30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Agenda Terselubung Dibalik Internasionalisasi Layanan Kesehatan

Oleh: Heni_ Ummufaiz
Ibu Pemerhati Umat

Indonesia merupakan negara kaya raya baik sumber daya alam yang berupa barang tambang, pertanian, perikanan dan masih banyak kekayaan lain yang masih terpendam. Sebenarnya sumber daya manusianya banyak yang cerdas bahkan inovatif tapi sayangnya di negeri ini mereka kurang dihargai bahkan penguasa lebih banyak dan percaya dengan sumber daya dari asing.

Miris bukan? negeri kaya raya tetapi justru yang banyak bermain yang bersangkutan dengan hajat orang banyak dikuasai oleh asing maupun aseng. Bahkan sektor krusial seperti halnya kesehatan kini menjadi bidikan asing.

Hal ini yang dilakukan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut menyebutkan bahwa pemerintah akan bekerjasama dengan investor pemain industri rumah sakit asal Singapura dan Australia untuk mendirikan rumah sakit bertaraf internasional.

Pada mulanya, dia menyinggung ongkos yang dikeluarkan setiap tahun untuk wisata medis yang mencapai US$ 6 miliar hingga US$ 7 miliar. Oleh karena itu, pemerintah berkeinginan untuk mendorong investasi RS asing di dalam negeri. cnbcindonesia.com, (21/10/2020

Menelisik adanya wacana pemerintah dalam meminang RS sakit asing untuk diajak kerjasama dalam bidang kesehatan tentu menjadi pertanyaan bagi kita, bagaimana nasib RS lokal serta nakesnya?Bagaimana pula nasib rakyat jika RS asing menjamuri tanah air ini.
Tentu hal ini akan sangat merugikan rakyat serta penguasaan bidang kesehatan akan dipindah alihkan ke pihak swasta.

Negara abai memberikan layanan terhadap rakyatnya sendiri karena akan didominasi RS asing. Kepercayaan publik terhadap negara pun akan semakin berkurang. Logika wisata medis merupakan isapan jempol semata karena hal ini hanya bisa dilakukan oleh kalangan tertentu dengan jumlah yang sangat sedikit.

Lebih parahnya sumber daya manusia dalam hal ini nakes dalam negeri peranannya akan diganti oleh nakes yang berasal dari asing. Pembiayaan terhadap kesehatan akan menjadi mahal dan sulit terjangkau oleh masyarakat. Hal inilah justru semakin mengokohkan cengkraman asing di negeri tercinta ini. Ini pula sebuah penyesatan opini kepada umat.

Sistem demokrasi kapitalis telah membutakan mata hati para penguasa antek asing. Tak ada lagi perlindungan terhadap rakyat yang ada orientasi materi yang dijadikan patokan hidupnya.
Ini menjadi bukti bahwa sistem kapitalisme yang kini diadopsi penguasa lebih mementingkan pihak asing serta korporasi.

Sistem Islam Menjamin Pelayanan Kesehatan Publik.

Kesehatan merupakan kebutuhan yang sangat vital. Di dalam sistem Islam masalah kesehatan dijamin oleh negara baik dari segi obat-obatan,nakesnya maupun sarana pra sarana yang mendukungnya.
Negara memfasilitasi fasilitas kesehatan tanpa memungut bayaran sedikitpun kepada rakyat. Semua pembiayaan berasal dari sumber daya alam yang dikelola secara sempurna.

Hasilnya tentu saja dikembalikan kepada rakyat dengan menyediakan berbagai kebutuhan pokok yang dibutuhkan rakyat tak terkecuali pengadaan Rumah Sakit dan hal yang terkait kesehatan.

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw pun (dalam kedudukan beliau sebagai kepala negara) pernah mendatangkan dokter untuk mengobati salah seorang warganya, yakni Ubay.  Saat Nabi saw. Mendapatkan hadiah dokter dari Muqauqis, Raja Mesir, beliau pun menjadikan dokter itu sebagai dokter umum bagi seluruh warganya.

Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Anas ra. Bahwa serombongan orang dari Kabilah Urainah masuk Islam.  Lalu mereka jatuh sakit di Madinah.  Rasulullah saw . selaku kepala negara saat itu meminta mereka untuk tinggal di penggembalaan unta zakat yang dikelola Baitul Mal di dekat Quba’.  Mereka diperbolehkan minum air susunya sampai sembuh. Dari sini dapat dipahami bahwa pelayanan kesehatan termasuk kebutuhan dasar bagi seluruh rakyat yang wajib disediakan oleh negara secara gratis dan tanpa diskriminasi.

Jaminan kesehatan dalam Islam itu memiliki tiga ciri khas. Pertama, berlaku umum tanpa diskriminasi, semua mendapat tanpa melihat ras,agama serta pembedaan dalam pemberian layanan kesehatan kepada rakyat. Kedua, bebas biaya, artinya rakyat tidak dikenai pungutan biaya apa pun untuk mendapat pelayanan kesehatan oleh negara. Ketiga, seluruh rakyat harus diberi kemudahan untuk mengakses dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dari negara.

Pada abad ke IX, Ishaq bin Ali Rahawi menulis Adab at-Thabib yang untuk pertama kalinya ditujukan untuk kode etik kedokteran, ada 20 bab dalam buku tersebut. Di antaranya merekomendasikan melakukan peer-review atas setiap pendapat baru yang ditemukan di dunia kedokteran. Jika ada pasien yang meninggal maka catatan medis dokter akan diperiksa oleh dewan dokter, untuk menguji apakah sesuai standar atau tidak. Dalam sistem Islam pelayanan kesehatan sangat detail semata-mata demi memberikan layanan terbaik.

Dalam sistem Islam semua komponen terlibat demi keberhasilan jaminan kesehatan.Tidak ada asas manfaat atau mencari keuntungan dalam pelayanan kesehatan terhadap masyarakat.

Betapa adilnya dan harmonisnya sistem pelayanan kesehatan dalam Islam. Hal ini tentunya sangat dirindukan oleh siapa pun yang menginginkan kesehatan lebih baik.
Oleh karena itu, sudah saatnya bagi kita memperjuangkan tegaknya sistem Islam kafah agar keberkahan serta jaminan kesehatan secara sempurna bisa segera dirasakan.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author