30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Bersabar dalam Dekapan Kalam-Nya Part 2


Seperti biasa, selesai jam pelajaran pukul 14.10 WIB, semua siswa di sekolahku piket bersama-sama. Kemudian pukul 14.20 WIB semua duduk melingkar untuk melantunkan asmaul husna dan doa bersama.
Sepulang sekolah, sebagaimana yang tadi pagi diakadkan, Dika mendapatkan hukuman membersihkan kamar mandi. Selang 30 menit, tugas Dika pun selesai. Sang ibu sudah menunggu di halaman sekolah. Dika pun tak lupa berpamitan kepada guru-guru yang masih menunggunya. Terlebih kepada ibu Syarah, guru kesayangan Dika, guru yang juga sangat sayang kepada Dika.

Dika berlari menuju keluar, menghampiri sang ibu.
“Sudah Nak, tugasnya?”
“Sudah Bu,” sahut Dika.
Keduanya meluncur diantar tatapan sang guru di teras sekolah. Sepanjang perjalanan, hati sang ibu masih tak menentu.
“Dika sayang. Mau dibelikan apa sama Ibu, Nak?” Ibu membuka pembicaraan.
“Tidak usah Bu, langsung pulang saja, Dika pingin cepat sampai rumah, mau istirahat! “

“Baiklah…” sahut ibu.
Ibu pun meluncur cepat dengan motornya. Kira-kira 1 km lagi sampai rumah, tetiba ibu menghentikan motornya.
“Mengapa berhenti Bu?” tanya Dika.
“Ibu mau beli sesuatu,” jawab ibu.
“Kau tahu? Walaupun dirimu tak meminta, rasanya hati Ibu tak tega, setelah mengecewakamu, Ibu tak mengobatinya dengan sesuatu.”

“Ooh, yaa sudah,” sambut Dika, ibu pun turun dari motor dan mampir di sebuah kedai makanan. Dika hanya melirik tak berselera. Tak lama ibu pun muncul sambil membawa sesuatu ditenteng di tangannya.
“Dika, ayo kita pulang!”
“Ayo!” sambut Dika santai.

Sesampai di rumah, ibu memberikan jajanan yang baru saja dibelinya. Dika menolaknya, ibu terheran-heran melihat tingkah Dika. Rasanya baru kali ini Dika mengabaikan makanan yang dibeli sang ibu.
“Shalih, mengapa tidak mau?”

“Ini Ibu sengaja membelinya untukm, Nak!”

“Tidak Bu,” sahut Dika begitu dingin. Pandangan fokus menatap televisi yang baru ia nyalakan.

“Dika, bisakah Ibu berikan alasan, mengapa Dika tidak mau?”

“Bu, aku takut, jika jajanan yang Ibu beli tidak halal, karena penjualnya non muslim.”
“Astaghfirullahal ‘adziim. Dikaaa… Bisakah tidak su’udzan?”

“Tadi ibu sudah bertanya ke Cici-nya. Kata beliau itu halal, beliau tidak masak daging babi”. Iya bu, maafkan, demi kehati-hatian Dika, bagi Dika itu subhat, karena Dika tidak tahu, apakah Cici itu ketika masak babi, bekasnya di cuci hingga suci atau tidak, sehingga Dika memilih tidak makan itu. Bu maafkan Dika yaa…”

Hati ibu meleleh mendengar ucapan Dika. Dika begitu berhati-hati dalam memilih makanan. Hal itu Dika lakukan berkat hasil belajar di sekolahnya. Ibu berulang-ulang beristighfar dan mengucap syukur atas saleh putranya. Hal itu menyadarkan ibu, untuk lebih menggali lagi hukum Islam.

Menjelang magrib Dika segera mandi, Dika paham, waktunya tidak boleh banyak yang terbuang. Apalagi bada magrib tugasnya adalah muroja’ah. Cita-cita mulianya untuk menjadi hafidz Al-Quran begitu kuat. Walaupun lelah, lisannya tak pernah berkeluh kesah. Sangat disiplin waktu dan giat ibadah. Pukul 20.00 WIB, Dika pun bergegas tidur, agar bisa bangun pukul 03.00 WIB untuk salat tahajud.

Bersambung
18/11/2020 Rancaekek Bandung
Ummu Aisyah

About Post Author