30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Solusi Mengatasi Kemiskinan, Bisakah melalui Zakat?


Oleh Salma Rufaidah


Kemiskinan merupakan salah satu masalah utama dan paling mendasar yang kini masih menjadi perhatian utama bagi pemerintah. Begitu pula di Indonesia dan juga negara lain masih memiliki masalah yang cukup pelik dalam pemberantasan. Tak hanya di Indonesia, masih banyak negara lain yang lebih parah dari Indonesia.
Faktor terjadinya di Indonesia begitu beragam. Banyaknya jumlah penduduk dan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat di Indonesia juga menjadi salah satu faktor penyebab. Pasalnya semakin banyak penduduk di Indonesia, tetapi tidak ada lapangan pekerjaan sudah pasti banyak masyarakat Indonesia yang menganggur. kemiskinan


Usaha untuk meminimalisasi hingga kini terus dilakukan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Tisna Umaran pada Peresmian Desa Cakap, Agamis, Sehat Berdaya (Cahaya) di Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan. Ia menjelaskan Program Desa Cahaya merupakan inisiasi Yayasan Baitul Mal (YBM) Perusahaan Listrik Negara (PLN). Ia berharap, kehadiran YBM dapat mendukung program pemerintah daerah dalam peningkatan perekonomian masyarakat. “Hadirnya YBM PLN melalui Desa Cahaya di tengah-tengah masyarakat, diharapkan dapat menjadi penopang program Pemkab Bandung dalam hal pengurangan angka kemiskinan. Kami berharap, bantuan yang diberikan berupa pemberdayaan ekonomi baik fisik maupun non fisik, dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sehingga dapat mempercepat pengentasan kesenjangan ekonomi masyarakat,” harapnyakemiskinan
Sementara General Manager (GM) PT. PLN Jawa Bagian Tengah (JBT) Sumaryadi menjelaskan, Program Desa Cahaya merupakan rangkaian peringatan Hari Jadi PLN ke – 75.
“Kegiatan serupa juga dilaksanakan di 75 lokasi lainnya. Untuk Jawa Barat sendiri ada tiga titik peresmian, yakni Sumedang, Garut dan Kabupaten Bandung,” jelas Sumaryadi.
Untuk merealisasikan program itu, dirinya menjelaskan, seluruh pegawai PLN yang beragama Islam menyerahkan 2,5 persen dari penghasilan setiap bulannya kepada YBM.
“Jadi, program Desa Cahaya ini bersumber dari zakat yang dikumpulkan para pegawai secara ikhlas. 2,5 persen ini kami alokasikan untuk pemberdayaan masyarakat, pendidikan dan kesehatan masyarakat sendiri,”terangnya. kemiskinan.

Bisakah mengatasi kemiskinan melaui zakat ?
Zakat merupakan ibadah dalam Islam yang memiliki dimensi sosial-ekonomi. Zakat berfungsi sebagai media redistribusi kekayaan dari kelompok yang mampu (aghniya’) kepada golongan yang kurang mampu (dhuafa’) dan yang tertindas (mustadh’afin).
Zakat merupakan institusi resmi syariat Islam untuk menciptakan kesejahteraan sosial-ekonomi yang berkeadilan, sehingga pembangunan ekonomi mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat. Hanya saja zakat merupakan salah satu aktivitas ibadah yang pengaturannya bersifat tauqifiy … apa adanya sebagaimana yang disebutkan dalam nas, sebagaimana apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi. Termasuk dalam pendistribusiannya.
Tentang pendistribusiannya, zakat memiliki aturan yang jelas tentang siapa yang berhak menerimanya, sebagaimana telah dirincikan Alquran ke dalam delapan ashnaf penerima zakat (Q.S. At-Taubah [9]: 60). Mereka itu adalah: orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, mualaf, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang (gharimiin), fii sabilillah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.
Zakat adalah hak bagi kedelapan ashnaf ini, yang wajib dimasukkan ke dalam baitulmal, baik ada keperluan ataupun tidak. Hal itu karena Allah telah membatasinya dengan lafal innamâ, artinya hanya untuk delapan golongan itu saja. Jadi selain mereka tidak boleh menerima zakat.
Baca juga:  Dana Umat YES, Syariat Islam NO? Islam Bukan Ideologi Prasmanan!

Zakat bukan hak baitulmal, demikian juga bukan mustahik baitulmal. Baitulmal hanya tempat penyimpanan harta zakat, untuk kemudian didistribusikan kepada orang-orang yang telah ditentukan oleh Allah dalam Alquran. Akan tetapi, mengenai pemanfaatannya semuanya tetap menjadi hak bagi mustahik mau diapakan harta zakat yang menjadi haknya.
Benar bahwa zakat merupakan sebuah proses yang produktif dalam pemberdayaan masyarakat. Artinya, pemanfaatan zakat semestinya bukan hanya terpaku pada hal-hal yang bersifat konsumtif, melainkan memiliki agenda pembangunan masyarakat yang terpadu melalui pemberdayaan masyarakat.
Seorang mustahik dengan dorongan keimanan yang tinggi tidak hanya sekadar mencukupkan dirinya untuk menjadi mustahik selamanya, tetapi ia akan berusaha memanfaatkan dengan baik harta yang dimilikinya, mandiri dalam mengelola harta yang datang kepadanya. Sehingga, suatu saat ia tidak lagi menjadi mustahik, tetapi justru menjadi muzaki baru.
Akan tetapi sekali lagi, bahwa pemanfaatan zakat tetap menjadi hak bagi mustahik mau diapakan harta zakat yang menjadi haknya tersebut, tidak ada pihak manapun yang berhak untuk memaksanya, bahkan negara sekalipun. Apakah harta tersebut akan digunakan untuk usaha sehingga produktif harta zakat tersebut, ataupun untuk memenuhi kebutuhannya berupa makanan, pakaian, dan sebagainya sehingga habis dalam waktu yang tidak lama. Semua ada dalam kewenangan mustahik zakat.
Baca juga:  Siapa yang Dimaksud dengan “Asnaf fii Sabilillah”?

Dari sini jelas, bahwa zakat tidak boleh sembarangan pemanfaatannya, hanya delapan ashnaf saja yang berhak menerimanya, sebagaimana yang telah disebutkan dalam QS At-Taubah ayat 60, maka selain delapan ashnaf tidak boleh harta zakat diberikan kepadanya

Bagaimana pandangan Islam terhadap kemiskinan?
Dalam Islam, kemiskinan tidak dinilai dari besar pengeluaran atau pendapatan, tetapi dari pemenuhan kebutuhan asasiyah (pokok) secara perorangan. Kebutuhan pokok itu mencakup sandang, pangan, perumahan, kesehatan dan pendidikan secara layak. Allah SWT berfirman:
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
Kewajiban para ayah memberikan makanan dan pakaian kepada keluarga secara layak (TQS al-Baqarah [2]: 233).
Bahkan dalam Islam, orang baru dikatakan kaya atau sejahtara jika memiliki kelebihan harta di atas 50 dirham. Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda:
«ما مِنْ أحد يَسْأَلُ مَسْأَلَةً وَهو عنها غَنِيٌ إِلاَّ جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كُدُوحًا أَوْ خُدُوْشًا أَوْ خُمُوشًا فِي وَجْهِهِ » قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ: وَمَاذَا يُغْنِيهِ، أَوْ مَاذَا أَغْنَاهُ؟ قَالَ: «خَمْسُونَ دِرْهَمًا…»
“Tidaklah seseorang meminta-minta, sementara ia kaya, kecuali pada Hari Kiamat nanti ia akan memiliki cacat di wajahnya.” Ditanyakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, apa yang menjadikan ia termasuk orang kaya?” Beliau menjawab, “Harta sebesar 50 dirham…” (HR an-Nasa’I dan Ahmad).
Mengomentari hadis di atas. Syaikh Abdul Qadim Zallum menyatakan, “Siapa saja yang memiliki harta sebesar 50 dirham—atau setara dengan 148,75 gram perak, atau senilai dengan emas seharga itu—yang merupakan kelebihan (sisa) dari pemenuhan kebutuhan makan, pakaian, tempat tinggal; juga pemenuhan nafkah istri dan anak-anaknya serta pembantunya—maka ia dipandang orang kaya. Ia tidak boleh menerima bagian dari zakat (Abdul Qadim Zallum, Al-Amwâl fî ad-Dawalah al-Khilâfah, hlm. 173).
Jika satu dirham hari ini setara dengan Rp 50 ribu saja, maka 50 dirham sama dengan Rp 2,5 juta. Kelebihan harta di atas 2,5 juta itu tentu merupakan sisa dari pemenuhan kebutuhan pokoknya (makanan, pakaian, perumahan; juga nafkah untuk anak, istri dan gaji pembantunya).

Cara Islam Mengentaskan Kemiskinan
Pertama: Secara individual, Allah SWT memerintahkan setiap Muslim yang mampu untuk bekerja mencari nafkah untuk dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 233). Rasulullah saw. juga bersabda:
طَلَبُ الْحَلالِ فَرِيضَةٌ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ
Mencari rezeki yang halal adalah salah satu kewajiban di antara kewajiban yang lain (HR ath-Thabarani).
Kedua: Secara jama’i (kolektif) Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk saling memperhatikan saudaranya yang kekurangan dan membutuhkan pertolongan.
Rasulullah saw. bersabda:
أَيُّمَا أَهْلِ عَرْصَةٍ ظَلَّ فِيهِمُ امْرُؤٌ جَائِعٌ، فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُمْ ذِمَّةُ اللَّهِ
Penduduk negeri mana saja yang di tengah-tengah mereka ada seseorang yang kelaparan (yang mereka biarkan) maka jaminan (perlindungan) Allah terlepas dari diri mereka (HR Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah).
Ketiga: Allah SWT memerintahkan penguasa untuk bertanggung jawab atas seluruh urusan rakyatnya, termasuk tentu menjamin kebutuhan pokok mereka. Rasulullah saw. bersabda:
فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Pemimpin atas manusia adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).
Di Madinah, sebagai kepala negara, Rasulullah saw. menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya dan menjamin kehidupan mereka. Pada zaman beliau ada ahlus-shuffah. Mereka adalah para sahabat tergolong dhuafa. Mereka diizinkan tinggal di Masjid Nabawi dengan mendapatkan santunan dari kas negara.
Urgensinya Penerapan Syariah Islam
Saat ini kemiskinan yang menimpa umat lebih merupakan kemiskinan struktural/sistemik, yakni kemiskinan yang diciptakan oleh sistem yang diberlakukan oleh negara/penguasa. Indonesia melalui  Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2020 mencapai 26,42 juta orang( https://economy.okezone.com/read/2020/07/15).Itulah sistem kapitalisme-liberalisme-sekularisme. Sistem inilah yang telah membuat kekayaan milik rakyat dikuasai dan dinikmati oleh segelintir orang. Di negeri ini telah lama terjadi privatisasi sektor publik seperti jalan tol, air, pertambangan gas, minyak bumi dan mineral. Akibatnya, jutaan rakyat terhalang untuk menikmati hak mereka atas sumber-sumber kekayaan tersebut yang sejatinya adalah milik mereka . Di sisi lain rakyat seolah dibiarkan untuk hidup mandiri. Penguasa/negara lebih banyak berlepas tangan ketimbang menjamin kebutuhan hidup rakyatnya. Di bidang kesehatan, misalnya, rakyat diwajibkan membayar iuran BPJS setiap bulan. Artinya, warga sendiri yang menjamin biaya kesehatan mereka, bukan negara.
Sudah saatnya kita meninggalkan sistem selain Islam yang telah terbukti mendatangkan musibah demi musibah kepada kita. Saatnya kita kembali pada syariah Islam yang berasal dari Allah SWT. Hanya syariah-Nya yang bisa menjamin keberkahan hidup manusia di dunia maupun akherat. Syariah akan menjadi rahmat bagi mereka (Lihat: QS al-Anbiya’ [21]: 107).
Sudah tidak diragukan lagi penerapan syariah Islam secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan adalah wujud ketakwaan yang hakiki kepada Allah SWT. []

About Post Author