29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Lelah Uma, Saksi yang Tak Akan Mati

By : Ummu Aisyah

Setiap orang tua pasti memiliki harapan terbesar untuk putra-putrinya adalah shalih-shalihah mereka. Karena keshalihanlah investasi tak ternilai dunia. Kaya, mungkin bisa melalaikan, pintar mungkin bisa sombong dan lain-lain yang bersifat dunia. Namun keshalihan itu tiada bandingannya di dunia. Anak shalih adalah investasi akhirat, karena anak shalih akan membawa orang tuanya ke surga. Anak shalih akan mencintai orang tuanya, menyayangi dan peduli kepada orang tuanya. Dan anak yang shalih tidak akan rela melihat orang tuanya harus terluka hatinya karena ulah dari anak-anaknya.

Terlebih ibu, pengorbanan seorang ibu sangatlah besar. Dari mulai mengandung, repotnya hamil 9 bulan, sakitnya melahirkan, repotnya mengurus anak dan lain sebagainya. Keringatnya tak ternilai dunia, lelahnya tak terhitung bilangan. Bahkan bisa jadi anak-anak tidak tahu, jika disepertiga malam air matanya bercucuran. Memelas kepada Allah agar kakinya diteguhkan, hatinya dilapangkan, tubuhnya dikuatkan untuk mendampingi anak-anaknya tersayang. Memelas agar buah hatinya menjadi qurrota a’yun bagi kedua orang tuanya. Agar anak-anaknya terjaga dari bala yang mengintainya.

Mungkin seorang anak tidak tahu, jika sang ibu menahan lapar demi mendahulukan anak-anaknya. Menahan ngantuk karena menina bobokan anaknya yang rewel di tengah malam. Tak ada keluh di lisannya, padahal tangannya mulai kesemutan ketika menggendong anaknya. Masya Allah, pantaslah ketika sahabat bertanya mengenai posisi ibu begitu didahulukan ketimbang ayah.

Abu Hurairah RA, berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi saw. menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi saw.  menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi saw. menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Ketika seorang anak masuk usia sekolah, orang tua bingung. Sekolah manakah yang cocok untuk anak-anaknya. Tentu orang tua sangat berfikir keras, memilih sekolah terbaik yang bisa mengantarkan mereka ke surga Allah. Bukan sekolah elit nan mewah, tetapi sekolah yang mampu menjaga aqidah anaknya. Sekolah yang talaqiyan fikriyan, mengemban mabda Islam kafah. Agar anak-anaknya selamat di dunia dan akhirat. Begitu pun dengan sahabatku yang satu ini, plus orang tua murid di STPKU Rancaekek Bandung. Sekolah dimana saya mengajar di sana. Putranya kini telah kelas 6, bertahun-tahun sang ibu antar-jemput ananda Danu. Dari rumah ke sekolah, yang jaraknya kurang lebih 8 km.

Untuk ukuran seorang ibu, naik motor jarak sekian tentunya cukup jauh dan lelah. Setiap pagi dan sore dilalui demi sang buah hati. Sekolah di STPKU Rancaekek Bandung adalah sebuah pilihan dan pengorbanan. Pengorbanan harta, waktu dan tenaga. Tidak semua orang diberi kesempatan bisa menikmati menjadi siswa KU. Yang dididik bak anak sendiri oleh semua guru. Belajar yang talaqiyan fikriyan, membina siswa agar mereka mampu menjalani kehidupan yang sebenarnya kelak di masyarakat.

Pilihan indah inilah yang akhirnya menjadikan ayah ibu ananda Danu mantap menjadi orang tua shalih. Agar putra-putrinya pun shalih. Sehingga pengorbanan jatuh bangun dilewati. Bahkan ibunda Danu merasakan lelah itu yang membuatnya makin ramping, Masya Allah🥺… Sahabatku, semoga lelahmu Lilah berbuah janah. Lihatlah putramu, jauh lebih shalih dibanding anak-anak sebayanya. BarakaLlaahu lakum…

Teruntuk ananda Danu, sekilas cerita tentang perjuangan ibumu, semoga menjadikanmu makin shalih, makin taat sama Allah. Makin dewasa dan rajin belajar. Memanfaatkan masa anak-anakmu dengan belajar dan belajar. Bersyukurlah memiliki orang tua yang bertanggungjawab atas dunia dan akhiratmu. Lihatlah perjuangan ayahmu menafkahimu, betapa berat dan panjang. Pun berliku-liku perjalanan ayahmu nak! Semoga antum menjadi qurrota a’yun bagi ayah bundamu.

Wallaahu a’lam bishshawab

About Post Author