26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Cinta Ulama Cinta Syariat

Oleh: Yani Srisusanti, S.Pd
Praktisi Pendidikan

Ada pemandangan tak biasa pada hari Selasa (10/11) lalu. Bandara Soekarno-Hatta pagi itu hampir lumpuh. Ribuan umat Islam menyemut di bandara untuk menyambut Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS) setelah kurang lebih empat tahun berada di Arab Saudi. Saking ramainya massa simpatisan yang berdatangan, jalan akses menuju bandara lewat Jalan Tol Prof. Soedyatmo pun macet panjang sejak dini hari. Situasi bandara penuh dengan kerumunan massa. Tak cuma itu, akses menggunakan kereta bandara pun ikut lumpuh. Kondisi-kondisi tersebut bahkan membuat beberapa penerbangan harus ditunda alias delay (finance.detik.com, 10/11/2020).

Ulama besar Syekh Ali Jaber mengaku takjub dengan sambutan umat Islam di Indonesia saat Habib Rizieq tiba di Bandara. Menurutnya, hal itu menandakan umat muslim di Indonesia sangat mencintai Sang Habib. “Sekelas presiden bahkan Raja Arab Saudi tidak pernah disambut semeriah itu, jadi saya salut, bangga dan terharu,” katanya (pikiran-rakyat.com, 11/11/2020).

Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin, mengatakan kepulangan Habib Rizieq Shihab akan berdampak pada perpolitikan dalam negeri. Ujang melihat perpolitikan Indonesia ke depan akan semakin dinamis. Menurutnya, diakui atau tidak, HRS (Habib Rizieq Shihab) merupakan simbol perlawanan rakyat terhadap pemerintah. HRS lah tokoh yang berani berhadap-hadapan dengan pemerintah sehingga terusir ke Arab Saudi (nasional.tempo.co, 11/11/2020).

Dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu, Sekretaris Umum FPI, Munarman, menyebut Habib Rizieq Syihab bakal memimpin revolusi akhlak jika tiba di Indonesia. Munarman menjelaskan, revolusi akhlak itu mengubah perilaku agar meneladani sikap Nabi Muhammad saw. Akhlak sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, akhlak yang berdasarkan Al-Quran dan As-Sunah.
(news.detik.com, 19/10/2020).

Pada momen Maulid Nabi Muhammad saw. Habib Rizieq Shihab menjelaskan apa yang dimaksud dengan Revolusi Akhlak, mengenai tahapan perubahan revolusi akhlak menjadi jihad fi sabilillah. Beliau mengatakan, perubahan pola perjuangan bisa terjadi apabila kezaliman tidak berhenti, padahal ajakan perdamaian sudah digaungkan. Habib Rizieq menjelaskan, revolusi akhlak merupakan cerminan dari tindakan Nabi Muhammad Saw. Revolusi jenis ini menawarkan dialog, perdamaian, dan rekonsiliasi kepada musuh. Perang adalah pilihan terakhir apabila tidak menemui titik temu (nasional.okezone.com, 15/11/2020).

Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Research and Analysis (SUDRA) Fadhli Harahab mengkritisi revolusi akhlak yang digagas Habib Rizieq Shihab. Fadhli menilai konsep Revolusi Akhlak yang digaungkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) itu tak jelas karena kesan yang muncul justru untuk kamuflasi politik. Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu lantas membandingkan revolusi akhlak dengan revolusi mental yang digagas Presiden Joko Widodo (www.jpnn.com, 14/11/2020).

Melihat fenomena ini, ada beberapa hal yang patut kita cermati. Pertama, telah munculnya kecintaan umat kepada ulama. Hal ini tentu sangat membahagiakan. Betapa tidak, ulama adalah orang-orang yang berjuang di jalan agama melalui ilmu. Mereka adalah orang-orang yang mewarisi Nabi dalam menjaga dan mensyiarkan ilmu agama. Mensyiarkan pengetahuan pada umat agar tetap berpegang pada kebenaran Al-Qur’an dan As-Sunah. Mencintai ulama merupakan perkara penting dalam diri umat.
Nabi saw. bersabda:

“Barangsiapa memandang wajah orang alim dengan satu pandangan lalu ia merasa senang dengannya, maka Allah Ta’ala menciptakan malaikat dari pandangan itu dan memohonkan ampun kepadanya sampai hari kiamat.”
(Kitab Lubabul Hadis).
Dalam hadis yang lain disebutkan Nabi saw. bersabda:
“Hendaknya kamu semua memuliakan para ulama, karena mereka itu adalah pewaris para Nabi, maka barangsiapa memuliakan mereka berarti memuliakan Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Al Khatib Al Baghdadi dari Jabir ra., Kitab Tanqihul Qaul)

Oleh karena itu, sungguh hina apabila masih ada orang yang membenci ulama. Hal ini sangat menyedihkan karena merupakan pelecehan terhadap agama. Sebab, agama senantiasa diperjuangkan melalui ilmu-ilmu yang disyiarkan oleh ulama. Apabila ada orang yang menghinakan ulama, ia sungguh telah melecehkan agama. Bukan hanya itu, orang yang melecehkan ulama sama dengan menentang Nabi saw. Sebab Nabi saw. jelas-jelas memerintahkan kita selaku umatnya agar memuliakan ulama, bukan malah menghinakannya.

Kedua, umat merindukan keadilan dan menginginkan berakhirnya kezaliman. Dalam berbagai kesempatan disampaikan oleh Habib Rizieq bahwa beliau akan menghentikan kezaliman. Oleh karena itu, dukungan umat kepada beliau sangat besar. Terselip harapan umat akan adanya perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik (Islam).
Apa yang digagas oleh Habib Rizieq harus diapresiasi dan didukung. Hanya saja, perlu dipahami bahwa kezaliman ini bukan hanya hasil buruk individu atau rezim, tetapi hasil dari sistem demokrasi yang rusak dan merusak. Siapa pun pemimpinnya, selama masih menerapkan sistem demokrasi tetap tidak akan dapat menghapuskan kezaliman. Walaupun, faktor pemimpin juga penting. Umat membutuhkan pemimpin yang bersandar pada syariat dan tidak berbuat zalim.

Oleh karena itu, harus disadari bahwa yang dibutuhkan umat adalah sistem kepemimpinan bersandar syariat Islam yakni khilafah yang akan melahirkan para pemimpin yang kebijakannya adil, menyelamatkan umat di dunia dan akhirat. Adapun dalam mengubah masyarakat diperlukan pengubahan unsur-unsur yang menyusun masyarakat yaitu pemikiran, perasaan, dan aturan yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat.
Dakwah yang dilakukan terhadap masyarakat adalah mengubah akidah masyarakat. Masyarakat memang telah memeluk Islam dan berakidah Islam, tetapi akidah itu telah terkotori oleh pemahaman asing yang sebelumnya tidak pernah dikenal dalam Islam, yakni sekularisme dan berbagai turunannya.

Pemahaman masyarakat harus benar-benar diubah. Akidah sekuler harus diganti total dengan akidah Islam. Mereka harus dijelaskan tentang konsep ilahiyah (ketuhanan) secara benar, sehingga tidak terjadi kontradiksi dalam diri mereka.
Semua itu harus ditempuh berdasarkan metode dakwah Rasulullah saw. yang menghancurkan akidah jahiliyah dan menggantinya dengan akidah Islam. Apa yang dilakukan Rasulullah saw. ternyata berhasil. Beberapa orang yang diseru pun akhirnya mau menerima Islam dan mencampakkan pemahaman jahiliyah yang selama ini mereka anut. Di antara mereka ada Khadijah radhiyallahu ‘anha, ada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, teman beliau. Ada Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu dari kalangan budak, hingga Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu dari kalangan anak kecil.

Kemudian Rasulullah saw. berdakwah di Mekkah dengan dakwah yang bersifat pemikiran dan tanpa kekerasan. Pada saat itu masyarakat Mekkah sudah terlalu kental dengan pemikiran kufur dan perlawanan mereka terhadap dakwah Rasulullah sangat keras. Maka Rasul meminta pertolongan (thalabun nushrah) untuk melindungi dakwah. Selain itu juga disampaikan pula rencana pendirian daulah Islam (tegaknya mafahim Islam) kepada kabilah-kabilah lain yang ada di Makkah dan orang yang datang ke Makkah pada musim haji.
Namun demikian, ternyata Allah telah menyiapkan rencana-Nya, yaitu dukungan kekuatan datang dari kaum Aus dan Khazraj yang ada di Yatsrib (Madinah), yang penduduknya menerima Islam melalui dakwah Mush’ab bin Umair yang diutus Rasulullah berdakwah di sana. Kemudian masyarakat Madinah memberikan pertolongan kepada Rasulullah saw. pada Bai’at ‘Aqabah kedua. Hingga mereka dijuluki sebagai Kaum Anshar (penolong). Setelah terjadi Bai’at Aqabah kedua, Rasulullah dan para sahabatnya hijrah ke Madinah dan mendirikan Daulah Islamiyyah di sana. Inilah saat-saat tegaknya masyarakat Islam pertama kali, di mana pemikiran Islam, perasaan Islam, dan aturan Islam ditegakkan.
Adapun akhlak, ia merupakan hasil diterapkannya syari’at. Ketika masyarakat sudah terikat dengan Islam maka otomatis akhlak Islam terwujud di dalam masyarakat.

Oleh karena itu, hendaklah umat berjuang dengan metode dakwah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dengan mencampakkan sistem demokrasi dan kemudian menggantinya dengan aturan Islam, dengan selalu mencintai para ulama, karena ulama merupakan pewaris para Nabi.

Wallahu’alam bishshawab []

About Post Author