24/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Berulangnya Pelecehan Nabi, Umat Butuh Solusi Hakiki


Oleh: Safiatuz Zuhriyah, S. Kom
Aktivis Dakwah Muslimah

Rabiul Awal adalah bulan istimewa bagi kaum muslimin. Di bulan ini, Nabi Muhammad lahir. Kelahirannya membawa rahmat bagi seluruh alam. Membebaskan manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam yang terang-benderang. Karenanya, seluruh kaum muslimin bersuka cita. Memperingati bulan kelahirannya dengan berbagai cara.

Sayangnya, perasaan bahagia itu harus terusik. Pasalnya, kembali terjadi pelecehan terhadap sosok Nabi. Peristiwa pelecehan diawali dengan tindakan seorang guru di Prancis, Samuel Paty, yang menggunakan kartun terbitan Charlie Hebdo tahun 2015 saat mengajar. Tindakan ini menuai protes dari komunitas muslim dan Paty terbunuh dengan kepala dipenggal.

Menyikapi hal ini, Presiden Emmanuel Macron bukannya meminta maaf kepada umat Islam, malah membuat pernyataan kontroversial. Macron menilai, kartun atau karikatur Nabi Muhammad di Charlie Hebdo sebagai kebebasan berpendapat. Dia juga mengatakan Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis dengan posisi muslim makin sulit. Menurut Macron, aksi pembunuhan ini merupakan serangan terhadap kebebasan berbicara sehingga pihaknya menyebut akan melawan “separatisme Islam” yang ada.

Tentu saja, pernyataan ini memicu reaksi negatif dari berbagai belahan dunia, khususnya negara-negara yang dihuni oleh penduduk muslim sebagai mayoritas. Seperti Indonesia, Malaysia, Turki, Kuwait, dan lain sebagainya. Aksi Macron tersebut bahkan telah menjadi landasan bersama bagi masyarakat dan sebagian besar pemimpin di dunia muslim untuk bersatu.

Dari mulai Rabat hingga Islamabad, Ankara hingga Teheran, Kairo, Dhaka dan Kuwait, umat Islam telah bereaksi dengan kemarahan terhadap sikap Prancis tentang Islam dan karikatur Nabi Muhammad.

Di Bangladesh, kota yang merupakan konsumen besar parfum dan kosmetik Prancis, puluhan ribu pengunjuk rasa mengambil bagian dalam aksi demonstrasi yang menyerukan pemboikotan barang-barang buatan Prancis.

Sementara toko-toko di Turki, Pakistan, Qatar, Kuwait, dan Yordania, menyingkirkan keju dan kosmetik Prancis dari rak mereka sebagai ungkapan kemarahan atas sikap agresif Macron.  (m.republika.co.id, 29/10/2020)

Majelis Ulama Indonesia ( MUI) pun mengeluarkan imbauan kepada umat Islam Indonesia untuk memboikot segala produk asal negara Prancis. Selain aksi boikot, MUI juga meminta Presiden Perancis Emmanuel Macron mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada umat Islam sedunia. (kompas.com, 31 Oktober 2020)

Seruan boikot ini adalah salah satu upaya pembelaan kaum muslimin. Mereka tidak rela, figur yang sangat dihormati karena keagungannya, dilecehkan begitu saja. Menggambar kartun Nabi, sama dengan merendahkan kedudukan Nabi yang mulia sebagai utusan Allah. Diyakini, seruan boikot ini akan menekan Prancis agar tidak berbuat sewenang-wenang lagi. Karena negeri-negeri muslim terutama Timur Tengah adalah tujuan ekspor Prancis. Namun, banyak pihak yang meragukan keefektifannya.

Direktur Forecast Global di Economist Intelligence Unit, Agathe Demarais, mengatakan boikot itu akan berlangsung singkat jika mengacu pada peristiwa tahun 2015. Saat itu, protes serupa terjadi menyusul pembunuhan 12 orang di majalah satir Charlie Hebdo di Paris atas publikasi kartun yang sama.

“Ini adalah kejadian ulang dari apa yang terjadi pada 2015 ketika ada seruan untuk boikot produk Prancis di beberapa belahan dunia Muslim. Kejadian ini paling berumur pendek dan saya rasa perusahaan Prancis tidak memiliki masalah nyata dalam menjual produk mereka di Timur Tengah pada saat itu,” kata Demarais.

Sementara itu, seruan boikot disebut Kementerian Luar Negeri Prancis tak ada gunanya. Asosiasi Industri Makanan Nasional Prancis (ANIA) mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk menilai konsekuensi ekonomi bagi pasar Timur Tengah yang mewakili 3% dari semua ekspor.

Pengamat ekonomi sekaligus Dosen Perbanas Institute, Piter Abdullah juga memastikan bahwa gerakan boikot produk Prancis tidak berpengaruh banyak kepada Indonesia, baik dari sisi investasi maupun ekspor impor. Sebab, produk-produk Indonesia sendiri tidak banyak yang bisa menjadi substitusi produk Prancis. Terutama untuk barang-barang yang kerap digunakan sebagai gaya hidup. Seperti brand Hermes, Yves Saint Lauren, Louis Vuitton, Chanel, Dior, dan Givenchy.

Kebebasan Berekspresi, Pangkal Masalah

Seharusnya kaum muslimin sadar, bahwa kebencian Barat (orang-orang kafir) terhadap Islam, adalah sebuah keniscayaan. Sebagaimana firman Allah Swt.:“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran[3]: 118)

Perang peradaban akan selalu terjadi. Bila suatu saat Barat bermanis muka, itu hanyalah kedok untuk menutupi apa yang sebenarnya tersimpan rapat dalam hati mereka, yaitu kebencian. Jangan pernah bersikap lembek di hadapan orang-orang kafir. Tunjukkan, bahwa kaum muslimin punya kehormatan dan kekuatan.

Kebebasan berpendapat yang selalu digaungkan, membuka kesempatan seluas-luasnya untuk melecehkan agama. Karena asasnya adalah sekulerisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Agama, dilarang ikut campur mengatur kehidupan manusia. Jadilah kebebasan tanpa norma, yang cenderung menghasilkan kerusakan manusia.

Solusi Hakiki

Sayang, kaum muslimin hari ini lagi-lagi harus memendam kecewa. Tak ada yang bisa dilakukan selain mengutuk dan mengecam, paling banter memenuhi seruan boikot. Padahal, andai kaum muslimin di seluruh dunia melakukan boikot produk Prancis pun, tidak akan membawa dampak signifikan bagi negara penghina Nabi tersebut. Seharusnya, ada tindakan nyata yang benar-benar bisa menghentikan, bahkan mencegah aksi pelecehan tersebut terjadi kembali.

Kaum muslimin saat ini tidak berdaya, karena tidak memiliki junnah (perisai) yang melindunginya. Rasululllah saw. bersabda: “Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggungjawab atasnya.“ (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Yang dimaksud dengan al-imâm adalah khalifah. Sebab sebagaimana penjelasan imam an-Nawawi, sebutan al-imâm dan al-khalifah itu adalah metaradif (sinonim). Makna hadis ini bisa dipahami sebagai pujian atas keberadaan imam atau khalifah.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa imam adalah junnah (perisai) yakni seperti tirai/penutup karena menghalangi musuh menyerang kaum muslim, menghalangi sabagian masyarakat menyerang sebagian yang lain, melindungi kemurnian Islam dan orang-orang berlindung kepadanya. Adapun menurut al-Qurthubiy maknanya adalah masyarakat berpegang kepada pendapat dan pandangannya dalam perkara-perkara agung dan kejadian-kejadian berbahaya, tidak melangkahi pendapatnya serta tidak bertindak sendiri tanpa perintahnya.

Hadis ini juga memberikan makna bahwa keberadaan seorang al-imâm atau khalifah akan menjadikan umat Islam memiliki junnah atau perisai yang melindungi umat Islam dari berbagai marabahaya, keburukan, kemudaratan, kezaliman, dan sejenisnya.

Makna hadis ini menemukan faktanya saat ini. Ketika imam yang mejadi perisai umat Islam itu tidak ada, umat Islam pun menjadi bulan-bulanan kaum kafir dan musyrik serta orang-orang zalim. Dengan seenaknya, mereka melakukan pelecehan kepada Nabi Muhammad saw. tanpa ada perlawanan berarti.

Sejarah pernah mengungkap fakta ketika Barat tidak berani menghina Nabi Muhammad. Pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Hamid II (1876–1918) Prancis pernah merancang drama teater yang diambil dari karya Voltaire (seorang pemikir Eropa) yang menghina Nabi Muhammad.

Drama itu bertajuk “Muhammad atau Kefanatikan”. Begitu mengetahui berita pementasan itu, Abdul Hamid memberi perintah kepada pemerintah Prancis melalui dutanya di Paris supaya menghentikan pementasan drama itu dan mengingatkan akan akibat politik yang bakal dihadapi oleh Prancis jika ia meneruskan pementasan itu. Prancis dengan serta merta membatalkannya.

Selanjutnya, perkumpulan teater itu datang ke Inggris untuk merancang pementasan yang serupa dan sekali lagi Abdul Hamid memberi perintah kepada Inggris . Inggris menolak perintah itu dengan alasan tiket-tiket telah dijual dan pembatalan drama itu bertentangan dengan prinsip kebebasan rakyatnya. Perwakilan Utsmaniyah di Inggris mengatakan kepada Inggris bahwa walaupun Prancis mengamalkan “kebebasan” tetapi mereka telah mengharamkan pementasan drama itu. Inggris juga menegaskan bahwa kebebasan yang dinikmati oleh rakyatnya adalah jauh lebih baik dari apa yang dinikmati oleh Prancis.

Setelah mendengar jawaban itu, Abdul Hamid sekali lagi memberi perintah :”Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengumumkan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasulullah kami. Saya akan kobarkan jihad al akbar (jihad besar). Inggris dengan serta merta melupakan keinginannya mengamalkan “kebebasan berpendapat” dan pementasan drama itu dibatalkan. (m.hidayatullah.com)

Demikianlah, hanya khilafah yang bisa membungkam mulut pongah para penjajah. Ketika diterapkan, khilafah tidak hanya mampu melindungi ajaran Islam, tetapi mampu memberikan rahmat bagi seluruh alam. Baik bagi muslim maupun nonmuslim.

Kisah manis kerukunan umat beragama direkam dengan indah oleh Will Durant dalam bukunya, The Story of Civilization. Dia menggambarkan keharmonisan antara pemeluk Islam, Yahudi dan Kristen di Spanyol di era Khilafah Bani Umayyah. Mereka hidup aman, damai, dan bahagia bersama orang Islam di sana hingga abad ke-12 M. Tidak ada saling melecehkan ajaran agama satu dengan yang lain.

Semua ini karena aturan yang diterapkan bersumber dari Allah Swt., Dzat yang menciptakan manusia. Dialah yang paling tahu karakteristik manusia. Tidaklah Allah membuat aturan, kecuali karena rasa sayangnya kepada manusia dan menghindarkannya dari kerusakan. Saatnya seluruh umat Islam bersatu untuk berjuang mewujudkan Khilafah Islamiyah, sebagai satu-satunya solusi atas semua permasalahan kaum muslimin.

About Post Author