04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Demo Buruh Terhadap UU Omnibus Law


Oleh : Popon Ummu Farid
Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah

Dilansir oleh AyoBandung.com bahwa sejumlah buruh sempat terlibat bentrok dengan petugas keamanan dalam aksi unjuk rasa di Cileunyi Kamis, 8/10/2020. Bentrokan ini terjadi di Simpang Cileunyi ketika buruh dihadang oleh blokade keamanan dari Kepolisian dan TNI.
Bentrokan ini terjadi diduga ada pihak asing yang memprovokasi dengan cara melempar petugas yang melakukan blokade jalan. Setidaknya terjadi dua kali bentrokan antara buruh dan pihak keamanan. Massa aksi yang mengalami luka akibat bentrokan tersebut langsung dievakuasi untuk mendapatkan penanganan medis, beruntung bentrokan tidak berlangsung lama. Aksi unjuk rasa dilanjutkan dengan orasi. Ribuan buruh tersebut menolak UU Omnibus Law dan meminta presiden mengeluarkan Perpu.
Jelaslah sudah bahwa tujuan pengesahan dengan segera UU Omnibus Law ini bukan untuk rakyat. Buktinya banyak rakyat yang protes. Tapi sayangnya pemerintah tak menggubris. Hanya dengan dalih menaikkan investasi negara, padahal yang terjadi justru hanya menguntungkan pihak korporasi saja. Padahal tugas utama negara adalah mengayomi dan mengurusi kebutuhan rakyat.
Semestinya setiap kebijakan yang diambil perlu mempertimbangkan kesehatan masyarakat, kebutuhan mereka dan kesejahteraannya. Bukan malah menguntungkan segelintir orang saja.
Setiap kebijakan yang dilahirkan ini tentu tak akan begitu saja selesai, semua akan dimintai pertanggung jawabannya karena pemerintah adalah pelayan rakyat yang harus memikirkan keperluan rakyat. Bukan keperluan sebagian orang yang dekat dengan pemerintah, juga para pengusaha baik lokal terlebih asing.
Sorak riuh RUU Omnibus Law ini memperlihatkan betapa tak sinkronnya antara pemerintah dengan keputusan mengesahkan UU tersebut. Dimana seharusnya berpihak pada rakyat. Namun manajemen korporatokrasi yang dianut pemerintah cenderung memosisikan diri sebagai fasilitator korporasi baik skala lokal bahkan global.
Oleh karena itu rakyat bukan sekedar butuh pemimpin yang baru, melainkan juga yang memperhatikan keperluan mereka dan bertanggungjawab atas mereka. Bukan pemimpin yang senantiasa demikian mudah mengandalkan pinjaman utang, uluran tangan dan lebih memilih menguntungkan kepentingan asing.
Dari sini sudah jelas, bahwa UU tersebut justru mengokohkan cengkeraman neoliberalisme di negeri ini. Pasalnya baik kapitalis lokal maupun asing yang berinvestasi di negeri ini telah menjarah Sumber Daya Alam, yang mengakibatkan pada eksploitasi SDA. Masyarakat pun hanya berperan jadi kuli, yang diberi upah murah. Padahal biaya semakin lama semakin mahal. Apabila masyarakat tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi biaya hidup, alhasil daya beli masyarakat pun menurun, bisa dipastikan krisis ekonomi semakin parah.
Jika krisis ekonomi terus berlanjut rakyat tak akan terselamatkan, jurang pemisah antara kaya dan miskin semakin menganga, kemiskinan per individu pun berpotensi bertambah besar.
Sejatinya selama negeri ini masih tetap menerapkan sistem kapitalisme, neoliberalisme dan demokrasi tak mungkin ada harapan bagi rakyat untuk meraih kesejahteraan, apalagi mewujudkan keberkahan.
Demikianlah sangat nyata sistem Demokrasi yang memberikan kebebasan kepada akal manusia untuk membuat aturan telah gagal membawa manusia kepada keberkahan.
Maka saat ini yang perlu digarisbawahi adalah rakyat demikian membutuhkan pemimpin yang taat dengan Allah Swt. dan Rasul-Nya. Yang mampu dan mau melaksanakan titah Al-Qur’an dalam setiap kebijakannya. Bukan pemimpin yang sigap dengan pesanan para imperialis dan tunduk pada titah para kapitalis.
Sementara dalam sistem Islam yakni Khilafah telah berhasil menyejahterakan rakyatnya selama ribuan tahun. Yakni sejak tegaknya Daulah Islam di Madinah Abad ke 7 M. Selama itu dunia dipenuhi dengan kesejahteraan dan kemuliaan, tidak terjadi konflik antara kalangan pekerja dan pengusaha, karena ada hukum yang demikian adil terkait permasalahan upah mengupah (yakni Ijaroh), menempatkan pekerja dan pengusaha dalam posisi setara. Kaum muslim harus peduli pada lingkungan sekitar, memperbaiki hubungan sesama manusia sehingga tercipta perdamaian yang nyata.
Tak ada yang patut ditakuti dari ajaran Islam. Hal ini juga sudah terbukti dalam sejarah. Islam memiliki peranan sangat besar dalam membangun peradaban dunia melalui sejarah panjang Khilafah Islam. Mulai dari Khulafaur Rasyidin sampai Khilafah Utsmani di Turki.
Maka pemimpin yang bijak, pemimpin yang taat hanya akan lahir dari sistem yang benar, sistem itu bukanlah sistem buatan manusia. Tapi sistem yang langsung diturunkan oleh Sang Maha Pencipta. Itulah sistem Islam yang menjamin seluruh hidup manusia dengan kebaikan dunia dan akhirat. Sistem yang mampu mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. Dengan penerapan Islam secara menyeluruh, berkah dan rahmat Allah Swt. akan menaunginya menjadi negeri yang baldatun thayibatun wa rabbun ghafur. Allah Swt. berfiman,
“Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka itu.” (TQS. al-A’raf [7]: 96)
Wallahu a’lam bish shawab.

About Post Author