30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Meraih Sukses Semu Ala Kapitalisme

Oleh:
Fika Anjelina S
( Member Akademi Menulis Kreatif dan Aktivis Islam)

Masyarakat dihebohkan dengan beredarnya surat undangan WHO untuk Menteri Kesehatan RI, Terawan di media sosial. Pada surat itu tertulis WHO mengundang Menteri Kesehatan RI, Terawan karena sukses melaksanakan IAR Covid-19 Nasional dan menerapkan pelajaran kritis yang diidentifikasi selama IAR untuk peningkatan respon penyebaran Covid-19. Sontak tersebar narasi di media sosial bahwa WHO mengundang Terawan karena sukses menangani Covid-19 di Indonesia. Benarkah demikian?

Hal senada juga diakui Sekretaris Jenderal Menteri Kesehatan RI yaitu Oscar Primadi menyatakan undangan tersebut sebagai apresiasi terhadap keberhasilan Indonesia di dunia kesehatan. Tentunya ini kesempatan baik, Indonesia sudah dipandang berhasil dalam mengendalikan pandemi dan WHO secara khusus mengundang bapak Menteri Kesehatan bersama Dirjen WHO Tedros untuk sharing dan memberikan informasi bagaimana Indonesia mampu mengendalikan pandemi dengan baik.

Epidemiologi dari Griffith University di Australia, Dicky Budiman mengatakah bahwa tidak yakin undangan WHO kepada Menkes Terawan Agus Putranto terkait keberhasilan penanganan Covid-19 di Indonesia. Undangan tersebut hanya mengakui keberhasilan Indonesia dalam menerapkan kegiatan intra-aksi (intra action review/ IAR) di Indonesia. IAR merupakan kegiatan perencanaan Indonesia dalam menanggulangi pandemi Covid-19. Tujuan IAR adalah agar setiap negara bisa mawas diri terhadap capaian dan kekurangan dalam pengendalian pandemi. Tujuan IAR ini juga tidak semata mendapat pengalaman keberhasilan. Tetapi pengalaman tantangan atau hambatan atau kegagalan dalam menangani Covid-19.
(kompas.com /07/10/2020)

Namun, ketika dikonfirmasi ke pihak WHO, mereka mengklarifikasi bahwa ucapan sukses itu spesifik merujuk ke program IAR saja. Program IAR bisa dilaksanakan secara online. Kegiatan IAR adalah mekanisme monitoring evaluasi terkait salah satu pilar dalam peraturan kesehatan Internasional (IHR) hasil revisi pada tahun 2005. Dalam IAR Covid-19 di Indonesia akan terlihat mana yang sudah diimplementasikan, mana yang masih butuh pengembangan, dan mana yang belum diimplementasikan. Jadi sebenarnya itu bukan pujian terhadap keberhasilan penanganan Covid-19 akan tetapi lebih ke IAR.

Sejak awal negara besar di dunia mengalami kegagalan menghadapi pandemi . Bahkan di awal kemunculannya, negara Eropa dan AS mencatat penambahan dan kematian kasus Covid-19 cukup tinggi. Semua itu tidak lepas dari penanggulangan pandemi global yang bertumpu pada sistem kapitalisme dan sistem politik demokrasi.
Semua kebijakan disandarkan pada manfaat semata. Tak terkecuali dalam penanganan pandemi.

Kapitalisme gagal merespon untuk melakukan intervensi pemutusan rantai penularan secara efektif. Seperti pada kebijakan lockdown total yang seharusnya diterapkan. Pada akhirnya gagal dijalankan dengan baik. Ketika negara-negara menerapkan karantina dan social distancing untuk mengatasi pandemi, maka dunia telah terkunci. Akibatnya dunia mengalami krisis yang cukup parah. Ironisnya negara-negara yang menerapkan sistem kapitalisme mencoba menyelamatkan krisis melalui titah PBB, dengan pemberlakuan mereka mengaruskan “New Normal”.
Mirisnya kebijakan ini berakibat fatal. Karena ratusan juta nyawa dan kesehatan penduduk dunia dipertaruhkan. Inilah puncak kegagalan sistem kapitalisme.

Karena itu untuk mengakhiri pandemi ini, dibutuhkan sistem yang tegak di atas asas yang benar. Yaitu berupa keyakinan bahwa manusia, kehidupan, alam semesta diciptakan oleh Allah Yang Maha Sempurna, Maha Mengetahui, Maha Adil dan Maha Menetapkan Aturan. Itulah sistem Islam dibawah naungan Khilafah Islam.
Solusi Islam dalam mengatasi wabah tidak bisa dilepaskan dari kesempurnaan ajaran Islam. Dalam Islam kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. Rasulullah saw bersabda:
“ Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpin.” (HR. Bukhari)

Dalam Islam, pemimpin haru

s benar-benar berdaya sekuat tenaga mencurahkan segala potensi yang ada. Tampilnya pemimpin dalam ikhtiar penyelesaian wabah adalah bagian dari amanah Allah Swt yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Islam mengajarkan nyawa manusia harus dinomorsatukan. Sebab diantara tujuan syariat adalah menjaga jiwa. Sebagaimana sabda Rasulullah saw
“ Hancurnya dunia lebih ringaan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim tanpa haq” ( HR. an Nasa’I dan at Tirmidzi)

Dengan demikian nyawa manusia harus diutamakan daripada ekonomi , pariwisata atau yang lainnya. Negara dan pemimpin harus memainkan peran yang paling penting dalam menangani wabah untuk menjaga nyawa manusia. Berikut beberapa langkah yang dilakukan khilafah untuk menangani wabah:

Pertama, negara menentukan tes dan tracing dengan cepat. Pemimpin harus melakukan tes dan tracing dengan cepat. Tes dan tracing ini penting sekali apalagi dalam kasus virus corona. Karena penyebaran virus corona ini sangat cepat. Jika negara lamban dalam melakukan tes dan tracing, maka negara membiarkan masyarakat terkena wabah dan semakin banyak yang meninggal. Begitu tes menunjukkan positif harus segera dilakukan tracing. Dalam dua pekan harus dipastikan dia kemana saja dan bertemu dengan siapa saja. Dan orang-orang yang berinteraksi harus dilakukan tes. Begitu seterusnya. Orang yang hasil tes positif harus segera diobati dan diisolasi

Kedua, pusat wabah harus segera ditentukan dengan cepat. Selain itu juga menjaga dengan ketat agar wabah tidak meluas. Saat wabah menyebar, daerah terkena wabah harus segera diisolasi agar wabah tidak menyebar ke tempat yang lain. Tidak ada yang boleh keluar masuk daerah tersebut. Isolasi ini akan efektif jika diputuskan dan dijalankan oleh negara. Rasulullah saw bersabda :

“Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian masuk wilayah tersebut. Sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR. Al Bukhari)

Ketiga, negara harus menjamin semua kebutuhan dasar masyarakat di daerah yang diisolasi. Negara harus benar-benar hadir secara riil. Saat negara melakukan karantina, kebutuhan rakyat harus dipenuhi oleh negara. Negara tidak boleh berlepas tangan. Jika negara tidak mampu memenuhi kebutuhan, pasti rakyat akan melanggar ketentuan isolasi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Keempat, negara harus merawat, mengobati dan melayani orang-orang yang sakit di daerah wabah. Masyarakat yang sakit harus segera diobati dengan oabt-obatan yang berkualitas. Karena hal ini berkaitan dengan nyawa manusia. Dalam kasus virus corona yang belum ada obatnya, daya tahan tubuh pasien harus diperkuat agar pasien dapat melewati masa-masa genting. Dengan demikian presentasi kematian bisa diminimalkan.

Kelima, negara menjaga wilayah lain yang tidak ada wabah sehingga bisa tetap produktif. Inilah pentingnya kehadiran negara. Negara harus memiliki peta yang jelas, mana daerah yang zona merah, kuning atau hijau. Di daerah zona merah, seluruh aktivitas harus diminimalkan. Daerah yang tidak terkena wabah harus dijaga dan ditingkatkan produktivitasnya. Sehingga bisa menopang kebutuhan daerah yang lainnya.

Keenam, negara memperkuat dan meningkatkan sistem kesehatan yakni fasilitas, obat-obatan, SDM dan lain-lain. Karena sistem kesehatan sangat dibutuhkan dalam melakukan pengobatan orang yang terkena virus corona dan melakukan pencegahan.

Ketujuh, negara mendorong para ilmuwan untuk menemukan obat atau vaksin dengan cepat. Dengan adanya vaksin ini bisa mencegah penularan virus dan menguatkan imunitas masyarakat. Harapannya bisa meminimalkan angka kematian karena virus corona.

Demikianlah solusi Islam dalam menangani wabah seperti virus corona ini. Jika ajaran Islam yang sempurna diamalkan secara keseluruhan, maka akan membawa rahmatan lil alamin. Sehingga pandemi ini bisa segera berakhir. Solusi Islam membawa kebaikan keberkahan dari langit dan bumi karena berdasarkan aturan Allah Swt. Sedangkan aturan manusia hanya membawa petaka dunia akhirat. Sudah saatnya kita kembali pada aturan Islam yang sempurna dan paripurna.

Wallahu a’lam bishshawab.

Masyarakat dihebohkan dengan beredarnya surat undangan WHO untuk Menteri Kesehatan RI, Terawan di media sosial. Pada surat itu tertulis WHO mengundang Menteri Kesehatan RI, Terawan karena sukses melaksanakan IAR Covid-19 Nasional dan menerapkan pelajaran kritis yang diidentifikasi selama IAR untuk peningkatan respon penyebaran Covid-19. Sontak tersebar narasi di media sosial bahwa WHO mengundang Terawan karena sukses menangani Covid-19 di Indonesia. Benarkah demikian?

Hal senada juga diakui Sekretaris Jenderal Menteri Kesehatan RI yaitu Oscar Primadi menyatakan undangan tersebut sebagai apresiasi terhadap keberhasilan Indonesia di dunia kesehatan. Tentunya ini kesempatan baik, Indonesia sudah dipandang berhasil dalam mengendalikan pandemi dan WHO secara khusus mengundang bapak Menteri Kesehatan bersama Dirjen WHO Tedros untuk sharing dan memberikan informasi bagaimana Indonesia mampu mengendalikan pandemi dengan baik.

Epidemiologi dari Griffith University di Australia, Dicky Budiman mengatakah bahwa tidak yakin undangan WHO kepada Menkes Terawan Agus Putranto terkait keberhasilan penanganan Covid-19 di Indonesia. Undangan tersebut hanya mengakui keberhasilan Indonesia dalam menerapkan kegiatan intra-aksi (intra action review/ IAR) di Indonesia. IAR merupakan kegiatan perencanaan Indonesia dalam menanggulangi pandemi Covid-19. Tujuan IAR adalah agar setiap negara bisa mawas diri terhadap capaian dan kekurangan dalam pengendalian pandemi. Tujuan IAR ini juga tidak semata mendapat pengalaman keberhasilan. Tetapi pengalaman tantangan atau hambatan atau kegagalan dalam menangani Covid-19.
(kompas.com /07/10/2020)

Namun, ketika dikonfirmasi ke pihak WHO, mereka mengklarifikasi bahwa ucapan sukses itu spesifik merujuk ke program IAR saja. Program IAR bisa dilaksanakan secara online. Kegiatan IAR adalah mekanisme monitoring evaluasi terkait salah satu pilar dalam peraturan kesehatan Internasional (IHR) hasil revisi pada tahun 2005. Dalam IAR Covid-19 di Indonesia akan terlihat mana yang sudah diimplementasikan, mana yang masih butuh pengembangan, dan mana yang belum diimplementasikan. Jadi sebenarnya itu bukan pujian terhadap keberhasilan penanganan Covid-19 akan tetapi lebih ke IAR.

Sejak awal negara besar di dunia mengalami kegagalan menghadapi pandemi . Bahkan di awal kemunculannya, negara Eropa dan AS mencatat penambahan dan kematian kasus Covid-19 cukup tinggi. Semua itu tidak lepas dari penanggulangan pandemi global yang bertumpu pada sistem kapitalisme dan sistem politik demokrasi.
Semua kebijakan disandarkan pada manfaat semata. Tak terkecuali dalam penanganan pandemi.

Kapitalisme gagal merespon untuk melakukan intervensi pemutusan rantai penularan secara efektif. Seperti pada kebijakan lockdown total yang seharusnya diterapkan. Pada akhirnya gagal dijalankan dengan baik. Ketika negara-negara menerapkan karantina dan social distancing untuk mengatasi pandemi, maka dunia telah terkunci. Akibatnya dunia mengalami krisis yang cukup parah. Ironisnya negara-negara yang menerapkan sistem kapitalisme mencoba menyelamatkan krisis melalui titah PBB, dengan pemberlakuan mereka mengaruskan “New Normal”.
Mirisnya kebijakan ini berakibat fatal. Karena ratusan juta nyawa dan kesehatan penduduk dunia dipertaruhkan. Inilah puncak kegagalan sistem kapitalisme.

Karena itu untuk mengakhiri pandemi ini, dibutuhkan sistem yang tegak di atas asas yang benar. Yaitu berupa keyakinan bahwa manusia, kehidupan, alam semesta diciptakan oleh Allah Yang Maha Sempurna, Maha Mengetahui, Maha Adil dan Maha Menetapkan Aturan. Itulah sistem Islam dibawah naungan Khilafah Islam.
Solusi Islam dalam mengatasi wabah tidak bisa dilepaskan dari kesempurnaan ajaran Islam. Dalam Islam kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. Rasulullah saw bersabda:
“ Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpin.” (HR. Bukhari)

Dalam Islam, pemimpin haru

s benar-benar berdaya sekuat tenaga mencurahkan segala potensi yang ada. Tampilnya pemimpin dalam ikhtiar penyelesaian wabah adalah bagian dari amanah Allah Swt yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Islam mengajarkan nyawa manusia harus dinomorsatukan. Sebab diantara tujuan syariat adalah menjaga jiwa. Sebagaimana sabda Rasulullah saw
“ Hancurnya dunia lebih ringaan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim tanpa haq” ( HR. an Nasa’I dan at Tirmidzi)

Dengan demikian nyawa manusia harus diutamakan daripada ekonomi , pariwisata atau yang lainnya. Negara dan pemimpin harus memainkan peran yang paling penting dalam menangani wabah untuk menjaga nyawa manusia. Berikut beberapa langkah yang dilakukan khilafah untuk menangani wabah:

Pertama, negara menentukan tes dan tracing dengan cepat. Pemimpin harus melakukan tes dan tracing dengan cepat. Tes dan tracing ini penting sekali apalagi dalam kasus virus corona. Karena penyebaran virus corona ini sangat cepat. Jika negara lamban dalam melakukan tes dan tracing, maka negara membiarkan masyarakat terkena wabah dan semakin banyak yang meninggal. Begitu tes menunjukkan positif harus segera dilakukan tracing. Dalam dua pekan harus dipastikan dia kemana saja dan bertemu dengan siapa saja. Dan orang-orang yang berinteraksi harus dilakukan tes. Begitu seterusnya. Orang yang hasil tes positif harus segera diobati dan diisolasi

Kedua, pusat wabah harus segera ditentukan dengan cepat. Selain itu juga menjaga dengan ketat agar wabah tidak meluas. Saat wabah menyebar, daerah terkena wabah harus segera diisolasi agar wabah tidak menyebar ke tempat yang lain. Tidak ada yang boleh keluar masuk daerah tersebut. Isolasi ini akan efektif jika diputuskan dan dijalankan oleh negara. Rasulullah saw bersabda :

“Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian masuk wilayah tersebut. Sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR. Al Bukhari)

Ketiga, negara harus menjamin semua kebutuhan dasar masyarakat di daerah yang diisolasi. Negara harus benar-benar hadir secara riil. Saat negara melakukan karantina, kebutuhan rakyat harus dipenuhi oleh negara. Negara tidak boleh berlepas tangan. Jika negara tidak mampu memenuhi kebutuhan, pasti rakyat akan melanggar ketentuan isolasi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Keempat, negara harus merawat, mengobati dan melayani orang-orang yang sakit di daerah wabah. Masyarakat yang sakit harus segera diobati dengan oabt-obatan yang berkualitas. Karena hal ini berkaitan dengan nyawa manusia. Dalam kasus virus corona yang belum ada obatnya, daya tahan tubuh pasien harus diperkuat agar pasien dapat melewati masa-masa genting. Dengan demikian presentasi kematian bisa diminimalkan.

Kelima, negara menjaga wilayah lain yang tidak ada wabah sehingga bisa tetap produktif. Inilah pentingnya kehadiran negara. Negara harus memiliki peta yang jelas, mana daerah yang zona merah, kuning atau hijau. Di daerah zona merah, seluruh aktivitas harus diminimalkan. Daerah yang tidak terkena wabah harus dijaga dan ditingkatkan produktivitasnya. Sehingga bisa menopang kebutuhan daerah yang lainnya.

Keenam, negara memperkuat dan meningkatkan sistem kesehatan yakni fasilitas, obat-obatan, SDM dan lain-lain. Karena sistem kesehatan sangat dibutuhkan dalam melakukan pengobatan orang yang terkena virus corona dan melakukan pencegahan.

Ketujuh, negara mendorong para ilmuwan untuk menemukan obat atau vaksin dengan cepat. Dengan adanya vaksin ini bisa mencegah penularan virus dan menguatkan imunitas masyarakat. Harapannya bisa meminimalkan angka kematian karena virus corona.

Demikianlah solusi Islam dalam menangani wabah seperti virus corona ini. Jika ajaran Islam yang sempurna diamalkan secara keseluruhan, maka akan membawa rahmatan lil alamin. Sehingga pandemi ini bisa segera berakhir. Solusi Islam membawa kebaikan keberkahan dari langit dan bumi karena berdasarkan aturan Allah Swt. Sedangkan aturan manusia hanya membawa petaka dunia akhirat. Sudah saatnya kita kembali pada aturan Islam yang sempurna dan paripurna.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author