06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Islam Solusi Sistematik Atasi Banjir

Oleh : Susi Herawati
Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah

Musim hujan telah tiba. Walaupun curah hujan belum tinggi, tapi sekali saja hujan deras banyak sampah-sampah berserakan akibat terbawa arus air selokan. Hal ini terjadi akibat saking lemahnya drainase gorong-gorong saluran air yang terhalang sampah rumah tangga. Tidak sedikit masyarakat yang membuang sampah ke saluran air, baik itu sungai maupun ke gorong-gorong selokan. Hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan. Akibatnya, terjadi kerusakan alam dimana-mana. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Ar-Rum ayat 41, yang artinya:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (kejalan yang benar).”

Dari ayat diatas, disebutkan bahwa telah terjadi kerusakan yang disebabkan perbuatan tangan manusia. Kerusakan alam itu salah satunya adalah banjir. Daerah Rancaekek, Bale Endah dan Dayeuh Kolot adalah daerah langganan banjir dan sepertinya sudah menjadi agenda tahunan di Kabupaten Bandung yang masih belum bisa dituntaskan. Direktur Inisindo Omni Consult, Moch Ihsan menilai masalah banjir di Kabupaten Bandung adalah masalah sistemik. Artinya titik tumpuan bukan hanya di satu titik saja, karena kini kawasan banjir bukan berkutat di Kabupaten Bandung saja. “Masalah banjir sudah jadi permasalahan lintas wilayah di Sumedang, kota Bandung, kota Cimahi dan juga Kab Bandung Barat juga banjir, penanganan banjir harus dilakukan antar wilayah administrasi, antar lembaga, antar kewenangan, malah bisa antar kelompok masyarakat.” ujar Ihsan dalam rilis yg diterima republik.co.id, (29/10/2020).

Ihsan mengakui konsep penanganan banjir dulu adalah dengan menjaga hulu dan hilir, namun konsep tersebut harus diadaptasi mengikuti perkembangan yang ada. “Jadi banjir Kabupaten Bandung menjadi masalah bersama dan harus ada pengendalian, bisa secara horizontal dan vertikal.” tambah Isan.

Ketua pesantren Ishlahul Amanah ini juga menyebutkan bahwa penyelesaian masalah banjir ada di pemerintah provinsi Jawa Barat sehingga perlu adanya koordinasi dengan wilayah yang dikuasai oleh lembaga vertikal lainnya seperti Indonesia Power, Perhutani, PTPN, dan lainnya.

Penyelesaian masalah banjir ada cara lain yaitu dengan cara teknis. Jadi ada intervensi teknis yang pertama dalam intervensi kebijakan sosial ekonomis dan teknis-teknis untuk mengurangi genangan air. Banjir pada faktanya hal tabu bagi masyarakat Rancaekek, Bale Endah, dan Dayeuh Kolot. Mereka sudah familiar dengan banjir ini. Berarti ada yang kurang tepat secara sistematik dalam tata kelola kota sehingga usaha mengatasi banjir secara teknis tidaklah mencukupi.

Namun setelah kita telusuri ternyata akar masalahnya ada pada ideologi yang diterapkan negara yaitu Kapitalisme. Sistem Kapitalisme yang didasarkan pada pertumbuhan ekonomi, memberi peluang seluas-luasnya bagi penguasa dan pemilik modal (pengusaha) untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya dan muncul banyak aturan yang memberikan kemudahan dalam pembangunan industri, perkantoran dan bisnis yang menggiurkan lainnya, semisal villa, perumahan dan hotel dan maraknya.

Pembangunan yang tidak diiringi dengan efek kelanjutan pada lingkungan sekitar, mengakibatkan hilangnya ruang terbuka hijau dan daerah resapan air. Sungguh, sistem kapitalisme ini telah membuat kerusakan yang tiada akhirnya.

Berbeda halnya dengan Islam. Islam menjamin pembangunan dengan harus selalu menjaga keseimbangan antara kehidupan lingkungan dan ekonomi. Islam melarang bersikap zalim baik terhadap sesama manusia, hewan dan tumbuhan.

Maka solusi untuk mengatasi banjir secara tuntas sudah semestinya kita kembalikan kepada sistem Islam saja yaitu dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam institusi Daulah khilafah Islamiyah dan mencampakkan sistem kapitalisme sekuler sebagai biang segala permasalahan.

Khalifah sebagai pemimpin tunggal dalam kekhalifahan, mengatasi banjir dengan membangun bendungan-bendungan untuk menampung curah air hujan, curahan air sungai dan lain-lain. Juga memetakan daerah rawan banjir dan melarang penduduk membangun pemukiman dekat daerah tersebut, pembangunan sungai buatan, kanal saluran, drainase dan sebagainya, yaitu untuk mengurangi penumpukan volume air dan mengalihkan aliran air. Membangun sumur-sumur resapan di daerah tertentu.

Betapa adil aturan yang ada dalam Islam, karena bersumber dari Sang Pengatur Alam Semesta.

Wallahu’allam bishawab.

About Post Author