26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Bersabar Dalam Dekapan Kalam-Nya

“Dika, Dika… bangun Nak! Sudah azan subuh.” Ibu memanggil putranya dari arah dapur.

Putranya yang salih, tidak sulit dibangunkan. Mendengar suara ibunya memanggil, Dika pun segera beranjak dari tempat tidur, tak lupa berdoa kemudian menuju kamar mandi untuk mandi, ambil air wudu, kemudian berangkat ke masjid untuk salat berjama’ah bersama ayah.
Sang ibu menatap Dika dan ayah yang bergegas keluar rumah sambil mengucapkan salam.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”

“Wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakaatuh,” sahut ibu di dapur.

Ibu kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur, tak lupa di sela-sela sibuknya, ibu Dika bersegera melaksanakan salat subuh pula.
Keluarga Dika memang keluarga yang taat dalam ibadah. Dika dan ayah selalu berlomba dalam ketaatan. Sama-sama rajin ke masjid untuk salat berjama’ah.
Dika adalah anak kedua, sang kakak adalah seorang gadis remaja yang bersekolah di sebuah pesantren tak jauh dari tempat tinggalnya. Kini Dika sekolah di sekolah Tahfidz Al-Quran kelas 6. Dika terbilang anak yang baik dan salih. Tidak banyak bicara atau pun tingkah yang aneh. Penampilannya cool dan sangat tampan. Di usia yang menjelang remaja, dimana suara mulai berubah, kemudian dari rasa, sudah sedikit demi sedikit muncul rasa suka terhadap lawan jenis.
Namun, karena Dika anak yang salih, ia pandai menjaga sikapnya. Walaupun karena tampan, sering menjadi bisikan para akhwat atau siapapun yang mengenalnya. Bahkan terkadang teman-temannya iri dengan ketampanan Dika. Adakalanya Dika di buli atau menjadi tumpahan fitnah ketika temannya suka dengan seorang akhwat. Maka Dika sering menjadi tertuduh karena dilempar kepada Dika oleh temannya. Seolah Dika yang suka kepada akhwat tersebut.
Sepulang dari masjid, Dika bergegas ambil mushhaf Al-Quran. Tugas Dika adalah muroja’ah bada subuh, setengah dari hafalan Dika. Saat itu, hafalan Dika baru 2 juz. Sementara target yang harus dikejar Dika untuk mendapatkan ijazah adalah 3,5 juz. Walhasil di semester 1 ini, Dika harus ekstra keras dalam upaya mencapai target. Di setiap bada subuh, sang ibu tidak banyak menuntut kepada Dika, sang ibu hanya minta Dika agar rajin menjalankan amanahnya dari sekolah. Walaupun demikian, kesalihannya Dika, tetap saja Dika rajin membantu sang ibu dalam pekerjaan rumah.
Selesai muroja’ah, Dika bergegas ambil sapu, dan segera membereskan barang-barang di tengah rumah dan kamarnya yang cukup berantakan. Selesai menyapu, Dika segera mandi. Sang ibu sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga.

“Dikaa, sudah selesai Nak siap-siapnya?”

“Sebentar lagi Bu, sedang menyiapkan buku dulu!”

“Baiklah.”

Selesai membereskan tas, buku dan lainnya, Dika menuju meja makan, sarapan bersama ayah dan ibunya. Selesai sarapan, ayah berangkat kerja. Dika berangkat ke sekolah diantar ibu, karena jarak dari rumah Dika ke sekolah, kurang lebih 8 km, menggunakan sepeda motor. QodaruLlah, dalam perjalanan, motor kesayangan ibu mogok, ternyata tanpa ibu sadari, bensin motornya habis.

“Yaa Allah Nak, bensinnya habis, maaf yaah Ibu tidak mengecek dulu kemarin.”

“Bu, nanti telat, aku bakal di hukum membersihkan kamar mandi,” ucap Dika, wajahnya merunduk sedih.

“Iyaa maafkan Ibu, Nak!”

“Iya Bu tidak apa-apa. Ini diluar kontrol kita, karena kita manusia biasa yang hanya bisa merencana.”

Mata sang ibu berkaca-kaca, merasa bersalah dan terharu melihat sikap dan kata-kata dari putranya Dika.

“Ibu bangga kepadamu Nak.” Gumam ibu dalam hati.

Kemudian ibu mendorong motor bersama-sama dengan Dika, menuju pom bensin mini yang lumayan jauh jika ditempuh jalan kaki. Tak lama kemudian sampai di pom bensin mini, setelah mengisi bensin, kemudian ibu dan Dika meluncur ke sekolah. Benar saja, tiba di sekolah sudah menunjukkan pukul 07.30. Setengah jam telat tiba di sekolah.
Seperti biasa, Ustadz yang mendapatkan amanah kesiswaan, bertanya kepada Dika perihal telat hingga 30 menit. Dika pun menceritakan kronologis telatnya datang ke sekolah. Mau tidak mau, Dika pun di hukum beristighfar 30 x dan nanti pulang sekolah harus membersihkan kamar mandi. Ada rasa kesal di hati Dika dengan hukuman ini. Tapi, Dika paham aturan ini ditegakkan bukan berarti guru kejam atau aturan sekolah sadis. Namun, benar-benar untuk mendidik dari segi kedisiplinan siswa. Walaupun telat bukan disengaja, tetapi hukum harus ditegakkan. Maka, Dika pun menjalani hukuman itu dengan serius.
Dika berdoa kepada Allah, agar di esok hari tidak terjadi lagi hal yang dialami hari ini. Dika pun berusaha berlapang dada, ini harus ia jalani dengan sabar. Dika yakin, kedisiplinan ini, baik untuk masa depannya kelak, ketika menjalani semua aktifitas dengan sungguh-sungguh. Ternyata diam-diam temannya Dika menyorakinya atas telat dan hukuman yang dialami Dika. Tetapi Dika santai saja dengan tertawaan teman-temannya. Dika fokus dengan semua arahan dari guru.

Bersambung…
15 November 2020
Ummu Aisyah

About Post Author