25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Hentikan Penghina Nabi Dengan Sistem Islam Paripurna

Oleh: Netta Wardhani Savira
(Aktivis Dakwah dan Member AMK)

Penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw yang dilontarkan oleh Presiden Perancis Emmanuel Macron banyak menuai kecaman dari berbagai kalangan muslim. Salah satunya adalah melalui cara pemboikotan, sebuah sikap protes yang diambil oleh umat muslim kepada Emmanuel Macron.

Seruan ini terus bergulir di banyak negara terutama negara yang mayoritasnya muslim. Presiden Emmanuel Macron tidak menyadari bahwa ketika dia melontarkan penghinaan terhadap Nabi Muhammad sesungguhnya telah menabuh genderang perang bagi kaum muslimin. Artinya ketika itu dilakukan sama artinya menyakiti kaum muslimin seluruhnya.

Gerakan boikot terjadi di Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Aljazair, Sudan, Palestina, dan Maroko. (RINGTIMESBALI.com 27/10/2020)

Bahkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga memberikan seruan yang sama kepada rakyatnya agar memboikot seluruh produk dari Perancis. Inilah imbas dari tindakan yang dilakukan oleh Presiden Prancis.

Bahkan Indonesia pun melakukan hal yang sama bahkan mengecam perkataan Presiden Emmanuel Macron. Jokowi, Presiden Indonesia menyampaikan argumennya mengenai penghinaan Nabi Muhammad “Indonesia juga mengecam keras pernyataan Presiden Perancis yang menghina agama Islam yang telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia,” kata Jokowi melalui konferensi persnya yang disiarkan secara langsung melalui akun Youtube Sekretariat Presiden.(tirto.id 31/10/2020).

Produk-produk Perancis yang diancam akan di boikot atau bahkan sudah diboikot adalah berupa produk fashion, supermarket, produk otomotif, produk makanan, dan produk kecantikan, yang merupakan penghasilan terbesar negara yang terkenal dengan menara Eiffelnya. .

Berbagai produk-produk Perancis yang ada di Indonesia pun terancam di boikot. Bahkan aksi pemboikotan ini pun mendapatkan dukungan dari beberapa Ulama dan Kiai. “Jika pemboikotan terhadap produk Prancis itu bagian dari sarana untuk mengingatkan akan kesalahan sekaligus juga menyadarkan kesalahan Macron dari apa yang dia lakukan, dan kemudian menjadi instrumen agar dia kembali kepada kebenaran, kembali menarik kesalahan yang dia lakukan, dan kemudian proses normalisasi kehidupan pergaulan internasional, maka pemboikotan itu menjadi syari, bagian dari sarana untuk mengingatkan itu,” kata kiai Asrorun Niam melalui pesan video yang diterima Republika beberapa waktu lalu. “Sebisa dan semaksimal mungkin harus mengganti atau memboikot produk-produk Prancis yang ada dengan produk-produk lainnya,” kata Ketua Mejelis Tanfidzi IKSASS Jabodetabek, Ahmad Haitami. ( Republika.co.id)

Namun sayangnya, ada beberapa pihak yang tidak mendukung aksi pemboikotan tersebut.
“Oleh karena itu, sebagaimana yang beredar di media, kami menyambut baik pernyataan yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan di mana pemerintah telah mengambil langkah untuk tidak ikut serta memboikot produk-produk Prancis karena hal tersebut di luar dari konteks perdagangan,” ujar Arif (Republika.co.id 3/11/2020).

Dari fakta di atas, telah menuai kontroversi antara yang pro dan kontra mengenai pemboikotan tersebut. Namun, sebagian umat Islam tetap mengambil keputusan agar pemboikotan ini dilakukan. Aksi pemboikotan tersebut adalah sikap serta hukuman yang sesuai dari umat Islam kepada Presiden Perancis.

Terjadinya penghinaan ini akibat dari sistem yang bobrok yaitu demokrasi sekularisme. Sekularisme adalah sebuah ide yang memisahkan agama dari kehidupan.Ide ini membebaskan setiap individu untuk bebas mengungkapkan pendapat sekendak hati tanpa ada seorang pun yang menghalanginya. Ide kebebasan berpendapat akan terus digulirkan dengan mengatasnamakan paham tersebut.

Namun, sebenarnya kekacauan seperti ini tidak akan terjadi jika sistem yang dipakai adalah sistem yang mengajari masyarakatnya tentang menghormati satu sama lain, baik itu berupa suku, organisasi, ataupun agama. Dan sistem itu tidak lain adalah Islam. Islam mengajarkan toleransi, menghargai satu sama lain dan tidak mengajarkan menghina apalagi memaksa.

Penghinaan terhadap Islam sebenarnya hanyalah efek samping dari sistem yang berlaku di negara yang berwajah sekuler. Bahkan bisa dikatakan bahwa sistem sekuler merupakan ‘penghinaan’ yang lebih besar, yang telah melahirkan penghinaan-penghinaan lainnya.

Butuh perubahan sistemis dengan mencabut akar masalah, yakni memboikot sekularisme serta ide turunannya.
Untuk menghentikan berbagai penghinaan terhadap Islam dan ajarannya yaitu dengan menegakkan sistem yang menjalankan seluruh aturan dan nilai yang berasal dari Allah Swt dan Rasul-Nya, yakni sistem khilafah.

Khilafah yang akan menghilangkan masalah berbagai penyesatan, penghinaan ,penyerangan terhadap Islam dari hal yang paling mendasar hingga yang paling besar.
Lewat pintu dakwah dan jihad Islam akan memiliki wibawa di mata umat lainnya.

Sudah seharusnya bagi kita ketika benar-benar mencintai Allah dan Rasulullah maka senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjaga kemuliaan Nabi kita dan menuntut agar hukuman yang sesuai dengan syariat diterapkan bagi penghina Nabi.

Selain itu pula ada kesadaran dari umat sendiri agar berusaha bersungguh-sungguh berjuang dalam menegakkan kembali Khilafah Islamiyah yang akan bertindak tegas menjaga kemulian Rasulullah saw dan menjaga hukum-hukum Allah

Wallahu ‘alam bishshawab

About Post Author