20/01/2021

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Kebijakan Kontradiktif, Bukti Kapitalis Gagal Atasi Pandemi


Apt. Dian Budiarti, S.Farm | Apoteker

Kabupaten Bandung menjadi daerah dengan persentase kenaikan pertambahan kasus konfirmasi positif Covid-19 tertinggi di Indonesia pada pekan ketiga Oktober 2020. Selain itu, tingkat kematian di daerah itu juga masih berada di atas rata-rata nasional. Berdasarkan Analisis Data Covid-19 Indonesia yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19 Nasional, Selasa 27 Oktober 2020, kasus konfirmasi positif di Kabupaten Bandung bertambah sebanyak 161 orang pada periode 19-25 Oktober 2020. Jika dipersentasekan, pertambahan itu mencapai 570,8 persen dari pertambahan periode pekan sebelumnya (12-18 Oktober 2020) yang hanya sebanyak 24 kasus. Dikutip dari jurnalsoreang.pikiran-rakyat.com, Selasa (27/10/2020).

Di tengah meningkatnya kasus Covid-19 di Kabupaten Bandung, Kapolresta Bandung Kombes Pol Hendra Kurniawan mengimbau masyarakat tidak memanfaatkan long week end untuk berwisata. Seperti yang dikutip pada ayobandung.com (27/10/20).
Hal ini senada dengan himbauan dari Bupati Kabupaten Bandung, Dadang M Naser yang mengimbau masyarakat untuk menghabiskan libur panjang di rumah.

“Seperti kita ketahui, di minggu terakhir Oktober ini ada tiga hari libur yang dilanjut akhir pekan. Oleh karena itu, kami sangat mengimbau agar masyarakat tetap di rumah saja dan melewatkan libur panjang dengan meningkatkan quality time bersama keluarga,” tegas Bupati, belum lama ini. Namun, bagi masyarakat yang tetap ingin berlibur, Dadang Naser menganjurkan untuk berwisata di alam terbuka. Seperti yang dikutip fixindonesia.pikiran-rakyat.com (27/10/20).

Dari peningkatan kasus Covid-19 ini, tentunya akan berdampak kepada pelayanan kesehatan dimana para tenaga kesehatan harus bekerja ekstra untuk memberikan pelayanan pada masyarakat. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Grace Mediana Purnami mengungkapkan, untuk menghindari lonjakan kasus positif, pihaknya akan tetap memberikan pelayanan kesehatan selama libur panjang. Ia juga menuturkan, guna mencegah terjadinya klaster baru di sektor pariwisata, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) serta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk melakukan pemeriksaan kepada wisatawan. Dikutip dari Dara.co.id (27/10/20).

Disisi lain, himbawan-himbawan tersebut seakan tidak ada artinya, ketika tempat-tempat wisata kembali dibuka. Pemerintah sendiri mulai membuka kembali tempat wisata pada pertengahan Juni lalu, dengan alasan demi pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki ekonomi negara yang terpuruk.

Padahal, pemerintah sendiri mengetahui bahwa pembukaan pariwisataa saat kasus Covid-19 masih meningkat memiliki risiko besar, terlebih jika tidak disertai jaminan keamanan yang pasti dari pihak yang bertanggung jawab, pengunjung yang membludak tidak menutup kemungkinan dapat melahirkan kelaster baru penularan yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Apalagi, pariwisata yang identik dengan keramaian akan sulit untuk menerapkan dan mengontrol kepatuhan pengunjung dalam menerapkan protokol kesehatan. Hal ini pula yang memicu tenaga kesehatan harus siaga bekerja ekstra dari sebelumnya.

Begitulah jika, ekonomi kapitalis yang diterapkan dan dianut, menempatkan rakyat sebagai ladang memperoleh keuntungan semata, tanpa memikirkan keselamatan nyawa rakyatnya. Kebijakan yang diambilpun kontadiktif dengan kebijakan lainnya. Disatu sisi mereka berusaha mencegah penyebaran tapi disisi lain mereka juga tidak ingin menutup sumber keuntungan demi kepuasan para ekonomi kapitalis. Seharusnya penanganan terhadap pandemi menjadi prioritas utama pemerintah. Bagaimanapun nyawa dan keselamatan rakyat haruslah jadi yang paling utama. Kegamangan dalam mengambil keputusan ini, menjadi bukti bahwa kapitalis tak dapat mengatasi pandemi.

jika dalam kapitalis dan sosialis sektor wisata sebagai ladang meraup keuntungan, maka berbeda dengan Islam. Islam memandang bahwa wisata adalah sarana edukasi dan sarana mendekatkan diri pada Allah Swt. dan tidak menjadikan sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan negara, sebab Islam memiliki sumber pendapatan sendiri dengan mendayagunakan seluruh potensi kekayaan sumber daya alam yang dimiliki.

Adapun dalam kondisi pandemi seperti saat ini, Islam akan lebih mengutamakan kepentingan rakyat seperti bertanggung jawab memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka sampai pada obat-obatan dan pelayanan kesehatan yang sangat baik untuk mengatasi pandemi. Sedangkan untuk pariwisata karena hal tersebut bukanlah kebutuhan pokok, maka operasionalnya akan dihentikan sementara hingga pandemi berakhir.

Islam sebagai agama yang kaffah, telah memberikan solusi dalam setiap problematika kehidupan manusia sesuai dengan fitrahnya. Sudah seharusnya kita kembali kepada sistem Islam untuk menyelesaikan segala permasalahan di dunia, sebagai sistem negara sehingga penerapan Islam secara menyeluruh dapat terwujud yang terbukti dapat menjadi rahmatan lilalamin.
Wallahu a’lam bishshawab.