30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Harapan Kosong Demokrasi, Masihkah Berharap Kepadanya?

Oleh: Neneng Sriwidianti
Pengasuh Majelis Taklim dan Member AMK

Masyarakat dunia mengucapkan selamat kepada Biden yang memenangkan pemilu AS, tak terkecuali Indonesia. Ia meraih 290 suara elektoral dan mengalahkan Trump yang hanya meraih 214 suara elektoral. Hanya Rusia, Cina, dan Turki yang absen mengucap selamat. Biden dianggap membawa angin segar dan pesan yang menggugah ketimbang Trump. Biden-Haris dianggap mewakili warna AS yang plural.

Harapan pun datang dari umat Islam dunia. Terlebih ketika Biden mengutip dengan fasih hadis Nabi saw. tentang melawan kemungkaran. Biden juga sesumbar akan lebih memperhatikan umat Islam. Biden memuji Islam dan mengatakan Islam adalah salah satu agama terbaik.

“Saya berjanji kepada anda sebagai presiden, Islam akan diperlakukan sebagaimana mestinya, seperti keyakinan agama besar lainnya. Saya sungguh-sungguh bersungguh-sungguh.” Kata Joe Biden, JakbarNews.com, (07/11/2020)

Masihkah percaya, Biden akan membawa harapan baru bagi umat Islam? Umat Islam harus mengambil pelajaran kepada yang sudah terjadi. Jangan sampai umat seperti pepatah: “Keledai saja tak jatuh di lubang yang sama sampai dua kali.” Atau bahkan umat Islam jatuhnya berkali-kali.

Kemenangan Biden dan janji yang diucapkannya jangan sampai membuat umat Islam terlena. Karena kampanye “manis” yang dilakukannya tak lebih hanya untuk mendobrak elektabilitasnya sebagai calon Presiden yang membawa misi berbeda dari Trump. Pencitraan adalah tabiat yang wajib dilakukan bagi konstentan pemilu demokrasi.

Siapa pun presidennya, selama negara tersebut mengemban ideologi kapitalisme, maka kebijakan yang dikeluarkannya tetap rusak dan merusak. Tidak akan pernah berpihak kepada Islam dan umatnya. Wajah AS akan sama. Style kepemimpinan bisa jadi berbeda, namun wajah ideologinya tetaplah sama.

Sebagai negara adi daya dan pengusung ideologi kapitalisme, AS bukanlah negara pemersatu, namun ia sumber konflik. Karena tabiatnya adalah negara penjajah. Umat harus memahami bahwa akidah sekularisme yang diusung AS telah membawa kehidupan kaum muslimin terpuruk, terjerembab dalam kubangan kemaksiatan yang terus-menerus. Rusak dalam seluruh sendi kehidupan.

Seharusnya umat jangan terjebak dengan janji palsu kapitalisme demokrasi. Demokrasi bukan jalan perubahan yang hakiki bagi Islam dan umat Islam. Jika umat tertipu, maka ini akan semakin melanggengkan sistem kufur dan penderitaan umat tidak akan pernah selesai.

Perubahan hakiki adalah perubahan secara mendasar, dengan fondasi yang kuat dari “Sang Pencipta” untuk meraih derajat kehidupan yang bermartabat dan menyejahterakan seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

Allah Swt. telah menjelaskan bahwa Islamlah sistem yang bisa menawarkan kehidupan kepada umat manusia. Hanya Islam yang bisa membawa manusia menuju cahaya, sementara sistem selain Islam justru mengeluarkan manusia dari cahaya menuju kegelapan.

“Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. (TQS. Al-Baqarah [2]: 257)

Artinya hanya sistem Islam yang bisa menjamin terwujudnya perubahan dan kehidupan yang baik yang diridai oleh Allah Swt. Sistem Islam datang dari Pencipta manusia yang paling mengetahui hakikat manusia, apa yang baik dan yang tidak, yang bermanfaat dan yang mudarat bagi manusia.

Campakkan demokrasi sekarang juga! Karena ia hanya memberikan harapan kosong. Hanya sistem Islam saja yang dapat menghantarkan kita menuju perubahan yang kita cita-citakan, yakni perubahan menuju tegaknya aturan Islam kafah. Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah yang bisa mewujudkannya. Thariqah dakwah Rasulullah saw. yang bisa mewujudkannya, bukan dengan jalan demokrasi.

Wallahu a’lam bishshawab

About Post Author