26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Cinta Nabi, Cinta Syariat Cinta Nabi, Bela Syariat

Oleh: Sri Ramadhani
(Aktivis Dakwah & Member AMK)

Bulan Rabiul awal memiliki arti khusus bagi umat Islam. Pada tanggal 12 bulan ini diyakini sebagai hari kelahiran Baginda Rasulullah saw.Oleh karenanya, sebagian umat Islam biasa menyambutnya dengan istilah “Peringatan Maulid Nabi saw” atau Muludan.

Menurut catatan sejarah, Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. pertama kali diperkenalkan Abu Said al-Qakburi, Gubernur Irbil, Irak, pada masa pemerintahan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (1138-1193 M). Menurut sumber lain, yang pertama mencetuskan ide Peringatan Maulid Nabi saw. adalah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi sendiri. Tujuannya adalah untuk memperkukuh semangat umat Islam umumnya, khususnya mental para tentara muslim yang lemah dalam menghadapi serangan tentara Salib dari Eropa, yang ingin merebut tanah suci Yerusalem dari tangan kaum muslimin.

Pendek kata, secara sosio-historis, Peringatan Maulid Nabi saw. dilatarbelakangi oleh: pertama, adanya semangat ghirah kaum muslimin yang melemah. Hal ini terjadi ketika Perang Salib yang dilancarkan kaum kafir Kristiani yang ingin merebut Kota Yerusalem (Palestina); di sisi lain melemahnya semangat jihad kaum Muslim dalam melawan kaum kafir Kristiani itu. Efeknya memang sangat luar biasa.

Dengan Peringatan Maulid Nabi saw. inilah Sultan Shalahuddin saat itu mampu membangkitkan kembali kesadaran kaum muslim sekaligus semangat jihad mereka dalam membela agama Allah ini, khususnya melawan kafir Kristiani dalam Perang Salib.

Sayangnya, saat ini Peringatan Maulid Nabi saw. sudah jauh bergeser dari motif awalnya. Saat ini, Peringatan Maulid Nabi saw. telah terjebak dalam rutinitas tahunan dan terkungkung dalam acara seremonial belaka. Akibatnya, efeknya pun kurang terasa. Maka, momen Maulid Nabi seharusnya dijadikan sebagai momentum mengembalikan spirit perjuangan umat Islam dalam rangka membangkitkan kembali kesadaran umat Islam secara utuh.

Karena pada saat ini, umat Islam sesungguhnya sedang dilanda sejumlah persoalan berat dan kompleks.

Pertama: secara pemikiran, benak umat Islam masih dikuasai oleh paham sekularisme; paham yang menihilkan peran agama (Islam) dalam kehidupan. Juga paham-paham liberalisme kian menyesatkan hingga menggerus identitas mereka sebagai seorang muslim. Akibatnya, Islam hanya ada dalam tataran ritual dan spiritual belaka; sama persis dengan agama-agama lain. Praktis, dalam kehidupan umum (sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dll.) Ajaran dan hukum-hukum Islam tidak dipakai.

Kedua: secara hukum, saat ini yang diterapkan di negeri-negeri Islam, khususnya di negeri ini, bukanlah syariat Islam, tetapi hukum-hukum sekuler yang bahkan merupakan warisan penjajah. Lebih dari itu, di Indonesia, sebagian produk UU—seperti UU Cipta Kerja (Ciptaker), UU Minerba, UU Kelistrikan, UU PKDRT, dan lain-lain—lebih banyak karena faktor pesanan asing dan disponsori lembaga-lembaga asing. Omnibus Law yang baru disahkan juga kental kepentingan kapitalis lokal maupun asing.

Ketiga: secara sosial, akibat penerapan hukum sekuler, negeri ini dilanda berbagai persoalan sosial yang sangat berat dan komplek seperti membudayanya korupsi; maraknya perselingkuhan dan seks bebas dan penyimpangan sosial bahkan melibatkan para remaja usia sekolah; merebaknya kasus penyalahgunaan narkoba; merajalelanya kasus kriminal lain seperti pencurian pembunuhan, bunuh diri; munculnya ragam konflik sosial dan upaya disintegrasi; dll.

Keempat: secara politik, umat Islam pun masih menjadi bulan-bulanan negara-negara kafir. Di seluruh dunia isu terorisme dan radikalisme yang dikembangkan AS sejak Peristiwa 11 September 2001 masih menyisakan banyak persoalan sampai hari ini. Ditambah dengan kebijakan rasisme dan anti-Islam yang diterapkan negara-negara kafir yang didorong islamofobia, seperti saat ini terjadi di Palestina, Perancis, India, dan Cina.

Bahkan mirisnya lagi, pelecehan dan penghinaan kepada Nabi Muhammad dan syariat Islam semakin banyak. Namun, apakah seluruh umat Islam marah dan menentang kaum kafir dan kaum muslim yang berkedok munafik-musuh dalam selimut-akan pelecehan-pelecahan yang terjadi di negeri ini dan negeri-negeri muslim lainnya? Sayangnya, hanya sedikit yang marah terhadap penghinaan yang sering terjadi kepada Rasulullah saw.

Sisanya hanya diam, cuek, bahkan tetap merasa nyaman menjalani hidup dengan berhura-hura, main tiktok, pacaran, dll. Anehnya lagi, pemerintah tidak menangkap pelaku penghinaan dan dihukum mati atau dimasukan ke penjara. Malah dimaafkan dan dibiarkan semakin merajalela.
Na’udzubillah.

Saat ini pun sedang viral pemboikotan terhadap pruduk-pruduk Perancis akibat penghinaan kepada Nabi Muhammad saw. oleh Presiden Perancis, lantas apakah Indonesia yang bermayoritas muslim berkoar-koar seperti negara-negara di Timur Tengah untuk membela Rasulullah?
Sayangnya hanya sebagian orang dan sebagian kelompok yang melakukan aksi bela Rasul. Lalu kemana peran negara kita dan masyarakat muslimnya untuk bersatu melawan ketidakadilan? Bahkan beberapa minggu lalu sempat viral film yang berjudul ‘My Flag’ yang kemudian menayangkan aksi penghinaan terhadap cadar dan bendera tauhid. Sedih bercampur marah. Umat Islam seharusnya bersatu melawan musuh yang jelas-jelas menghina dan mengoyak-ngoyak ajaran Islam.

Ironisnya ,justru sebagian kaum muslimin termakan hasudan dan propaganda musuh-musuh Islam untuk salin membenci satu sama lain antara sesama muslim, dan menyerang syariat agamanya sendiri. sungguh sedih.

Bukankah konsekuensi mencintai Rasul adalah taat pada Allah, RasulNya dan syariat Islam? Kenapa aturan (syariat) yang Rasul bawa dibenci dan diserang oleh umat Islam itu sendiri?? Bagaimana reaksi Rasulullah bila melihat kondisi umatnya seperti ini sekarang?Tentu sangat sedih. Umat Islam yang dengan susah payah beliau satukan dari berbagai ras, suku, bangsa, kini terpecah belah dengan misi nasionalisme yang dicetuskan kaum kafir Barat untuk memecah belah persatuan umat Islam sebagai ummatan wahidatan (umat yang satu).

Mencintai Rasulullah seharusnya kita buktikan dengan membela beliau dikala dihina dan dilecehkan. Mencintai beliau seharusnya kita buktikan dengan menerima dan mengambil syariat-syariat yang di bawa sebagai wahyu dari Allah Rabbul ‘alamin, bukan menentang apalagi membenci syariat Islam yang beliau bawa dengan penuh perjuangan tiada duanya.

Bagaimana seharusnya sikap kita sebagai muslim terhadap Rasulullah saw?
Sesungguhnya mencintai dan mengagungkan Nabi Muhammad saw. merupakan konsekuensi iman kita kepada Allah SWT. Rasulullah bersabda:

“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya. (2) Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. (3) Ia tidak suka untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagai-mana ia tidak mau untuk dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhari Muslim)

Juga pada sabda Rasulullah Saw:
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari)

Oleh karena itu, sudah sepantasnya setiap Muslim mencurahkan kecintaannya kepada Rasulullah saw. Sebab kecintaan kepada Rasulullah saw. merupakan bagian dari perintah Allah Swt dan juga akan menjadi bekal untuk dapat menghuni surga-Nya kelak.

Dari Anas bin Malik ra, seorang Arab berkata kepada Rasul Saw, “Kapan Hari Kiamat ?”Rasulullah Saw. balik bertanya kepadanya, “Apa yang telah engkau siapkan untuk menghadapi Hari Kiamat?” Dia berkata, “Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda, “Engkau bersama dengan yang engkau cintai.” (HR Muslim, An-Nasa’i, Al-Bazzar dan Ibnu Khuzaimah)

Hal ini diperkuat pula dengan firman-Nya, “Apa saja yang Rasul bawa kepadamu, maka ambillah. Apa saja yang dia larang atas kalian, maka tinggalkanlah. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sungguh Allah amat keras hukumannya.” (TQS Al Hasyr: 7).

Allah jelas memerintahkan kita untuk meneladani Rasul saw. yaitu meneladani seluruh apa yang dibawa Rasulullah saw. dalam semua aspek. Kita tidak boleh meneladani Nabi saw. terbatas pada aspek-aspek tertentu, misalkan aspek akhlak atau ibadah saja, seraya mengabaikan teladan beliau dalam aspek-aspek lainnya, khususnya aspek syariat atau hukum dan pemerintahan. Sebab jika pembatasan itu dilakukan, yang demikian itu adalah bentuk pengerdilan teladan Rasulullah saw. dan sama saja kita tidak memuliakan dan mengagungkan Beliau. Terlebih lagi, Rasulullah saw. telah memberi teladan kepada kita mulai dari tata cara bersuci hingga masuk kamar mandi. Mulai dari perkara bangun tidur, sampai pada konsep bangun negara dengan kepemimpinan Islam, dan ini berlaku sampai akhir zaman. Tidak ada tawar menawar di dalamnya.

Seharusnya, kaum muslim mengamalkan seluruh isi Al-Qur’an dan menerapkan hukum-hukumnya tanpa terkecuali, baik perkara akidah, ibadah, muamalat, maupun uqubat (hukum peradilan) sebagai wujud kecintaan kepadA Rasulullah saw.

Maka, sebagai bukti cinta kita kepada Rasulullah saw. kita harus melaksanakan apa yang dicontohkan Rasulullah secara kaffah. Demi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya, marilah kita tegakkan keadilan dan lawan kezaliman! Bela Rasul kita! Ingatlah, keadilan hanya bisa tegak dengan tegaknya hukum-hukum Allah Swt di muka bumi. Tak mungkin tercipta keadilan dengan meninggalkan syariat Islam. Terbukti, sistem hukum buatan manusia hanya menciptakan kezaliman demi kezaliman yang tak berujung.
Kecintaan kepada Nabi saw. semestinya terwujud antara lain dengan cara berjuang menegakkan syariat Islam. Hanya dengan tegaknya syariat Islam, keadilan bakal tercipta dan kezaliman bakal lenyap.

Dengan demikian kita berharap akan mendapat syafaat dari beliau di padang mahsyar . Kelak di saat tidak ada satu orangpun yang menolong kita, sungguh hanya beliaulah syafaat (penyelamat) yang kita harapkan kelak.

Maka, bila kita mengaku umat Rasulullah, teladani beliau, terapkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari dan tegakkan syariat Islam secara kafah di negeri bermayoritas muslim ini.

Allahua’lam bishshawab.

About Post Author