadja
(Founder Komunitas Menulis Buku Antologi)

Kebijakan kepolisian yang akan mempersulit pembuatan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) kepada para pelajar yang terbukti melanggar hukum dalam demonstrasi anti-UU Cipta Kerja, dikritik sejumlah pihak.
Kepolisian mengklaim kebijakan itu akan ditempuh untuk memberikan ‘efek jera’ kepada para pelajar tersebut, tetapi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai mekanisme itu justru mengancam masa depan para pelajar.

KPAI mencatat, per Sabtu (10/10) ada 3.665 anak diamankan oleh kepolisian di seluruh Indoneisa selama beberapa hari demonstrasi menentang UU Cipta Kerja, 91 di antaranya diproses hukum. 
Sementara, Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Nahar, menegaskan bahwa kebijakan yang ditempuh polisi “kurang tepat” dan justru menimbulkan stigma dan labelisasi pada anak.
“Kurang tepat, karena nanti akan terkait dengan UU Perlindungan Anak pasal 59 ayat 2 menegaskan kita punya kewajiban untuk menghindari stigma dan pelabelan pada anak-anak,” ujar Nahar. (BBC NEWS Indonesia, 15 Oktober 2020).
Dalam beberapa pekan terakhir setelah pengesahan UU Cipta Kerja, gaung unjuk rasa dari para mahasiswa tak bisa dibantahkan. Sehingga mengundang Kemendikbud untuk menerbitkan surat edaran.

Hal ini tertuang dalam surat edaran Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud Nomor 1035/E/KM/2020 perihal ‘Imbauan Pembelajaran secara Daring dan Sosialisasi UU Cipta Kerja’. Surat ini diteken oleh Dirjen Dikti Kemendikbud Nizam pada Jumat (9/10).

Dalam surat edaran tersebut, Kemendikbud mengimbau mahasiswa tidak berpartisipasi dalam kegiatan penyampaian aspirasi yang dapat membahayakan kesehatan mahasiswa, seperti demonstrasi atau unjuk rasa. Sebab, pandemi di tanah air belum mereda. (DetikNews, 10 Okt 2020).

Di sistem kapitalis, merdeka tidak lagi sesuai dengan arti yang sesungguhnya, seharusnya terbebas dari cengkeraman para penjajah. Muatan merdeka diberikan tanpa batas ketika sesuai dengan langkah para penguasa. Kemerdekaan sesuai pesanan–boleh tidak terikat asal sepakat dengan aparat, bebas berbuat selama tidak mengusik mereka yang menjabat.

Dari pengesahan UU Omnibus Law melahirkan mental generasi yang  galau, ikut-ikutan unjuk rasa tanpa mengindahkan aturan yang menjerat dan merugikan mereka, bahkan berpotensi menghancurkan harapan besar di masa depan.

Hal yang menjadi pertanyaan, mengapa para pelajar yang seharusnya fokus belajar, justru ikut sibuk protes terhadap kebijakan yang tidak wajar? Benarkah hanya ikut-ikutan semata atau memang merasakan efek berat dari banyaknya ketimpangan aturan yang diterapkan saat ini?

Saat kezaliman yang terlahir dari rahim demokrasi dikritisi, maka akan menyuburkan aturan yang fakir dari nilai-nilai kemanusiaan. Semua suara yang merugikan penguasa akan diberangus agar mata hati tak lagi peka, pun telinga dibiarkan kehilangan fungsi dengar, padahal secara kasatmata aturan merekalah yang telah membuat rakyat seakan-akan penyebab onar.
Esensi belajar bagi pelajar hari ini, hanya sekadar kegiatan-kegiatan yang akhirnya terbentuk sebagai hal yang formalitas semata. Tak boleh punya suara, berbicara pun dibatasi oleh banyak hal. Lantas hakikatnya merdeka itu di mana? Demokrasi menjadi paradoks dari arti.

Semua tak serupa dengan sistem Islam kafah yang menjadikan aturan Allah sebagai pijakan satu-satunya dalam mengatur bahtera kehidupan. Hidup yang berpedoman dibatasi dengan aturan, tetapi tak memenjarakan suara kebenaran. Para pemuda memiliki semangat tinggi, tidak harus menabung aspirasi hingga mati, tetapi memiliki langkah pasti dan kokohnya jati diri. Negara akan memberikan teladan pada mereka bahwa keadilan bukan isapan jempol semata, tetapi terimplementasikan dengan benar di setiap kancah kehidupan.

Pada masa Rasulullah saw, kalangan pemuda menjadi mayoritas yang masuk Islam. Secara sosio-kultural fenomena ini berkaitan dengan karakter Islam yang revolusioner. Maka, tidak aneh jika para pemuda menjadi pelopor yang berkiprah dalam spektrum yang luas. Selain itu juga menjadi ujung tombak gerakan dakwah di Makkah pada saat itu.

Pemuda di dalam sistem Islam kafah dibentuk untuk memiliki kepribadian yang islami. Pola sikap yang terbentuk dengan baik, jauh dari hura-hura dan kondisi putus asa, tidak mengenal hedonistik, narkoba, ataupun miras. Sehingga melahirkan produktivitas yang pesat, banyak terlahir karya ilmiah dan prestasi-prestasi unggul, hasil riset penemuan pun bermunculan, padahal usia mereka masih sangat belia, semua berkat dari kondusivitas kehidupan masyarakat yang tidak dijerat oleh aturan yang zalim.

Salah satu contoh pemuda di masa Rasulullah yang memiliki kehebatan dan kepintaran yang luar biasa adalah Muadz bin Jabal .

Dia adalah seorang tokoh dari kalangan Anshar yang ikut baiat pada Perjanjian Aqabah kedua, hingga termasuk Ash-Shabiqul Awwalun—golongan yang pertama masuk Islam. Dan orang yang lebih dulu masuk Islam dengan keimanan serta keyakinannya seperti demikian, mustahil tidak akan turut bersama Rasulullah dalam setiap perjuangan. 

Tetapi kelebihannya yang paling menonjol dan keitstimewaannnya yang utama ialah fiqih atau keahliannya dalam soal hukum. Keahliannya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan ini mencapai taraf yang menyebabkannya berhak menerima pujian dari Rasulullah saw dengan sabdanya: “Umatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu’adz bin Jabal.”

Dalam kecerdasan otak dan keberaniannya mengemukakan pendapat, Mu’adz hampir sama dengan Umar bin Khathab. Ini merupakan bukti sistem Islam mampu melahirkan
Pribadi para pemuda yang dihiasi nilai-nilai takwa, benar-benar tersibukkan oleh ketaatan pada Sang Khalik. Semua memang butuh negara dengan sistemnya yang tertata benar. Kegemilangan peradaban itu pun hanya terjadi ketika sistem Islam berjaya, bukan sistem lain.

Kini, demokrasi hanya sebuah ilusi. Ia yang memiliki arti sebagai wadah dan ruang hak partisipasi rakyat, ternyata jauh panggang dari api. Begitulah karakteristik sistem yang diciptakan oleh manusia, terbatas dan membuka lebar lubang-lubang kesengsaraan yang tak berkesudahan.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author